online

rank

pengunjung web site

Flag Counter

blogger unair

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

MENCARI BENTUK KONSELING YANG EFEKTIF BAGI SISWASLTP Dl TENGAH PERUBAHAN LINGKUNGAN

Oleh Admin 21-10-2015 02:25:58

 

 

MENCARI BENTUK KONSELING YANG EFEKTIF

BAGI SISWA SLTP Dl TENGAH PERUBAHAN LINGKUNGAN


 

Oleh

Dra. Nuryati Atamimi, SU


A. Latar belakang masalah:

Dalam satu dasawarsa terakhir, kita menyaksikan perubahan yang begitu cepat dalam berbagai bidang kehidupan dengan intensitas dan skala yang jauh lebih dahsyat dibandingkan zaman sebelumnya. Sedemikian hebat perubahan itu, sehingga apa yang terjadi pada satu dasawarsa terakhir kira- kira setara dengan perubahan setengah abad sejak perang dunia II. Bila dimasa-masa lalu waktu seakan berhenti karena tak banyak perubahan yang terjadi, sekarang akumulasi perubahan seakan-akan makin dipadatkan. Batas antara masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang, menjadi semakin pendek, sehingga pada saat yang sama, waktu terasa berlalu begitu cepat.

Transformasi terpaksa harus terus menerus dilakukan oleh manusia pada era seperti ini. Transformasi dimaksud terjadi pada semua aspek kehidupan manusia, bukan hanya dirinya sendiri secara individual, melainkan transformasi masyarakat dan budaya secara kolektif dalam keseluruhan aspek dan tingkatan. Tuntutan itu tak terhindarkan bila manusia atau sebuah komunitas tak ingin menjadi "sejarah masa lalu". Sedemikian hebat tuntutan untuk melakukan tmsformasi itu, sehingga seringkali menimbulkan jarak yang begitu signifikan antara kapasitas individu atau komunitas untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan yang dihadapi. Akibatnya banyak muncul perilaku tidak sehat (maladaptive) baik pada individu maupun kelompok masyarakat dalam berbagai bentuk perilaku menyimpang misalnya, depresi, rendah diri, agresivitas, mencari rasa aman pada hal-hal yang tidak rasional atau tidak sesuai dengan ajaran agama dan berbagai bentuk mekanisme pertahanan diri lainnya yang menyimpang.

Perilaku maladaptive tentu saja hanya terjadi pada individu atau komunitas yang tidak memiliki cukup kemampuan untuk menyesuaian diri (intelektual, sosial, emosional dan spiritual) yang memadai. Artinya tidak semua individu atau komunitas keluar dengan cara-cara yang salah atau merespons perubahan dengan cara-cara yang keliru. Bagi kelompok ini perubahan yang begitu hebat menjadi momentum untuk memacu diri atau dalam skala kolektif membuka kesempatan untuk mengamati identitas diri dan kebudayaan. Era ini adalah era pencarian, pendefinisian, penegasan dan pembaharuan kembali identitas. Setiap komunitas, tennasuk komunitas profesi mulai yang berskala kecil ataupun skala besar berusaha untuk mendefinisikan kembali identitas mereka terutama yang terkait dengan sebaba-sebab eksternal yaitu berbagai perubahan lingkungan yang begitu cepat. Sesungguhnya lebih tepat bila hal ini mewakili suatu fenomena kolektif daripada fenomena individual dalam pengertian bahwa pendefinisian kembali identitas itu merupakan domain kemasyarakatan yang berproses pada tingkatan kesadaran kolektif.

Terdapat banyak sekali perubahan (sosial, budaya politik, pemerintahan, ekonomi, sains dan teknologi dan lain sebagainya) yang terjadi dalam waktu belakangan ini yang tentu saja sangat besar pengaruhnya bagi individu dan masyarakat luas, tetapi hanya beberapa yang dikemukakan disini yang diyakini berpengaruh terhadap pendidikan umumnya dan konseling khususnya. Dampak berbagai perubahan terhadap individu sangat terasa terutama pada usia perkembangan anak dan remaja.

