online

rank

pengunjung web site

Flag Counter

blogger unair

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

PENDIDIKAN INKLUSIF:

Oleh Admin 21-10-2015 02:25:16

PENDIDIKAN INKLUSIF: BEBERAPA IMPLIKASI TERHADAP PENGELOLAAN SEKOLAH DAN AKTIVITAS

BIMBINGAN DAN KONSELING


Oleh Mudjito AK

Direktur PLB Ditjen Dikdasmen


Pendahuluan

Kebijakan pemerintah dalam penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun pada dasarnya disemangati oleh seruan Intemasional Education for All (EFA) yang dikumandangkan UNESCO. Sebagai kesepakatan global hasil World Education Forum di Dakar, Sinegal tahun 2000, bahwa penuntasan EFA diharapkan tercapai pada tahun 2015. Seruan ini senafas dengan semangat dan jiwa pasal 31 Undang-undang Dasar 1945 tentang hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan dan pasal 32 LJUSPN Nomor 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus. Sementara itu pemerataan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus dilandasi dengan pemyataan Salamanca tahun 1994. Pemyataan Salamanca ini merupakan perluasan tujuan Education for All dengan mempertimbangkan pergeseran kebijakan mendasar yang diperlukan untuk menggalakkan pendekatan pendidikan inklusif. Demikianjuga diperkuat oleh Deklarasi tentang Indonesia Menuju Pendidikan Inklusifyang dicetuskan di Bandung, 11 Agustus 2004. Pendidikan inklusif diharapkan mampu mendorong sekolah-sekolah reguler dapat melayani semua anak, terutama mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Pendidikan Inklusif merupakan wadah yang sangat ideal, yang diharapkan dapat mengakomodasi pendidikan bagi semua terutama anak-anak berkebutuhan khusus yang selama ini masih belum terpenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan sebagaimana layaknya anak-anak lain. Walaupun demikian pendidikan inklusif secara berangsur-angsur sudah mulai diterima sebagai bagian dari upaya yang memiliki nilai strategis dalam mengembangkan kebijakan pendidikan nasional. Bahasan lebih lanjut menitikberatkan pada makna pendidikan inklusif, implikasi bagi pengelolaan sekolah, dan kegiatan bimbingan dan konselingnya. Makna Pendidikan Inklusif Apa itu inklusi atau pendidikan inklusif? Berdasarkan definisi pragmatik, inklusi adalah suatu sikap - suatu nilai dan sistem keyakinan (belie/system) - bukan suatu tindakan atau seperangkat tindakan. Sekali. Kata include berimplikasi menjadi bagian dari sesuatu, menyatu dengan keseluruhan. Exclude, lawan kata include, yang berarti menjauhkan, melepas, atau memisahkan. Definisi ini mulai memaknai gerakan yang tumbuh dalam membangun sekolah inklusif. Yang sungguh menarik dapat diambil pelajaran yaitujawaban terhadap seseorang jika dihadapkan pada kejadian hidup yang terkait dengan kondisi include dan exclude. Responden memiliki perasaan yang berbedajika dalam kondisi include dan exclude. Jika mereka berada dalam keadaan exclude, maka perasaan yang muncul, di antaranya: marah, terluka, frustasi, kesepian, berbeda, bingung, terpisah, inferior, tak berharga, di bawah standar, tidak diinginkan, tidak diterima, tertutup, dan malu. Sebaliknya jika mereka berada dalam kondisi include, maka perasaan yang dapat muncul, di antaranya: bangga, aman, merasa spesial, nyaman, terhargai, percaya, bahagia, senang sekali, terpercaya, disukai, diterima, diapresiasi, didukung, dicintai, terbuka, positif, penting, dan tanggungjawab. Berdasarkan gambaran emosi yang terkait dengan exclude dan include, maka nampak tak seorangpun yang menyukai ^-exclude. Dengan begitu pendidikan inklusif adalah tentang merangkul semua, membuat komitmen untuk melakukan apapun yang mampu membekai setiap siswa hidup di tengah-tengah masyarakat - dan setiap warga negara dalam suatu negara yang menjunjung tinggi demokrasi — suatu hak yang tak bisa dialiniasi untuk memiliki. Inklusi berasumsi bahwa hidup dan belajar bersama adalah suatu cara yang lebih baik, yang dapat memberikan keuntungan bagi setiap orang, bukan hanya anak-anak yang diberi label sebagai yang memiliki suatu perbedaan (mis. Gifted, disability). Salah sata karakteristik terpenting dari sekolah yang inklusif adalah adanya satu komunitas yang kohesif—yang menerima dan merespon terhadap setiap kebutuhan individual siswa. Dengan demikian, sekolah inklusif akan menjadi lingkungan yang ramah bagi siswa untuk belajar (learning-friendly environment). Lingkungan sekolah seperti ini sekarang menjadi trend global dan diratifikasi ke dalam berbagai instrumen internasional. Selama ini, istilah "inklusif diartikan dengan mengikutsertakan anak berkelainan di kelas regular bersama dengan anak-anak lainnya. Pemahaman tersebut, sebagian benar sebab dalam kenyataannya inklusif memang mengikutsertakan anak berkelainan seperti anak yang memiliki kesulitan melihat atau mendengar, yang tidak dapat berjalan atau yang lebih lamban dalam belajar. Tapi, sebenarnya inklusif mempunyai arti yang lebih luas lagi, yaitu perubahan praktis yang bisa kita lakukan sehingga anak dengan beragam latar belakang dan kemampuan bisa berhasil. Perubahan ini tidak hanya bermakna bagi anak yang sering tersisihkan seperti anak berkebutuhan khusus, tapi semua anak dan orangtuanya, semua guru dan administrator sekolah, dan setiap anggota masyarakat yang bekerja dengan sekolah . Lingkungan belajar yang inklusif dan ramah untuk belajar telah diupayakan oleh berbagai pihak sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Mereka berupaya menjadikan sekolah yang ramah terhadap anak dimana anak memiliki hak untuk belajar dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin di dalam lingkungan yang aman dan menerima anak secara terbuka. Tujuannya untuk meningkatkan partisipasi dan pembelajaran pada setiap anak. Menjadi ramah terhadap anak itu memang penting, akan tetapi hal itu belum bermakna apabila keterlibatan dan partisipasi semua elemen dalam pembelajaran itu tidak tercipta dengan baik. Anak datang ke sekolah untuk belajar, tapi harap diingat bahwa sebenarnya guru juga ikut belajar. Dalam interaksi ini guru memperoleh hal yang baru tentang cara mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan agar seluruh peserta didik dapat belajar secara optimal. Inklusi dapat dipandang sebagai suatu proses untuk menjawab dan merespon keragaman di antara semua individu melalui peningkatan partisipasi dalam belajar, budaya dan masyarakat, dan mengurangi eksklusi baik dalam maupun dari kegiatan pendidikan. Inklusi melibatkan perubahan dan modifikasi isi, pendekatan, struktur dan strategi, dengan suatu visi bersama yang meliput semua anak yang berada pada rentangan usia yang sama dan suatu keyakinan bahwa inklusi adalah tanggungjawab sistem regular yang mendidik semua anak (UNESCO, 1994). Pendidikan inklusif berkenaan dengan memberikan respon yang sesuai kepada spektrum yang luas dari kebutuhan belajar baik dalam setting pendidikan formal maupun nonfonnal. Pendidikan inklusi merupakan pendekatan yang memperhatikan bagaimana mentransformasikan sistem pendidikan sehingga mampu