online

rank

pengunjung web site

Flag Counter

blogger unair

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

PROGRAM KERJA BIMBINGAN KONSELING

Oleh Admin 21-10-2015 02:18:05

BAB I

PENDAHULUAN

 

Pengantar

 

Program bimbingan dan konseling (BK) merupakan bagian yang terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, upaya guru pembimbing maupun berbagai aspek yang terlingkup dalam program merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh kegiatan yang diarahkan kepada pencapaian tujuan pendidikan di lembaga yang bersangkutan.

 

Sebagai bagian yang terpadu, program bimbingan dan konseling diarahkan kepada upaya yang memfasilitasi siswa asuh mengenal dan menerima dirinya sendiri serta lingkungannya secara positif dan dinamis, dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, mengembangkan serta mewujudkan diri secara efektif dan produktif, sesuai dengan peranan yang diinginkan di masa depan serta menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya.

 

Peserta didik sebagai individu sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, peserta didik memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Di samping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan individu tidak selalu berlangsung secara mulus, atau steril dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut. Untuk itulah perlu disusun suatu program bimbingan dan konseling yang dirancang secara baik agar mampu menfasilasi individu kearah kematangan dan kemandirian, yang meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir.

 

Kompetensi

Kompetensi yang diharapkan dari paparan mata taran ini adalah agar guru pembimbing mempunyai kemampuan mengembangkan program bimbingan dan konseling.

 

Sub Kompetensi dan Indikator

 

            Dengan paparan mata tataran ini diharapkan guru pembimbing mampu :

1.   Menyusun program bimbingan dan konseling yang komprehensif

  • Menetapkan tujuan program bimbingan dan konseling
  • Mengkomunikasikan program bimbingan dan konseling kepada pimpinan dan guru

·        Merumuskan komponen program

·        Memilih dan menetapkan strategi, pendekatan, atau teknik secara adekuat

·        Merumuskan materi layanan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan

·        Menetapkan sasaran layanan

·        Menetapkan sekuensi dan jadwal layanan

·        Merancang anggaran biaya  penyelenggaraan program

·        Memadukan program bimbingan dan konseling sebagai bagian integral program sekolah

2.   Mengelola program bimbingan dan konseling

  • Melaksanakan strategi layanan bimbingan dan konseling
  • Mengembangkan jejaring (network) layanan bimbingan dan konseling
  • Mengelola administrasi bimbingan dan konseling

3.   Mengevaluasi program bimbingan dan konseling

  • Menjelaskan peranan atau fungsi evaluasi dalam proses pengembangan program
  • Menjelaskan tujuan evaluasi program
  • Merancang evaluasi program
  • Menyusun instrumen untuk mengevaluasi program
  • Melakukan kegiatan evaluasi program
  • Menganalisis hasil evaluasi program

4.   Memanfaatkan hasil evaluasi untuk mengembangkan program bimbingan dan konseling

  • Merancang tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi
  • Melakukan perbaikan atau pengembangan program berdasarkan hasil evaluasi

 

Strategi

Pelatihan dilaksanakan melalui strategi kegiatan  sebagai berikut.

  1. Ceramah
  2. Diskusi kelompok atau kelas
  3. Simulasi
  4. Pengerjaan tugas-tugas, terutama latihan menyusun rumusan program BK
  5. Refleksi

 

 

BAB II

PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING

 

            Program bimbingan dan konseling (BK) merupakan isi dari keseluruhan organisasi BK di sekolah. Program itu perlu disusun dengan memperhatikan kondisi yang terdapat di lapangan.

 

Pengertian Program Bimbingan dan Konseling

 

            Program bimbingan dan konseling diartikan seperangkat kegiatan bimbingan dan konseling yang dirancang secara terencana, terorganisasi, terkoordinasi selama periode waktu tertentu dan dilakukan secara kait mengait untuk mencapai tujuan.

            Pengurus Besar IPBI (2001:2) mendefinisikan program bimbingan dan konseling sebagai satuan rencana keseluruhan kegiatan bimbingan dan konseling yang akan dilaksanakan pada periode waktu tertentu, seperti periode bulanan, semester, tahunan. Sedangkan menurut Wahyu Sumidjo (1999:9) yang dimaksud dengan program ialah rencana komprehensif yang memuat penggunaan sumber-sumber dalam pola yang terintegrasi serta urutan tindakan kegiatan yang dijadwalkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Program menggariskan apa, oleh siapa, bilamana dan dimana tindakan akan dilakukan.