Pada saat usia remaja, anak-anak kita sebagian besar kehidupannya berada di sekolah menengah. Usia remaja secara psikologis memang masa yang penuh topan dan badai dalam kehidupan seseorang karena pada masa ini terjadi peristiwa transisi antara kehidupan anak-anak yang akan dilalui dengan kehidupan orang dewasa yang masih belum dimengerti oleh mereka. Mereka sangat membutuhkan orang lain yang bersedia mendengarkan isi hati mereka, berkomunikasi dengan nyaman' dan teman untuk berbagi rasa. Apalagi jika orang tua sebagai sosok yang paling dekat dengan mereka sudah demikian sibuknya sehingga kekurangan waktu untuk memberi perhatian kepada anak-anaknya. Padahal sebagai anak mereka harus diperlakukan secara proporsional sesuai dengan tingkatan usia mereka. Terkait dengan ini seorang bijak pernah mengatakan " ketika anak-anakmu telah berusia tujuh tahun. ajak mereka bermain, didiklah dan. , bertemanlah dengannya, kemudian biarkan ia bermain dengan teman yang belum dikenalnya. Ucapan ini bermakna mendorong tiap orang tua agar bisa menjadi teman yang baik dan dapat" dipercaya bagi anak-anaknya terutama pada fase usia yang paling mencntukan yaitu fase anak dan remaja. (Republika, Senen 17 Mei 2004)

Berbagai masalah yang terjadi dikalangan remaja merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, pendidik, pemerintah maupun masyarakat, Anak yang kurang memperoleh fasilitas dan perhatian dari orang tua akan menearinya diluar rumah. Kegiatan sekolah tennasuk faktor lingkungan yang sangat berpengaruh bagi perilaku anak, Bagi para pendidik, tidak semua masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar dan gangguan penyesuaian diri siswa dapat diatasi oleh para guru maupun kepala sekolah, mereka para siswa sangat membutuhkan penanganan khusus yang pada umumnya dilakukan oleh konselor bimbingan dan konseling sekolah.                                

Dalam setiap penyelenggaraan pendidikan, secara garis besar harus memuat tiga komponen dasar, terdiri dari kegiatan administrasi pendidikan yang berada dibawah tanggung jawab Kepala Sekolah dan tenaga administrasi sekolah, komponen kedua adalah kegiatan belajar-mengajar yang berada dibawah tanggung jawab guru dan komponen dasar ketiga adalah kegiatan pembinaan siswa yang tanggung jawab terbesar berada ditangan wali kelas dan konselor sekolah.

Perubahan lingkungan dengan segala karakteristiknya secara langsung ataupun tidak langsung merupakan tantangan sekaligus peluang bagi profesi bimbingan konseling untuk membantu sumber daya manusia dalam beradaptasi dengan tuntutan lingkungan. Oleh karena itu profesi bimbingan konseling harus memberikan tanggapan secara proaktif menanggapi tantangan dan peluang ini dengan mencari bentuk yang sesuai untuk siswa remaja melalui layanan yang profesional. Kecenderungan perkembangan global telah merasuk ke dalam berbagai sisi kehidupan manusia secara universal sehingga jawabannyapun harus secara profesional dan universal.(Surya, H.M., 2003). Menurut Hoyt, K.B., dan Wickwire, P.N., (2001), era layanan mformasi' pengefanuan mencermi'nfcan berbagai perubahan yang sanng terkait dalam aspek sosial, ekonomi, pemerintahan, karier, pendidikan, pekerjaan dan berbagai sisi kehidupan Jainnya. Maraknya tindak kriminal di Indonesia yang melibatkan anak-anak usia sekolah menengah banyak dipicu oleh tayangan informasi yang mereka lihat dan telah membuat resah para orang tua, guru, pemerintah dan masyarakat pada umumnya, dan ini merupakan salahsatu konsekwensi buruk dari proses globalisasi.. Berbagai media massa dengan jelas menggambarkan situasi tindak kriminal yang dilakukan secara individual maupun yang dilakukan secara kelompok. Siaran TV pada hari Senen tanggal 17 Mei 2004 pada acara khusus "brutal" secara jelas menayangkan bagaimana sekelompok siswa SLTP di Jakarta telah membajak Bus kota dengan berbagai senjata tajam hanya karena mereka ingin minta diantar oleh supir Bus tersebut kesuatu tempat rekreasi. Problema psikologis seperti gangguan perilaku depress! sampai bunuh diri dan amok begitu sering terjadi. Beragam informasi melalui internet yang belum saatnya ditonton oleh remaja yang belum siap secara mental, TV kabel, VCD, DVD, Games, mall dan supermarket yang bertebaran memancing selera untuk melihat (membeli bagi yang mampu dan mencuri bagi yang kepengen tapi tidak mampu membeli) merupakan konsekwensi logis perubahan lingkungan yang sedang terjadi sekarang, yang dapat menjadi sebab timbulnya berbagai perilaku remaja bermasalah. Apa yang telah terjadi pada remaja kita? Apa yang perlu kita lakukan untuk mengurangi angka kejadian tersebut?. Apakah konselor sekolah telah melaksanakan tugasnya secara efektif untuk membantu siswa mengatasi masalah mereka?