merespon keragaman siswa. Pendidikan inklusif bertujuan dapat memungkinkan guru dan siswa untuk merasa nyaman dengan keragaman dan memilhatnya lebih sebagai suatu tantangan dan pengayaan dalam lingkungan belajar, daripada suatu problem. Pearpoint and Forest (1992) menjelaskan nilai penting yang melandasi suatu sekolah inklusif adalah Penerimaan, Pemilikan, dan Komunitas atau the ABCs (Acceptance, Belonging, and Community) dan Membaca, Menulis, dan Hubungan atau the three Rs (Reading, Writing, and Relationships). Sekolah inklusif menilai interdependence sama pentingnya dengan independence. Sekolah inklusif menilai siswa, staf, guru, dan orangtua sebagai suatu komunitas pembelajar. Suatu sekolah inklusif memandang setiap anak adalah gifted. Sekolah inklusif menghargai semua jenis keragaman sebagai suatu kesempatan untuk belajar tentang apa yang membuat kita sebagai manusia. Inklusi menfokuskan pada bagaimana mendukung keberbakatan dan kebutuhan tertentu dari setiap anak di dalam komunitas sekolah untuk merasa tersambut dan aman serta menjadi sukses. Asumsi lain yang mendasari sekolah inklusif adalah, bahwa mengajar yang baik adalah mengajar yang baik, yang setiap anak dapat belajar, diberikan lingkungan yang sesuai, dorongan, dan aktivitas yang bermakna. Sekolah inklusif mendasarkan kurikulum dan aktivitas belajar harian pada sesuatu yang dikenal dengan mengajar dan belajar yang baik. Akhimya dapat dirumuskan bahwa pendidikan inklusif adalah suatu proses pendidikan yang memungkinkan semua anak berkesempatan untuk berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan kelas regular, tanpa memandang kelainan, ras, atau karakteristik lainnya. Pendidikan inklusif memberikan berbagai kegiatan dan pengalaman, sehingga semua siswa dapat berpartisipasi dan berhasil dalam kelas reguler yang ada di sekolah tetangga atau sekolah terdekat. Dengan demikian kehadiran pendidikan inklusif berpotensi mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi setiap anak dengan segala keragamannya, terutama anak berkebutuhan khusus. Yang pada gilirannya bahwa pendidikan inklusif merupakan strategi yang efektif bagi pensuksesan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Implikasi Manajerial Pendidikan Inklusif Berdasarkan makna pendidikan inklusif dan ramah untuk belajar di atas, ada lima profil pembelajaran di sekolah inklusif (Sapon-Shevin, 1994/1995, dalam Sunardi, 2002), yaitu: 1) Pendidikan inklusif berarti menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang hangat, menerima keragaman, dan menghargai perbedaan. Guru mempunyai tanggung jawab menciptakan suasana kelas yang menampung semua anak secara penuh dengan menekankan suasana kelas yang menampung semua anak secara penuh dengan menekankan suasana dan perilaku sosial yang menghargai perbedaan yang menyangkut kemampuan, kondisi fisik, sosial ekonomi, suku, agama, dsb. 2) Pendidikan inklusif berarti menerapkan kurikulum yang multilevel dan multimodalitas. Mengajar kelas yang memang dibuat heterogen memerlukan penyesuaian kurikulum nasional menurut kondisi dan karakteristik siswa. Guru di kelas inklusif secara konsisten akan bergesar dari pembelajaran yang kaku, berdasarkan buku teks, atau material basal ke pembelajaran yang banyak melibatkan belajar kooperatif, tematik, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan penilaian {assessment} secara otintik. 