 

 

B.  Tujuan Penyusunan Program

 

Tujuan penyusunan program tidak lain agar kegiatan BK di sekolah dapat terlaksana dengan lancar, efektif dan efisien, serta hasil-hasilnya dapat dinilai. Tersusun dan terlaksananya program BK dengan baik akan lebih menjamin pencapaian tujuan kegiatan pada khususnya, tujuan sekolah pada umumnya, juga akan lebih menegakkan akontabilitas BK di sekolah. Menurut Juntika (2002:85) tujuan penyusunan program bimbingan dan konseling adalah adanya kejelasan arah pelaksanaan program, adanya kemudahan mengontrol dan mengevaluasi kegiatan, dan terlaksananya program kegiatan secara lancar, efisien, dan efektif.

            Sedangkan menurut Pengurus Besar IPBI (2001:3) tujuan penyusunan program bimbingan dan konseling ialah agar Guru Pembimbing memiliki pedoman yang pasti dan jelas, sehingga kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah dapat terlaksana dengan lancar, efektif dan efisien, serta hasil-hasilnya dapat dinilai.

            Program bimbingan dan konseling tersebut hendaknya dibuat secara tertulis dan selanjutnya dikomunikasikan kepada sesama Guru Pembimbing, sejawat dan guru, staf sekolah lainnya, serta pimpinan sekolah, untuk selanjutnya menjadi rambu-rambu bagi kerja sama antara Guru Pembimbing dengan semua personil-personil sekolah yang dimaksudkan itu.

 

C.  Manfaat Penyusunan Program

 

            Program bimbingan dan konseling disusun dan dikembangkan didasarkan atas pertimbangan bahwa program yang disusun dengan baik akan memberikan banyak keuntungan, baik bagi para siswa yang mendapat layanan bimbingan dan konseling maupun bagi petugas yang menyelenggarakan. Di samping itu program bimbingan dan konseling yang baik, memungkinkan keberhasilan suatu layanan bimbingan dan konseling. Prayitno (2000) mengemukakan beberapa keuntungan disusunnya suatu program, yaitu :

  1. Memungkinkan Guru Pembimbing untuk menghemat waktu, usaha, biaya, dengan menghindarkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi, dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan.
  2. Siswa asuh akan menerima pelayanan bimbingan dan konseling secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam hal kesempatan, bidang bimbingan dan jenis-jenis layanan bimbingan yang diperlukan.
  3. Setiap Guru Pembimbing mengetahui peranannya masing-masing dan mengetahui pula bilamana dan dimana harus bertindak, dalam pada itu Guru Pembimbing akan menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan untuk kepentingan siswa-siswa asuhnya.

 

            Sedangkan Rochman Natawidjaja (1984) menjelaskan bahwa program bimbingan yang direncanakan dengan baik dan terinci, akan memberikan banyak keuntungan. Keuntungan-keuntungan tersebut adalah :

(a)  memungkinkan para petugas bimbingan menghemat waktu, usaha, biaya dengan menghindarkan kesalahan-kesalahan dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan,

(b) memungkinkan siswa untuk mendapatkan pelayanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam kesempatan ataupun dalam jenis pelayanan bimbingan yang diperlukan,

(c) memungkinkan setiap petugas mengetahui dan memahami peranannya dan mengetahui bagaimana dan dimana mereka harus melakukan upaya secara tepat,

(d) memungkinkan para petugas untuk menghayati pengalaman yang berguna untuk kemajuan sendiri dan untuk kepentingan para siswa yang dibimbingnya.

 

D.  Unsur dan Syarat Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling

 

            Dalam penyusunan program bimbingan dan konseling diharapkan memenuhi unsur-unsur dan persyaratan tertentu. Menurut Prayitno (1998) unsur-unsur yang harus diperhatikan dan menjadi isi program bimbingan dan konseling meliputi : kebutuhan siswa, jumlah siswa yang dibimbing, kegiatan di dalam dan di luar jam belajar sekolah, jenis bidang bimbingan dan jenis layanan, volume kegiatan BK, dan frekuensi layanan terhadap siswa. Sedangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam penyusunan program bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:

(a) Berdasarkan kebutuhan bagi pengembangan peserta didik sesuai dengan kondisi pribadinya, serta jenjang dan jenis pendidikannya.