Kenyataan yang dihadapi dilapangan adalah kurangnya tenaga konselor professional sehingga tenaga konselor adalah guru kelas yang tentu saja kurang professional. Sistem pembagian tugas menjadi tidak jelas sehingga guru BK hanya diberi tanggung jawab untuk mengisi jam kosong dari guru yang berhalangan mengajar, Dengan demikian guru BK tidak berhak atas pembagian insentif kelebihan mengajar. Keadaan yang demikian ini menimbulkan persepsi konselor yang buruk terhadap diri mereka sendiri yang merasa bahwa diri dan fungsi mereka kurang berarti. Oleh karena itu sikap mereka sebagai konselor yang kurang baik dalam persepsi siswa menurut teori Adier diduga sebagai manifestasi dari inferiority complex konselor.

Perubahan lingkungan dan kemajuan teknologi yang demikian pesat, khususnya teknologi komunikasi, masalah dikalangan remaja usia sekolah menjadi semakin kompleks sehingga peran konselor dan wali kelas menjadi semakin penting dan mendesak sehingga perlu dicari cara yang efektif untuk membantu konseling sekolah menjadi efektif..

Keberadaan lembaga bimbingan dan konseling disekolah menengah pertama (SMP) dan umum (SMA) sudah cukup lama, namun berbagai penelitian telah yang telah dilakukan terhadap efektivitas keberadaan lembaga BK tersebut terriyata mengecewakan banyak pihak, terutama pihak siswanya sendiri. Tina afiatin (2003) menemukan bahwa persepsi siswa terhadap keberadaan BK cenderung buruk, istilah polisi sekolah untuk konselor menjadi umum. Banyak siswa yang menolak untuk datang menemui konselor walaupun mereka merasa perlu karena bermasalah. Jikapun hams dipanggil untuk menghadap konselor mereka datang dengan berat hati dan ada rasa takut dan malu. Tidak jarang siswa kemudian membolos dan minta pindah sekolah hanya karena pemah berhubungan atau dipanggil menghadap oleh konselor (panggilan siswa terhadap konselor sekolah adalah guru BK). Keadaan semacam ini tentu saja menambah masalah bagi siswa, orang tua, sekolah, pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Keberadaan BK bukan menguntungkan tetapi malah merugikan banyak pihak. Apa yang salah dengan lembaga BK ini?

Penelitian Beutler L.E (1983) menemukan bahwa seorang konselor perlu mencari dan menemukan kredibilitas ilmiah bagi pengembangan diri dan kemampuannya sebagai konselor sejalan dengan kemajuan dan perkembangan nilai-nilai sosial masyarakat dunia. Penelitian ini dilandasi oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kelly,K.R. et.al (dalam Mudjiran dkk. 1989) yang teryata juga menemukan kondisi kecemasan para siswa di Amerika untuk berhubungan dengan konselor konvensional.

Di Jepang peran konselor sekolah setara dengan peran psikoloog sekolah, dan diantara mereka terjalin kolaborasi yang intensif dalam menangani berbagai masalah yang <lialami oleh siswa sekolah (Ishikuma Toshinori, 2003). Demikian pula halnya yang terjadi di sejumlah sekolah menengah di Malaysia, selain tugas utama diemban oleh konselor sekolah dalam menangani berbagai masalah siswa, dilibatkan pula psikolog sekolah jika terjadi berbagai hal yang memang hams diatasi oleh psikolog sekolah. (Wan Kader Wan Ahmad, 2003)

Hasil observasi peneliti di sejumlah sekolah SLTP di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bangka terhadap keberadaan BK khususnya fasilitas kerja seperti ruangan dan peralatannya memang memprihatinkan, perlakuan pihak menejemen sekolah dan sistem sekolah yang mengatur keberadaan BK sekolahpun dirasakan tidak adil oleh para guru BKjika dibandingkan dengan guru biasa dan keluhan ini memang disampaikan pada acara konvensi nasional Bimbingan Konseling yang dilaksanakan oleh ABKIN di Bandung pada tanggal 8-10 Desember 2003.

Dari beberapa penemuan lapangan dan sejumlah penelitian ini, cukup beralasan jika pemerintah dan para akhli serius memberikan perhatian terhadap profesionalisasi bimbingan konseling sekolah.

Selanjutnya kajian inisecara singkat ingin menjelaskan beberapa gambaran tentang pembahan lingkungan tersebut secara langsung maupun tak langsung yang menuntut profesi bimbingan dan konseling untuk mencari bentuk konseling yang sesuai dan efektif khususnya bagi siswa SLTP yang masih berada pada usia remaja dalam usaha melakukan reposisi bimbingan konseling secara umnm, sebab jika tidak maka bimbingan konseling hanya akan menjadi bagian dari sejarah.