3) Pendidikan inklusif berarti menyiapkan dan mendorong guru untuk mengajar secara iinteraktif. Perubahan dalam kurikulum berkaitan erat dengan perubahan metode pembelajaran. Model kelas tradisional dimana seorang guru secara sendirian berjuang untuk dapat memenuhi kebutuhan semua anak di kelas harus diganti dengan model murid-murid bekerjasama, sal ing mengajar, dan secara aktif berpartisipasi dalam pendidikannya sendiri dan pendidikan teman-temannya. Kaitan antara pembelajaran kooperatif dan kelas inklusif sekarang jelas: semua anak berada di satu kelas bukan untuk berkompetisi tetapi untuk saling belajar dari yang lain. Setiap anak berkompetisi dengan dirinya sendiri. 4) Pendidikan inklusif berarti penyediaan dorongan bagi guru dan kelasnya secara terus-menerus dan penghapusan hambatan yang berkaitan dengan isolasi profesi. Meskipun guru selalu dikelilingi oleh orang lain, pekerjaan mengajar dapat menjadi profesi yang terisolasi. Aspek terpenting dari pendidikan inklusif meliputi pengajaran dengan tim, kolaborasi dan konsultasi, dan berbagai cara mengukur keterampilan, pengetahuan, dan bantuan individu yang bertugas mendidik sekelompok anak. Kerjasama tim antara guru dengan profesi lain diperlukan, seperti para profesional, ahli bina bahasa dan wicara, petugas bimbingan, dsb. 5) Pendidikan inklusif berarti melibatkan orangtua secara bermakna dalam proses perencanaan. Pendidikan inklusif sangat bergantung pada masukan orangtua pada pendidikan anaknya, misalnya keterlibatan mereka dalam penyusunan Program Pengarajan Individual (IEP, Individual Education Plan). Bertitik tolak dari beberapa uraian di atas, dapat dirumuskan sejumlah implikasi pengelolaan sekolah sebagai berikut: 1) Peserta didik Pendidikan inklusif memungkinkan bisa mengakomodasi semua anak untuk dapat mengakses pendidikan di sekolah reguler, tanpa memandang kondisi dan karakteristik yang dimilikinya, baik berkenaan dengan kelainan (kekhususan), jenis kelamin, asal daerah, dan sebagainya. Lebih utamanya, bahwa anak berkebutuhan khusus pada hakekatnya tidak memiliki hambatan yang berarti untuk mengakses pendidikan di sekolah reguler. 2) Kurikulum atau program pendidikan Kurikulum atau program pendidikan bagi semua peserta didik, termasuk juga anak berkebutuhan khusus akan memiliki efektivitas yang tinggi, manakala pada tataran implementasinya memiliki fleksibilitas sehingga dapat diterapkan bagi siapapun yang memiliki kebutuhan dan kemampuan yang unik. Dengan demikian Individualized Educational Programs (IEP) merupakan pendekatan yang memiliki relevansi dan efektivitas yang tinggi. Selain program akademik, maka untuk mencapai tujuan institusional yang komprehensif sangatlah dibutuhkan layanan bimbingan dan konseling yang memadai sehingga dapat menjadikan peserta didik dapat mencapai kematangan personal, sosial, dan karir. 3) Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk mencapai kesuksesan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, keberadaan pendidik dan tenaga kependidikan, terutama guru dan guru pendidikan khusus memiliki arti yang sangat penting. Tentu saja guru yang diharapkan sekali adalah guru yang mampu memahami perbedaan individu dan memiliki kecakapan profesional yang diwujudkan dengan kemampuan mengembangkan materi dan menggunakan metodologi yang relevan dengan kepentingan kegiatan pendidikan dan instruksional. 4) Sarana-Prasarana Keberadaan dan pengadaan sarana dan prasarana merupakan sutau komponen yang sangat penting, terlebih-lebih bagi anak berkebutuhan khusus. Sarana dan prasarana yang memiliki produktivitas yang tinggi adalah yang mampu menfasilitasi terjadainya kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang mengasikkan dan menyenangkan, di samping sarana dan prasarana yang dapat diakses (accesable) oleh peserta didik dalam kondisi apapun. 