(b) Lengkap dan menyeluruh, artinya memuat segenap fungsi bimbingan. Kelengkapan program ini disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan.

(c) Sistematik, dalam arti program disusun menurut urutan logis, tersinkronisasi dengan menghindari tumpang tindih yang tidak perlu, serta dibagi-bagi secara logis.

(d) Terbuka dan luwes, artinya mudah menerima masukan untuk pengembangan dan penyempurnaan, tanpa harus merombak program itu secara menyeluruh.

(e) Memungkinkan kerja sama dengan fihak yang terkait dalam rangka sebesar-besarnya memanfaatkan berbagai sumber dan kemudahan yang tersedia bagi kelancaran dan keberhasilan pelayanan BK.

(f). Memungkinkan diselenggarakannya penilaian dan tindak lanjut untuk penyempurnaan program pada khususnya dan peningkatan keefektifan dan keefisienan penyelenggaraan program BK pada umumnya.

 

            Sedangkan menurut Kaufan, F. W. Miller dalam Natawidjaja menyebutkan bahwa suatu program dikatakan baik jika memenuhi persyaratan sebagai  berikut :

  1. Program itu disusun dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata dari para siswa sekolah yang bersangkutan.
  2. Kegiatan bimbingan diatur menurut skala prioritas yang juga ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dan kemampuan petugas.
  3. Program itu dikembangkan berangsur-angsur, dengan melibatkan semua tenaga kependidikan di sekolah dalam merencanakannya.
  4. Program itu memiliki tujuan yang ideal, tetapi realistik dalam pelaksanaannya.
  5. Program itu mencerminkan komunikasi yang berkesinambungan diantara semua anggota staf pelaksananya.
  6. Menyediakan fasilitas yang diperlukan.
  7. Penyusunan disesuaikan dengan program pendidikan di lingkungan sekolah yang bersangkutan.
  8. Memberikan kemungkinan pelayanan semua siswa.
  9. Memperlihatkan peranan yang penting dalam menghubungkan dan memadukan sekolah dengan masyarakat.
  10. Berlangsung sejalan dengan proses penilaian diri, baik mengenai program itu sendiri maupun kemajuan pengetahuan, keterampilan dan sikap petugas pelaksanaanya.
  11. Program itu hendaknya menjamin keseimbangan dan kesinambungan seluruh pelayanan bimbingan.

 

 

E.   Tahap-tahap Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling

 

            Suatu program hendaknya disusun dengan baik. Untuk menyusun suatu program bimbingan dan konseling memerlukan langkah-langkah yang bersifat menyeluruh dan terintegral. Harold J. Burbach & Larry E. Decker (1977:198) mengemukakan langkah-langkah dalam suatu perencanaan sebagai berikut :

a.   Menentukan tujuan yang akan dicapai

b.   Menganalisis tentang sumber-sumber dan kendala yaitu yang berhubungan dengan personil, sikap, biaya, peraturan-peraturan, fasilitas dan waktu.

c.   Menganalisis tentang kebutuhan-kebutuhan

d.   Menentukan tujuan-tujuan yang lebih spesifik dan dapat diukur.

e.   Menentukan prioritas.

f.    Menentukan strategi-strategi dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan tujuan-tujuan yang spesifik.

g.   Mengadakan evaluasi terhadap perencanaan yang mencakup (a) untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan yang telah dicapai, dan (b) untuk melihat sejauh mana kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan itu dilaksanakan.

h.   Mengadakan beberapa perubahan yang perlu untuk perbaikan program.