 

B. Macam Peruhahan penting di lingkungan: 

Berikut ini adalah perubahan-perubahan penting yang dimaksud:

1.      Transformasi masyarakat Indonesia.

Sejak reformasi tahun 1998, masyarakat Indonesia kembali mencari bentuk baru dan mencoba merumuskan kembali identitasnya, siapakah kami sebenamya? Meskipun benar bahwa pencarian identitas itu adalah sesuatu yang tidak akan pemah selesai, pada setiap bangsa atau komunitas akan selalu ada peristiwa besar yang memaksa bangsa atau komunitas imtuk merekonstruksi diri dan identitasnya. Itulah bangsa Indonesia sekarang. Kalau disana sini ada kekacauan, ketidak pastian dan anarki, itu adalah bagian yang tidak dapat dihindari pasti terjadi pada masyarakat yang sedang mengalami transformasi. Masalahnya adalah sejauh mana kapasitas sistem yang sedang direkonstruksikan itu mampu mengendalikan perubahan. Sayangnya pada titik ini kita sangat lemah karena berbagai infrastruktur hukum, sosial, dan pemerintahan serta fundamental ekonomi yang dianggap kuat sebelum reformasi temyata hanya semu belaka. Kita belum pemah bersungguh-sungguh membangun. Terjadi ketidak seimbangan dalam , perkembangan di berbagai sektor misalnya sektor ekonomi dan sosial. Sebagai contoh dimasa Orba, ekonomi tumbuh dengan pesat tetapi kehidupan politik dan sosial membeku dan semu (Supriadi Dedy, 2003), terlalu banyak sumbatan sosial politik yang membuat komunikasi sosial dan aliran aspirasi masyarakat tersumbat. Pertumbuhan ekonomi selalu akan memunculkan masyarakat kelas menengah baru. Kemakmuran ala orde baru telah mempertebal lapisan masyarakat kelas menengah. Tragedi Tian an men di Cina juga dilatar belakangi oleh tebalnya lapisan kelas menengah yang memerlukan cara untuk mengakomodasikan aspirasi mereka secara politik. Perubahan politik bangsa kita ternyata lamban sehingga ketika diperberat oleh krisis ekonomi maka terjadilah gerakan reformasi dengan dipelopori oleh kelompok mahasiswa yang merupakan representasi dan cikal bakal "kelas menengah" sedangkan dibelakangnya adalah kelas menengah yang relatif telah mapan dengan menikmati kemakmuran zaman orde baru tetapi aspirasi politik mereka tersumbat. Pertanyaan yang muncul adalah berapa lama transformasi bangsa Indonesia melalui reformasi akan berlangsung, menjadi sulit untuk diprediksi. Apabila hanya sebatas pemulihan ekonomi mungkin perlu waktu 10 tahun terhitung sejak tahun 1997. Buktinya hampir semua negara di Asia yang mengalami krisis ekonomi (terutama Malaysia, Thailand dan Korea Selatan) dapat segera bangkit kembali dalam waktu kurang dari 5 tahun. Tetapi untuk transformasi budaya maka paling tidak perlu waktu dalam hitungan abad atau. generasi. Cina perlu 2 abad untuk dapat bangkit dari Revolusi Kebudayaan yang telah membunuh para intelektual Cina tahun 1960 an, Korela Selatan perlu 25 tahun untuk menjadi kekuatan ekonomi sejak berakhirnya perang Korea tahun 1957, Vietnam mampu bangkit lebih cepat lagi (dengan menghapus trauma perang Vietnam) yaitu sejak berakhirnya perang Indocina tahun 1975 negara ini bisa bangkit mulai pertengahan 1990-an—jadi perlu waktu 20 tahunan juga. Mungkin Indonesia pun demikian.

2. Dampak reformasi pendidikan 

Dunia pendidikan tidak luput dari dampak reformasi yang telah menimbulkan berbagai harapan baru di kalangan dunia pendidikan dan masyarakat umumnya. Sekolah menjadi lebih terbuka. Masyarakat lebih berani menuntut hak-haknya dan lebih kritis terhadap sekolah. Guru lebih sadar akan kedudukannya. Siswa lebih bebas dan berani menyatakan keinginannya. Dalam lingkungan seperti ini, peran semua aparat sekolah berubah, termasuk konselor. la bukan hanya melayani siswa, melainkan hams bisa menjadi mitra konsultasi guru dan orang tua siswa. Tuntutan reformasi itu mengharuskan semua pihak yang berkepentingan di sekolah mentransformasikan dirinya. Harga psikologis dari reformasi memang sangat mahal. Banyak guru, kepala sekolah, dan siswa yang tergoncang. Segalanya menjadi serba boleh dan serba mungkin. Sejak kemerdekaan, belum pernah frekwensi inovasi muncul begitu banyak, menyapu apa pun yang berlabel lama.

