online

rank

pengunjung web site

Flag Counter

blogger unair

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

KONSELING BERCORAK BUDAYA : PENERAPANNYA

Oleh Admin 21-10-2015 02:26:32

 

KONSELING BERCORAK BUDAYA

PERNERAPANNYA DALAMKOMUNIKASIKONSELING


 

Prof. Drs. H. Rosjidan, M.A

 

Universitas Negeri Malang

 

 

 

Makalah bertujuan membahas mengenai penerapan nilai-nilai budaya dalam komunikasi konseling. Pembahasan ini sebagai kelanjutan dari makalah yang pernah saya sampaikan pada Konvensi Nasional X IPBI, yaitu ”Pengembangan Bimbingan dan Konseling dengan Budaya Nasional”.

A.   Pengertian Budaya

Menurut George F. Kneller (1965) kata budaya sendiri bermakna semua cara-cara hidup yang dilakukan orang dalam suatu masyarakat. Dengan budaya tertentu dimaksudkan keseluruhan cara hidup bersama dari sekelompok orang, yang meliputi bentuk mereka dalam berpikir, berbuat dan merasakan yang diekspresikan, misalnya dalam kepercayaan, hukum, bahasa, seni, dan adat istiadat, juga dalam bentuk produk-produk benda seperti rumah, pakaian, dan alat-alat.

Menurut George F. Kneller (1965) salah satu gejala budaya berupa ideologi yang berisi pengetahuan, nilai-nilai dan kepercayaan. Gejala budaya inilah yang saya gunakan dalam makalah ini, yaitu nilai-nilai dan kepercayaan yang secara umum hidup pada sebagian besar suku-suku bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan klasifikasi yang dibuat Ralp Linton (1965) bahwa nilai-nilai dibedakan menjadi tiga kelompok, umum (universal) yaitu pikiran, perbuatan dan perasaan yang hidup pada semua orang dewasa yang hidup dalam suatu masyarakat, misalnya antara lain bahasa, rumah, hubungan keluarga, pakaian, kepercayaan dan nilai-nilai. Khusus adalah gejala budaya yang hanya berlaku bersama pada sekelompok masyarakat, misalnya para usahawan atau para profesional lain. Alternatif adalah nilai-nilai yang hidup pada sejumlah terbatas individu-individu, misalnya pemuka agama, seniman dan ahli filsafat. Kelompok nilai-nilai universal itulah yang saya gunakan dalam makalah ini.

Ciri gejala budaya lain menurut George Kneller (1965) ialah budaya adalah ideal dan manifes atau menampak. Budaya ideal mencakup cara-cara dalam mana seorang percaya bahwa mereka seharusnya berlaku, atau dalam mana mereka hendak-nya berlaku, atau dalam mana mereka percaya berlaku. Budaya manifes atau menampak berupa tingkah laku aktual mereka. Misalnya, nilai tenggang rasa pada waktu sekarang mungkin lebih bersifat ideal daripada manifes atau aktual. Jadi budaya dalam makalah ini berupa nilai-nilai yang bersifat universal, yaitu hidup dalam sebagian besar suku-suku bangsa Indonesia, dan baik yang bersifat ideal maupun manifes atau aktual.

Budaya dalam arti nilai-nilai atau kepercayaan, yang bersifat universal dan dalam bentuk ideal serta manifes dapat disebut sebagai budaya nasional, dan nilai-nilai itu dapat diidentifikasi antara lain sebagai berikut.

1.    Pandangan bahwa manusia Indonesia adalah monodualistik, yaitu sebagai makluk pribadi dan juga sebagai makluk sosial, yang berakibat bahwa manusia Indonesia tidak otonom;

2.    Pandangan bahwa pada dasarnya individu memelihara asas keserasian, keselarasan, keseimbangan dengan masyarakat dalam kehidupan. Berdasarkan pandangan itu timbullah nilai-nilai: kekeluargaan, tolong menolong, gotong royong, tenggang rasa, dan sebagainya;

3.    Menghormati dan menunjukkan kesetiaan kepada orang tua;

4.    Kepercayaan kepada kekuatan supranatural;

5.    Dalam komunikasi dengan orang lain individu sangat mementingkan konteks atau situasi dalam mana konomunkasi itu berlangsung. Demi untuk memelihara hubungan baik dengan pihak lain maka orang dapat berkata kepada orang lain yang mungkin bertentangan dengan apa yang ada dalam hatinya;