5) Evaluasi Evaluasi merupakan bagian yang penting dari suatu proses pendidikan dan pembelajaran. Evaluasi dalam pendidikan inklusif diharapkan mampu memberikan kontribusi yang berarti, terutama mampu mendorong (encourage) peserta untuk maju, bukan lagi sebaliknya bahwa penerapan evaluasi justru mematikan semangat untuk belajar. Evaluasi yang demikian diharpkan lebih bersifat apresiatif daripada judgmental. 6) Pengawasan Pengawasan pada dasarnya memiliki kedudukan yang strategis dalam mengantar institusi dan personnil pendidikan dalam mencapai kinerja yang memenuhi standar pelayanan minimal. Dalam konteks penerapan pendidikan inklusif, pengawasan perlu terus dilakukan secara kontinyu yang lebih diorientasikan kepada pengawasan kinerja daripada pengawasan administratif. Dengan demikian pengawas pendidikan perlu memiliki wawasan tentang ragam peserta didik berkebutuhan khusus. 7) Partisipasi masyarakat. Untuk menjamin keberlangsungan implementasi pendidikan inklusif, sangatlah diperlukan partisipasi masyarakat dari berbagai pihak terutama orangtua, organisasi profesi, dan para ahli, sehingga beban penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat dijangkau dengan mudah. Tanpa partisipasi masyarakat yang memadai, kiranya penyelenggaraan pendidikan inklusif tidak akan mampu menunjukkan hasil yang optimal. Implikasi bagi Layanan Bimbingan dan Konseling Pendidikan inklusif pada hakekarnya membangun sistem yang menfasilitasi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk belajar bersama dengan dilakukan modifikasi isi, metode, media, lingkungan dan interaksinya. Kondisi yang demikian memiliki beberapa implikasi bagi layanan bimbingan dan konseling. Pertama, disadari bahwa a human is unique. Artinya bahwa setiap individu itu memiliki keunikan karakteristik dan kebutuhan, terlebih-lebih anak berkebutuhan khusus. Ketika anak berkebutuhan khusus dilayani dengan sistem pendidikan inklusif, maka secara obyektif anak berkebutuhan khusus di samping memiliki keunikannya itu mereka diduga juga akan menghadapi beberapa persoalan, di antaranya: salah suai (maladjustmant), berprestasi kurang (underachiever) karena memiliki hambatan untuk berekspresi, memiliki harga diri rendah (low self esteem) karena bersaing dengan normal, merasa ditolak (rejected) karena sering terjadi banyak orang tidak welcome kehadiran anak cacat, dan bahkan merasa termanjakan (overprotective) karena ada juga beberapa orang menunjukkan perasaan pilantropis terhadap kecacatan. Untuk menghadapi persoalan-persoalan itu anak berkebutuhan khusus ada yang mampu menghadapi sendiri, ada juga yang membutuhkan bantuan bimbingan dan konseling, baik yang terkait dengan upaya pemecahan masalah, pencegahan timbulnya masalah, maupun upaya pengembangan diri. Dengan bantuan layanan bimbingan dan konseling, setidak-tidaknya anak berbatuan khusus tidak hanya mampu adaptif terhadap lingkungan (well-adaptive) terutama di tengah-tengah anak kehidupan reguler, melainkan juga mampu menuju aktualisasi diri (self-actualization). Kedua, bahwa layanan BK yang terutama dibutuhkan bagi anak berkebutuhan khusus dalam pendidikan inklusif adalah layanan bimbingan personal-sosial dan akademik. Layanan bimbingan personal-sosial lebih diorientasikan untuk membantu anak berkebutuhan