3. Teori tentang otak dan pengaruhnya terhadap pendidikan 

Literatur barat, teori-teori pendidikan yang kita kenal sekarang pertama kali muncul pada abad ke-18 di Eropa Kontinental. Saat itu dan untuk waktu yang cukup lama, teori pendidikan dan mendidik dikembangkan berdasarkan renungan filosofis dan pengamatan terhadap praktik sehari-hari, serta diinspirasi oleh ajaran agama. (Supriadi Dedi, 2003). Tapi sejak pertengahan abad ke-20, terjadi perubahan. Ilmu pendidikan dan mendidik juga didasarkan atas hasil-hasil riset psikologi, sosiologi, atropologi, dan terakhir neurologi menunjukkan kompleksitas otak. Sedikitnya ada tiga teori tentang otak yang berpengaruh terhadap pendidikan. Pertama, otak memiliki trilyunan sel yang membentuk jaringan yang amat rumit. Otak tidak lagi dipandang ibarat sebuah lemari penyimpan informasi (memory) , melainkan berupa jaringan dan berbagai fungsi kompleks dari otak yang terdapat pada hubungan antar-jaringan tersebut. Kedua, seperti telah dikenal luas, adalah teori otak kiri dan otak kanan yang masing-masing dengan fungsi yang berbeda. Ketiga, teori yang membagi otak atas tiga tingkat yaitu otak atas, otak tengah dan otak bawah dengan fungsi yang berbeda. Tiga teori tersebut menimbulkan revolusi pada pendidikan, sehingga pembaharuan pendidikan sekarang tidak lagi hanya didasarkan atas hasil-hasil kontemplasi filosofis tentang pendidikan, melainkan hasil riset tentang otak manusia.

4. Teori tentang kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. 

Meskipun teori tentang kecerdasan emosional dan spiritual belum sekuat teori tentang kecerdasan intelektual, malah dikalangan ilmuwan, konstruk teori dua macam kecerdasan inipun masih diperdebatkan, namun banyak bukti untuk mengangkat bahwa dua macam kecerdasan tersebut telah hangat diperbincangkan khususnya di dunia pendidikan. Banyak hal dalam kehidupan manusia yang tidak bisa hanya dijelaskan melalui kecerdasan intelektual saja, jadi memang hams ada ranah kecerdasan yang lain. Gardner Howard yang dikenal dengan teori tentang Multiple Intelligence, Coleman Daniel (1996) tentang Emotional Intelligence, Zohar & Marshal (2000) tentang Spiritual Intelligence telah membuka perspektif baru dalam memandang tentang kecerdasan. manusia sehingga di dunia pendidikan tidak lagi terpaku pada sosok kecerdasan intellektual saja. Di masa depan diperkirakan akan lebih berkembang lagi pemahaman tentang berbagai dimensi kecerdasan manusia sejalan dengan berbagai hasil riset dalam bidang neurologLSumbangan dua macam kecerdasan tersebut ternyata membawa berkah bagi pencarian bentuk konseling yang efektifuntuk berbagai subjek dengan berbagai setting yang berbeda.

5. Aliran hereditarianisme yang kembali menguat.

Kontroversi tentang pengaruh bawaan atau keturunan dan pengaruh lingkungan bagi perkembangan manusia telah mewakili perdebatan yang paling panas dalam sejarah psikologi dan pendidikan. Berpumh-puluh tahun lamanya para pakar dalam bidang ini mengerahkan berbagai buktf untuk mendukung teori mereka. Pada umumnya para ahli yang berlatar belakang ^dokteran dan psikologi klinis cenderung lebih meyakini pentingnya pengaruh bawaan atau keturunan sedangkan dari kelompok psikolog sosial dan pendidikan lebih condong kepada pentingnya pengaruh lingkungan. Akan tetapi pada dasawarsa terakhir ini terasa aliran hereditarian memiliki posisi yang semakin kuat yang ditopang oleh sejumlah hasil riset kedokteran dalam bidang genetika dan neurologi yang makin memberikan bukti bahwa sifat-sifat manusia sebagian besar diwariskan oleh generasi sebelumnya baik fisik maupun psikologis. Teknologi maju dibidang kedokteran seperti procreation policy yang diperkenalkan oleh PM Singapura Lee Kuan Yew pada tahun 1980 an, rekayasa genetika, program bayi tabung, in-vitro fertilization bahkan teknologi kloning akan semakin membuktikan bahwa faktor keturunan sangat berpengaruh kuat bahkan lebih kuat dari pengaruh lingkungan (Supriadi Dedi, 2003).