6.    Menjadi dewasa artinya meningkat kemampuan orang dalam pengendalian diri perasaan.

B.   Konseling Lintas Budaya

Di dalam kerangka berpikir Barat, konseling adalah kegiatan kelas-menengah orang kulit putih Amerika yang memegang teguh nilai-nilai dan ciri-ciri yang berbeda dengan nilai-nilai kelompok-kelompok orang yang berasal dari dunia Ketiga di Amerika (Sue, 1981). Timbul persoalan jika konseling dengan nilai-nilai hidup kelas-menengah orang kulit putih diberlakukan bagi kelompok-kelompok minoritas yang berasal dari Dunia Ketiga di Amerika Serikat, yang mempunyai nilai-nilai dan ciri-ciri yang berbeda.

Dalam hubungan ini, Sciarra (2004) mengemukakan perbandingan antara nilai-nilai budaya orang Amerika Kulit Putih kelas-menengah dengan orang Amerika keturunan Asia sebagai berikut.

 

Dimensi

Kelompok Etnis

Orang Amerika Putih Kelas-Menengah

Orang Amerika Keturunan Asia

Hubungan Manusia dengan Alam

Menguasai alam

Keserasian dengan alam

Orientasi waktu

Masa depan

Masa lalu dan kini

Definisi diri

Individu

Kelateral

Bentuk kegiatan yang disukai

Berbuat

Berbuat

Sifat dasar individu

Baik dan buruk

Baik

 

D.W. Sue & Sue (2003) menambahkan dimensi konseling itu dengan pandangan hidup, yaitu konsep perbedaan letak kendali dan letak tanggung jawab antara budaya standar Amerika Euro putih dengan budaya minoritas.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Kendali

 

Internal

 

                                               1                               4

                                           KI – TI                      KI – TE

 

Sumber

Tanggung       Internal                                                            Eksternal

Jawab

 

                                                  2                             3

                                           KE – TI                    KE – TE

 

 

Eksternal

 

Sumber kendali dan sumber tanggung jawab masing-masing dapat bersifat internal dan ekstenal. Dengan demikian terjadi empat pandangan hidup berdasarkan kombinasi berbeda sumber kendali dan sumber tanggung jawab internal dan eksternal. Menurut Sue (2003), kuadran 1, dalam mana berisi sumber kendali internal dan sumber tanggung jawab internal (KI – TI) menggambarkan pandangan hidup budaya putih kelas-menengah. Nilai tinggi bagi pemecahan masalah ditempatkan pada sumber-sumber pribadi: percaya-diri, pragmatisme, individualisme, perolehan status melalui usahanya sendiri, dan kekuasaan atau kendali atas orang lain, benda binatang, dan kekuatan alam (Sue, 2003).

Sciarra (2004) lebih lanjut mengemukakan pola umum budaya berbagai suku bangsa Asia di Amerika. Saya pikir klien Indonesia mempunyai persamaan ciri-ciri dengan berbagai suku bangsa Asia, karenanya dapat berlaku pola budaya berbagai suku bangsa Asia. Pola umum budaya tersebut sebagai berikut.

1.    Kesetiaan kepada orang tua. Anak-anak Amerika keturunan Asia pada segala usia diharapkan untuk menghormati dan setiap kepada orang tua mereka. Bagi remaja, hal ini bisa berarti merupakan tekanan budaya bagi pemilihan karir karena harus sesuai dengan yang dikehendaki orang tua mereka.

2.      Saling bergantung dalam Keluarga. Budaya Amerika-Euro Putih menyamakan kematangan perkembangan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan diri, dalam budaya orang Amerika keturunan Asia, kematangan perkembangan berarti meningkatnya kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga. Segala hal yang mungkin merusak keserasian dan fungsi keluarga terlarang. Segala sesuatu yang negatif mengenai anggota keluarga perorangan dapat membawa rasa malu bagi seluruh keluarga. Potensi konflik antara anak-anak dengan orang tua sangat besar bila anak-anak mengalami akulturasi budaya Barat dengan cepat.

3.      Sistem Patriakat. Dengan beberapa kecualian, budaya orang Amerika keturunan Asia cenderung bersifat patriakat, lebih memberikan hak dan keistimewaan kepada anak laki daripada perempuan. Bila konselor melakukan konsultasi bagi kedua orang tua, konselor sekolah hendaknya mempersilahkan lebih dahulu sang ayah sebagai bukti pengakuan dari sistem patriakat.