khusus dalam mencapai kesadaran diri, realisasi diri, dan aktualisasi diri, di samping yang juga sama pentingnya adalah untuk membantu anak berkebutuhan khusus dalam membangun kemampun penyesuaian diri (well-adjusted), karena mereka hidup di tengah-tengah mayoritas orang yang berbeda dengan dirinya. Selain daripada itu layanan bimbingan akademik yang diorientasikan kepada layanan bimbingan yang memberikan fasilitasi dalam pengembangan akademik, karena dengan keterbatasannya seringkali mereka mengalami hambatan dalam mengekspresikan ide-ide dan kemampuannya. Dengan bimbingan belajar dan akademik, mereka akan mudah menunjukkan kemampuan akademiknya secara optimal. Ketiga, untuk mengefektifkan layanan BK bagi anak berkebutuhan khusus, kiranya tepat sekali bila di samping dilakukan dengan bentuk model bimbingan konvensional, yaitu dengan melakukan layanan bimbingan dan konseling langsung kepada anak berkebutuhan khusus sendiri, apakah melalui 'konseling individual maupun bimbingan kelompok, maka dapat dilakukan juga dengan peer counseling terutama anak-anak yang berusia remaja, dan konseling multikultural karena anak-anak berada pada individu yang sangat beragam karkateristiknya. Selain daripada bahwa layanan konseling yang sangat dibutuhkan anak berkebutuhan khusus adalah parent counseling, yaitu konseling yang diberikan kepada orangtua sebagai pendamping anak dalam waktu yang lebih lama di rumah. Keempat, layanan bimbingan dan konseling yang efektif bagi anak berkebutuhan khusus dalam program pendidikan inklusif dipandang memiliki efektivitas tinggi jika dilakukan pada awal tahun ajaran terutama untuk kepentingan tindakan preventif dan penyesuaian dengan lingkungan; pada saat menghadapi masalah terutama bagi anak berkebutuhan khusus yang memiliki masalah serius yang tidak mampu diselesaikan sendiri; pada saat proses pendidikan berlangsung, temtama bagi yang membutuhkan bantuan untuk pengembangan diri; dan saat liburan terutama dilakukan dengan outbound activities melalui berbagai permainan yang dimaksudkan untuk pengembangan kecakapan diri, sosial, dan moral. Kelima, layanan bimbingan dan konseling bagi anak berkebutuhan khusus idealnya dilakukan oleh konselor yang benar-benar menguasai karakteristik fisik, mental, sosial, kognitif, dan afektif (moral) anak berkebutuhan khusus dan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Jika tidak ada konselor di sekolah itu, maka guru pendidikan khusus diharapkan mampu memainkan peran konselor dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling bagi anak berkebutuhan khusus. Penutup Pendidikan inklusif sebagai suatu trend baru dalam sistem pendidikan hadir sebagai konsekuensi logis dari adanya demokrasi pendidikan dan tegaknya hak asasi manusia di seluruh dunia. Pendidikan inklusif semakin menjadi penting bagi agenda reformasi pendidikan setelah Education For All dideklarasikan. Pendidikan inklusif berimplikasi terhadap sistem persekolahan yang dapat dilihat melalui adanya modifikasi kurikulum dan program pendidikan, metode pembelajaran, media, lingkungan, bahkan sistem evaluasinya, sehingga keberadaan anak berkebutuhan khusus merasa mendapatkan tempat dan layanan pendidikan yang sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhannya. Demikianjuga, implementasi pendidikan inklusif menuntut model layanan bimbingan dan konseling yang efektif sehingga berhasil membawa misinya untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak berkebutuhan khusus secara optimal.