6. Multikulturalisme dan pluralisms yang semakin menguat

Telah dikenal tiga tahap perkembangan dalam hubungan antar budaya yang beragam menurut kajian lintas budaya yaitu segregasi,   kemudian integrasi, dan terakhir multi kulturalisme, segregasi terjadi ketika wilayah interaksi sosial dibatasi melalui tembok batas yang jelas, seperti wama kulit, agama, keyakinan, dan lain-lain. Integrasi adalah ketika batas-batas itu dihilangkan dengan konsekuensi sebuah identitas baru harus diciptakan yang mengikat semua pihak yang terlibat— misalnya dalam kebijakan asimilasi. Multikulturalisme atau pluralisme memberikan kesempatan kepada setiap komunitas untuk "being themselves" dalam kerangka hidup bersama dan interaksi yang terbuka. Akhir-akhir ini multikulturalisme berkembang luas. Di Indonesia, ide-ide multikulturalisme bukanlah hal barn karena sesuai dengan realitas bangsa ini, namun pluralisme lebih banyak sebatas semboyan, karena yang terjadi adalah usaha penyeragaman melalui struktur, sistem, berbagai instrumen sosial, politik, dan bahkan militer untuk memastikan kesatuan dan persatuan Indonesia. Sejak reformasi bergulir, terjadi perubahan. Pencarian identitas kelndonesiaan berjalan seiring dengan pencarian dan perumusan kembali identitas lokal dan reafinnasi identitas etnis, sub-etnik, dan agama. Pemahaman tentang Bhineka Tunggal Ika pun diperbaharui dengan memberikan penekanan pada "keberagaman dalam kesatuan ' bukan hanya "kesatuan dalam keberagaman" seperti di masa lalu.

7. Polarisasi peradaban timur-barat.

Paradigma Huntington (1993-1994-2001) dianggap sebagai pemicu tentang benturan antar peradaban ( the clash of Civilizations) antara barat yang dipimpin AS dan timur yang dipimpin oleh Uni Soviet, (sebagai pengganti benturan militer pada era perang dingin). Dari delapan peradaban utama di dunia , akan muncul tiga kekuatan utama yang saling bersaing yaitu Barat, Islam dan Konfusianisme. Tapi berdasarkan kedekatan kepentingan dan karateristiknya, akan terjadi aliansi antara islam dan "gong" yang secara simbolis dimulainya genderang perang antara islam dan barat tersebut yang dibalas oleh George Bush dengan agresi militer ke Afganistan, Irak dan kembalinya kekejaman Israel atas bangsa Palestina. Barat pun menegaskan kembali identitas kebaratanya ( yaitu kristenitas), di pihak lain, dunia timur kembali menegaskan ketimurannya yang ada dalam agama-agama Timur. Penegasan kembali identitas barat yang terjadi antara analog dengan apa yang terjadi pada abad ke 11 s/d 13 ketika terjadi perang salib, yang diinspirasi oleh Paus Urban II dalam pidatonya tahun l095 (dalam Amstrong, 2003). Apa yang sebelumnya sudah berusaha untuk dikurangi atau bahkan dikubur yaitu ketegangan Kristen-Islam dan Timur-Barat hidup kembali dengan model barn penaklukan negara-negara muslim -Afganistan, Irak, dan mungkin tidak lama lagi Iran dan Suriah oleh aliansi kekuatan barat dibawah Amerika. Padahal perang salib telah berakhir 6 abad lalu. Begitu pun, munculnya kembali semangat anti Yahudi ( anti semit) dalam waktu-waktu terakhir merupakan pengulangan dari apa yang terjadi tahun 1930 an dan 1940 an atau bahkan sejak abad ke 5 di Eropa yang mencapai puncaknya pada abad ke 10 dan ke 11. apa arti semua ini? Dunia sedang bergeser, usaha barat untuk mendifinisikan kembali tentang identitasnya diikuti oleh timur yang juga melakukan hal serupa. Identitas yang paling dasar dan hakiki, terdapat pada agama yang diyakini.