4.    Pengendalian emosi. Budaya Amerika-Asia tidak menyenangi penampakan emosi dan perasaan sebagaimana adanya dalam diri mereka jika situasi tidak mengijin-kan, dan berbicara mengenai masalah seksual atau seksualitas dianggap tabu.

5.    Komunikasi konteks-tinggi. Komunikasi orang Amerika-Asia cenderung bersifat konteks tinggi, yaitu situasi menentukan makna lebih daripada kata-kata aktual. Misalnya, kata tidak bisa berarti ya atau tidak tergantung atas konteks (nada suara, intonasi, dan tanda-tanda nonverbal yang menyertai pesan). Juga konteks menentukan apakah jenis pesan verbal tertentu diperbolehkan atau tidak. Misalnya, seorang siswa Amerika keturunan Asia mungkin mengatakan ya kepada konselor karena konteks tidak dapat mengijinkan siswa untuk berkata tidak, meskipun tidak adalah apa yang dimaksud siswa. Atau siswa Amerika keturunan Asia mungkin menghindari kontak mata dengan konselor, yang hal ini adalah tanda menghormati dalam budaya siswa, tetapi dalam budaya dominan tentu saja, hal itu tidak hormat.

Dipesankan oleh Sciarra bahwa konselor yang terdidik dengan tradisi Barat harus peka terhadap perbedaan-perbedaan itu bila bekerja dengan siswa Amerika keturunan Asia dan orang tua mereka. Saya berpendapat, peringatan itu juga berlaku bagi konselor kita yang terdidik dengan pendekatan konseling Barat, kita harus peka dan pandai-pandai menyesuaikan dengan latar belakang nilai-nilai klien kita. Demikian juga Corey (2001) pada setiap akhir dari bab yang membahas pendekatan-pendekatan konseling selalu mengemukakan keterbatasan dari segi lintas budaya.

Lebih rinci, Sciarra (2003) mengemukakan perbedaan dalam pendekatan konseling antara klien Amerika keturunan Asia berhadapan dengan konselor terdidik-Barat.

 

 

Dimensi Konseling

Klien Amerika Asia

Konselor terdidik Barat

Perkembangan diri

Kolektivisme fokus keluarga dan kelompok saling bergantung

Fokus individu bebas

Hubungan konselor-klien

Hirarkis

Sederajat

Kematangan psikologis

Pengendalian emosi

Ekspresi emosi

Pemecahan masalah

Tanggung jawab konselor

Tanggung jawab klien

Gangguan mental

Memalukan

Masalah seperti masalah lain

 

Sue dkk (1982) memberi batasan konseling lintas budaya ”Suatu hubungan konseling dalam mana dua peserta atau lebih berbeda alam latar belakang budaya dan gaya hidup”. Definisi menggambarkan pandangan yang luas yakni semua konseling pada sifat dasarnya menjadi lintas budaya. Tetapi, konseling lintas budaya dikonsepsi-kan dan dikaji dalam istilah yang jauh lebih sempit, mengacu terutama kepada hubungan konseling bila konselor kulit putih dan klien seorang anggota kelompok minoritas etnis atau suku bangsa. Dalam kepustakaan konseling lintas budaya, pembahasan mengenai konselor dari minoritas etnis atau suku bangsa dengan klien kulit putih jarang terjadi. Bahkan lebih jarang lagi membahas mengenai peserta konseling yang berasal dari dua kelompok minoritas berbeda. Jadi penggunaan istilah lintas budaya memuat perbandingan antara dua kelompok, kelompok standar dan kelompok lain yang berbeda budaya (Susettel dkk, 1991).

Jika kita menggunakan definisi sempit mengenai konseling lintas budaya seperti diuraikan di muka, yaitu kajian mengenai konselor kulit putih dengan klien berasal golongan minoritas etnis di Amerika Serikat maka konseling lintas budaya tidak tepat kita gunakan di Indonesia. Konseling di Indonesia, konselor dan klien bisa berasal dari satu suku bangsa yang sama atau yang berbeda, misalnya konselor orang suku bangsa Jawa dengan klien orang Jawa atau konselor orang Sumatera dengan klien dari suku bangsa Sulawesi. Tetapi kesemuanya baik konselor dan klien dari suku bangsa yang sama atau yang berbeda berada dalam rumpun budaya nasional yang sama. Di Indonesia tidak dikenal budaya standar atau dominan (seperti budaya kulit putih kelas-mene