 

Daftar Pustaka

 

Brameld, T. (1956). Toward a Reconstructed Philosophy of Education. New York: Holt, Rinehart, and Winston. Choate, J.S., and S. Evans. (1992). "Authentic Assessment of Special Learners: Problem or Promise?" Preventing School Failure 37, 1: 6-9. Dutton, D.H., and D.L. Dutton. (1990). "Technology to Support Diverse Needs in Regular Classes." In Support Networks/or Inclusive Schooling: Interdependent Integrated Education, edited by W. Stainback and S. Stainback. Baltimore: Paul H. Brookes. Elkind, D. (1987). "Multiage Grouping." Young Children 43, 11: 2. Falvey, M.A. (1989). Community Based Curriculum: Instructional Strategies for Students -with Severe Handicaps. Baltimore: Paul H. Brookes. Falvey, M.A., M. Forest, J. Pearpoint, and R.L. Rosenberg. (1994). "Building Connections." In Creativity and Collaborative Learning: A Practical Guide to Empowering Students and Teachers, edited by J. Thousand, R. Villa, and A. Nevin. Baltimore: Paul H. Brookes. Fullan, M. (1993). "Innovative Reform and Restructuring Strategies." In Challenges and Achievements of American Education, edited by G. Cawelti. 1993 ASCD Yearbook. Alexandria, Va.: Association for Supervision and Curriculum Development. Gardner, H. (1983). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Harper Collins Publishers. Goldman, J., and H. Gardner. (1989). "Multiple Paths to Educational Effectiveness." In Beyond Separate Education: Quality Education for All, edited by D.K. Lipskey and A. Gartner. Baltimore: Paul H. Brookes. Grant, C., and C. Sleeter. (1989). "Race, Class, Gender, Exceptionality, and Educational Reform." In Multicultural Education: Issues and Perspectives, edited by J. Banks and C. McGee Banks. Boston: Allyn and Bacon. Johnson, R.T., and D.W. Johnson. (1994). "An Overview of Cooperative Learning." In Creativity and Collaborative Learning: A Practical Guide to Empowering Students and Teachers, edited by J. Thousand, R. Villa, and A. Nevin. Baltimore: Paul H. Brookes. McLaughlin, M., and S. Warren. (1992). Issues and Options in Restructuring Schools and Special Education Programs. College Park: University of Maryland, The Center for Policy Options in Special Education, and the Institute for th& Study of Exceptional Children and Youth. Pearpoint, J., and M. Forest. (1992). "Foreword." In Curriculum Considerations in Inclusive Classrooms: Facilitating Learning for All Students (pp. xv—xviii), edited by S. Stainback and W. Stainback. Baltimore: Paul H. Brookes. Peterson, M., B. LeRoy, S. Field, and P. Wood. (1992). "Community-Referenced Learning in Inclusive Schools: Effective Curriculum for All Students." In Curriculum Considerations in Inclusive Classrooms: Facilitating Learning for All(pp. 207-227), edited by S. Stainback and W. Stainback. Baltimore: Paul H. Brookes. Poplin, M.S., and S. Stone. (1992). "Paradigm Shifts in Instructional Strategies: From Reductionism to Holistic/Constructivism." In Controversial Issues Confronting Special Education: Divergent Perspectives, edited by W. Stainback and S. Stainback. Boston: Allyn and Bacon. Sapon-Shevin, M., B.J. Ayres, and J. Duncan. (1994). "Cooperative Learning and Inclusion." In Creativity and Collaborative Learning: A Practical Guide to Empowering Students and Teachers, edited by J. Thousand, R. Villa, and A. Nevin. Baltimore: Paul H. Brookes. Shriner, J.G., J.E. Ysseldyke, M.L. Thurlow, and D. Honetschlager. (1994). "'All' Means 'All': Including Students with Disabilities." Educational Leadership 51, 6: 38-42. Silverman, L.K. Ed. (1993), Counseling the Gifted & Talented, Denver: Love Publishing Company Spady, W., and K. Marshall. (1991). "Beyond Traditional Outcome-Based Education." Educational Leadership^, 2: 67-72. Villa, R., and J. Thousand. (1992). "Student Collaboration: An Essential for Curriculum Delivery in the 21st Century." In Curriculum Considerations in Inclusive Classrooms: Facilitating Learning for All Students, edited by S. Stainback and W. Stainback. Baltimore: Paul H. Brookes. Villa, Richard A. and Jacqueline S. Thousand, ed. (1995), Creating an Inclusive School, USA: Association for Supervision and Curriculum Development. Sunardi (2002). Pendidikan inklusif: Prakondisi dan implikasi manajerialnya. Makalah disampaikan pada Temu Ilmiah Pendidikan Luar Biasa Tingkat Nasional, Bandung, 6-8 Agustus 2002.