Identitas barat adalah Kristenitas, apapun alirannya. Dipihak lain, identitas imur adalah agama-agama timur, yaitu Islam dikawasan Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Barat dan Asia Tenggara; Hindu di Anak benua India, Budhisme di Jepang, Korea dan sebagian Cina dan Konfusianisme di Cina; Pihak yang paling gigih mendefinisikan kembali identitas itu adalah Barat yang Kristen dan Timur yang Islam. Ayat -ayat profetik dari kitab suci digali dan dikumandangkan kembali. Misalnya dengan merujuk pada Bibel, Amerika menganggap perang melawan terorisme adalah perang melawan kekuatan ibiis. Kalau teror itu lalu diidentikkan dengan orang islam, maka seperti dikatakan seorang Jendral Amerika —Iblis yang diperangi itu adalah orang muslim, begitulah logika mereka, Memanasnya konflik ini sungguh akan berpengaruh terhadap ilmu sosial dan ilmu perilaku, termasuk pendidikan dan memang telah terbukti demikian dalam berbagai publikasi tentang ragam kajian agama pada tahun-tahun terakhir. Bisa terjadi, konsep konsep yang lahir sekarang akan berbeda dengan konsep yang berasal dari barat, timur akan lebih sensitif terhadap berbagai konsep yang terlalu berbau Barat—Kristen karena dibelakangnya ada trauma tentang kejahatan barat terhadap dunia timur. Sebagian orang mungkin akan alergi terhadap sesuatu yang berbau barat atau terlalu menampilkan identitas barat.

C. MENCARI BENTUK KONSELINGYANGEFEKTIFBAGISISWASLTP DI  TENGAH PERUBAHAN LINGKUNGAN

Profesi Bimbingan   Konseling mengandung   makna sebagai   pekerjaan  yang menyelenggarakan layanan intelektual yang spesialistik dan sangat   tinggi. Layanan tersebut lahir berupa perilaku profesional menurut kriteria ideal, di manapun perilaku itu tampil.(Dahlan, M.D2003).Sedangkan tujuan umum pelayanan BK sekolah adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman danbertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan    Nasional). Upaya konseling yang dimaksud diselenggara kan melalui pengembangan segenap potensi individu peserta didik secara optimal dengan memanfaatkan berbagai cara dan sarana berdasarkan nonna-norma yang berlaku dan mengikuti kaidah-kaidah profesional  ( Wibowo,  2003).  Dalam    sistem Pendidikan Nasional, keberadaan BK sekolah di Indonesia dijalani melalui proses panjang sejak lebih kurang 40 tahun yang lalu. Keberadaan BK sekolah dalam setting pendidikan pada saat ini telah memiliki legalitas yang kuat dan menjadi bagian terpadu dari sistem pendidikan nasional. Kehadiran BK sekolah telah mendapat tempat disemua jenjang pendidikan. Juga BK sekolah dapat di manfaatkan oleh bidang pendidikan sebagai mitra kerja dalam mencapai tujuan pendidikan nasional karena konseling menyediakan berbagai unsur diluar individu yang digunakan untuk mengembangkan diri (Crow & Crow, 1960) Jntegrasi konseling dalam pendidikan juga terlihat dari program konseling yang dimasukkan kedalam program sekolah (Belkin, 1975 dan Berbers & Drury, 1992), Konsep dan berbagai praktek konseling merupakan bagian integral upaya pendidikan. (Mortensen & Schmuller, 1976).

Konseling yang dilakukan oleh konselor sebagai bentuk upaya pendidikan, karena kegiatan konseling selalu terkait dengan pendidikan dan   keberadaan konseling didalam pendidikan merupakan konsekuensi logis dari upaya pendidikan itu sendiri. Konseling dalam kinerjanya juga berkaitan dengan upaya mewujudkan pengembangan potensi diri peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dalam kehidupan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ( seperti yang diamanatkan pada pasal 1 ayat 1 UU Sisdiknas)

Secara fungsional, konseling sangat signifikan sebagai salah satu upaya pendidikan untuk membantu individu mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahapan perkembangan dan tuntutan lingkungan ( Wibowo, E.M. 2002).

Konseling sebagai profesi pemberi bantuan (helping profession) diabdikan bagi peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan dengan cara memfasilitasi perkembangan individu atau kelompok individu sesuai dengan kekuatan, kemampuan potensial dan aktual serta berbagai peluang yang dimilikinya dan membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta kendala yang dihadapi dalam perkembangan dirinya. Konseling sebagai komponen pendidikan mempunyai peranan yang besar dalam rangka memenuhi hak peserta didik untuk mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya ( pasal 12 ayat (b). Konselor yang mampu mengembangkan bakat minat dan kemampuan peserta didik difasilitasi dan disediakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan sbagaimana diatur dalam pasal 41 ayat (3) yang berbunyi: " Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin agar pendidikan yang bermutu dapat terselenggara.