 

            Sedangkan Yoseph W. Holis (1965:23-24) menjelaskan bahwa langkah-langkah penyusunan program bimbingan dan konseling yang baik agar efektif, ada beberapa bentuk yang harus dilakukan, yaitu:

(a)   Mengidentifikasi kebutuhan,

(b) Studi mengenal layanan bimbingan yang telah ada dan mengembangkan pedoman kegiatan untuk layanan yang baru atau layanan yang diperbaharui lagi,

(c)   Menetapkan cara-cara untuk mengumpulkan data dan menyebarkan data,

(d)   Memodifikasi program,

(e)   Seleksi tipe organisasi bimbingan dan konseling dan menetapkan peranan tenaga pelaksana,

(f) Menyeleksi koordinator dan pimpinan masing-masing bagian program layanan bimbingan dan konseling,

(g)   Menetapkan fasilitas yang memadai,

(h)   Pemeliharaan catatan dan laporan yang memadai dalam seluruh kegiatan layanan bimbingan dari setiap individu,

(h)   Pendidikan in-service bagi rekan sekerja (sejawat),

(i)    Memanfaatkan sumber daya masyarakat dan referal, dan

(j)    Menyusun alokasi dan biaya kegiatan bimbingan.

 

            Mencermati proses perencanaan program bimbingan dan konseling tersebut di atas, maka dalam penyusunan program bimbingan dan konseling ada beberapa aspek yang seharusnya mendapatkan penekanan, yaitu (a) tujuan, (b) kebutuhan-kebutuhan siswa, (c) materi dan kegiatan layanan yang diberikan, (d) kegiatan evaluasi, (d) sumber daya manusia, dan (e) sarana dan prasarana.

 

F.   Jenis Program

 

Program bimbingan dan konseling yang perlu dibuat guru pembimbing guna merencanakan kegiatan bimbingan antara lain :

  1. Program harian, yaitu program yang langsung diadakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu.
  2. Program mingguan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh untuk kurun waktu satu minggu tertentu dalam satu bulan.
  3. Program bulanan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh untuk kurun waktu satu bulan tertentu dalam satu cawu.
  4. Program semester, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh untuk kurun waktu satu semester tertentu dalam satu tahun ajaran.
  5. Program Tahunan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh untuk kurun waktu satu tahun tertentu dalam satu jenjang sekolah.

            Kelima jenis program tersebut satu sama lain saring terkait. Program tahunan didalamnya meliputi program semester, program semester didalamnya meliputi program bulanan, program bulanan didalam meliputi agenda mingguan, dan agenda mingguan didalamnya meliputi agenda harian. Agenda harian ini merupakan jabaran dari agenda mingguan guru pembimbing pada kelas yang diasuhnya. Agenda ini dibuat secara tertulis pada buku agenda yang berupa satuan layanan dan atau satuan pendukung.

 

G. Unsur-unsur Program Bimbingan dan Konseling

 

            Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode disusun dengan memperhatikan unsur-unsur :

1.    Kebutuhan siswa yang diketahui melalui pengungkapan masalah dan data yang terdapat di dalam himpunan data.

2.   Jumlah siswa asuh yang wajib dibimbing :

      Guru Pembimbing 150 orang  (minimal) sampai 225 orang (maksimal) sesuai SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No. 25 tahun 1993. Kepala Sekolah yang berasal dari Guru Pembimbing 40  orang, dan Wakil Kepala Sekolah yang berasal dari Guru Pembimbing 75 orang.

3.   Bidang-bidang bimbingan : pribadi, sosial, belajar, dan karir.

4.   Jenis-jenis layanan : layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konsultasi dan mediasi.

5.   Kegiatan pendukung : aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus.

6.   Volume kegiatan yang diperkirakan antara 4% s.d. 25% pada kegiatan berikut diatur secara porposional : Kegiatan layanan terdiri : layanan orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan pembelajaran, layanan konseling perorangan, layanan bimbingan kelompok, layanan konseling kelompok, layanan konsultasi, dan layanan mediasi. Dan kegiatan pendukung terdiri : aplikasi instrumentasi, himpunan data *),         konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus **)

      Kegiatan ini semua tergantung pada kondisi sekolah, kebutuhan dan masalah.

7.   Frekuensi layanan : guru pembimbing dalam satu minggu wajib memberikan minimal sembilan kali kegiatan layanan bimbingan dan konseling.

8.   Lama kegiatan : setiap kegiatan (kegiatan layanan dan pendukung) berlangsung sesuai dengan kebutuhan.

9.   Waktu kegiatan : kegiatan layanan dan pendukung dilaksanakan pada :

(1)   jam pelajaran sekolah, digunakan khusus untuk format klasikal

(2)   di luar jam pelajaran sekolah sampai 50 % dari seluruh kegiatan bimbingan dan konseling, sesuai dengan SK Mendikbud No. 025/ O/1995 (lihat Lampiran 1), untuk kegiatan format lapangan, kelompok, individual dan ”politik”.

10.  Kegiatan khusus : pada semester pertama setiap tahun ajaran baru diselenggarakan layanan orientasi kelas/sekolah, dan himpunan data bagi siswa baru.

11.  Ekuifalensi : setiap kali penyelenggaraan jenis layanan/kegiatan pendukung bimbingan dan konseling diakui setara dengan 2 jam pelajaran. Dengan demikian guru pembimbing melaksanakan minimal sembilan kali layanan atau kegiatan pendukung yang setara dengan 18 jam pelajaran per minggu.

 

 

BAB III

PENYUSUNAN PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING

 

            Program pelayanan bimbingan dan konseling disusun berdasarkan kebutuhan, lengkap dan menyeluruh, sistematik, terbuka dan luwes, memungkinkan bekerja sama, dan memungkinkan diselenggarakannya penilaian dan tindak lanjut.

 

Analisis Kebutuhan

 

Guru pembimbing perlu mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan peserta didik yang terkait dengan tugas-tugas dan tingkat perkembangannya. Sebelum merumuskan program bimbingan dan konseling, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan, yaitu : (1) mengkaji kebutuhan atau masalah peserta didik yang nyata di lapangan, dan (2) mengkaji harapan peserta didik, sekolah dan masyarakat terhadap materi bimbingan dan konseling. Kebutuhan atau masalah siswa dapat diidentifikasi melalui (1) karakteristik siswa, seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, temperamen (periang, pendiam, pemurung, atau mudah tersinggung), dan karakternya (seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab); dan (2) harapan peserta didik, sekolah, dan masyarakat dapat dianalisis dari tugas-tugas perkembangan yang dijabarkan dalam rumusan kompetensi dan materi pengembangan kompetensi dalam pengembangan silabus.

 

Perumusan Tujuan

 

Tujuan merupakan pernyataan yang menggambarkan hasil yang diharapkan, atau sesuatu yang ingin dicapai melalui berbagai kegiatan yang diprogramkan. Tujuan bimbingan dan konseling merupakan pernyataan yang menggambarkan kualitas perilaku atau pribadi siswa yang diharapkan berkembang melalui berbagai strategi layanan kegiatan yang diprogramkan.

 

Pengembangan Materi Bimbingan dan Konseling

 

              Pengembangan materi bimbingan dan konseling dilakukan setelah kita mengetahui materi yang akan diberikan oleh peserta didik melalui analisis kebutuhan materi bimbingan dan konseling. Pengembangan materi bimbingan dan konseling dimaksudkan sebagai acuan guru dalam memberikan kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.

            Pengembangan materi adalah segala bentuk pengembangan bahan yang digunakan untuk membantu guru pembimbing dalam melaksanakan kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Bahan bimbingan dimaksud bisa berupa bahan bimbingan tertulis maupun bahan bimbingan tidak tertulis. Bahan bimbingan yang dimaksud adalah seperangkat materi bimbingan dan konseling yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari bentuk kompetensi yang ada pada diri peserta didik sehingga guru pembimbing dapat memberikan perlakuan lebih lanjut terhadap kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik.

            Pengembangan materi merupakan hal penting yang harus dilakukan guru pembimbing. Pengembangan materi bertujuan untuk :

1.   Memperkaya informasi yang diperlukan dalam menyusun materi layanan bimbingan dan konseling.

2.   Dapat digunakan sebagai pedoman dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling.

3.   Memudahkan bagi peserta didik untuk mempelajari suatu kompetensi tertentu

            Agar pengembangan materi bermakna, maka guru pembimbing dituntut untuk dapat secara kreatif mendesain suatu materi yang memungkinkan peserta didik dapat secara langsung memanfaat bentuk pengembangan materi tersebut.

 

Perumusan Kegiatan Layanan dan Kegiatan Pendukung

 

            Setelah materi bimbingan dan konseling tersusun maka langkah selanjunya adalah menentukan kegiatan layanan dan pendukung apa yang akan digunakan dalam pemberian layanan materi bimbingan dan konseling.