Konselor dalam menyelenggarakan konseling memiliki prinsip yang sama seperti prinsip penyelenggaraan pendidikan, yaitu: (1) diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan dan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai kagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa dan, (2) diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. ( pasal 4 ayat (1) dan ayat (4). Keadaan ini mencerminkan bahwa kemajemukan dan keunikan berbagai daerah dan suku bangsa diakui dan diberi tempat, sehingga konseling diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Konseling juga menjamin prinsip pendidikan dari Ki Hajar Dewantoro :" ing ngarso sang tulodho, ing madya mangun karso, tut •wuri handayani yang berarti didepan memberi keteladanan,ditengah membangun kemauan, dan di belakang mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran). (Wibowo, E.M. 2003)

Kegiatan konseling adalah suatu proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor konselor, metode yang digunakan dan karakteristik klien serta faktor situasional dan sistem yang ada diluar diri konselor dan klien yang melingkupinya. Sebagai bagian dari sistem seorang konselor   profesional yang sukses pada umumnya memiliki kepribadian dan sejumlah karakter yang akan diamati dan dipersepsikan positip oleh klien untuk menunjang efektivitas kerja profesionalnya.(Strohmer & Biggs, 1983). Menurut .Prawitasari, (1999), kepribadian yang menarik, ditopang oleh karakter dan sikap humanis yang tulus, jujur, hangat, permissif, congruence sehingga mampu secara akurat berempati kepada klien. Selain faktor kepribadian, kredibilitas seorang profesional juga diutamakan. Seorang profesional yang kharismatik membutuhkan banyak pengalaman sehingga ia akan dipercaya oleh kliennya. Dengan didukung oleh pendidikan yang tinggi maka kombinasi dengan kharismatik meningkatkan kepercayaan klien.

Konselor merupakan sosok penentu dalam proses konseling yang berhasil. Banyak penelitian yang telah melaporkan begitu buruknya persepsi siswa sekolah khususnya pada tingkatan SLTP. Para siswa sedapat mungkin menghindar dan menolak untuk berurusan dengan guru BK (sebutan untuk konselor sekolah). Jika siswa sampai berurusan atau, dipanggil untuk datang  menghadap guru  BK, maka pandangan siswa lainnya akan' menganggap bahwa yang dipanggil pasti bermasalah atau telah berbuat kesalahan sehingga ada istilah residivis dikalangan siswa bagi siswa yang pemah dipanggil dan berurusan dengan guru BK. Dengan kata lain  pengalaman dan hasil observasi langsung menunjukkan bahwa sosok keberadaan BK disekolah menjadi kurang efektif. Kenyataan ini sesuai dengan penelitian Mudjiran dkk_(1989) menemukan bahwa persepsi siswa SLTA yang buruk terhadap keberadaan lembaga bimbingan konseling di sekolah mereka sebenarnya banyak dipengaruhi oleh persepsi mereka sebelumnya ketika mereka menjadi siswa SLTP. Persepsi tersebut terbentuk kerena pengalaman yang dialami sendiri oleh siswa maupun pengalaman orang lain dari cerita-cerita yang mereka dengar seolah-olah dialami sendiri yang dalam bahasa psikologi disebut internalisasi nilai-nilai, sehingga diduga meskipun lembaga BK sekolah SLTA yang mereka alami cukup memberikan kesan baik, akan tetap saja dipersepsikan buruk oleh siswa karena pengaruh pengalaman mereka kurang nyaman yang mereka alami sebelumnya baik dengan lembaga BK sekolah maupun konselor sekolah khususnya yang mereka sebut sebagai guru BK.

Seorang konselor yang senantiasa mengetahui dan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang terjadi, memahami kebutuhan psikologis siswa, penuh perhatian, hangat, mampu berempati kepada siswa, dapat bersikap sebagai teman, orang tua, guru serta ramah dan supel, lebih senang dan aktif mendengar daripada menggurui, mampu memberi nasehat pada situasi yang tepat dan diperlukan tanpa melukai perasaan siswa, mengetahui perkembangan dunia remaja dan idolanya dan senang serta mampu berbicara dengan bahasa remaja tanpa hams kehilangan dan berkurang wibawanya, nampaknya merupakan karakteristik konselor yang efektif dalam melakukan kerja profesi konselingnya bagi siswa remaja.

Nampaknya tradisi memanggil siswa yang bermasalah untuk. datang menghiadap konselor bukan lagi cara yang efektif. Sikap proaktif konselor untuk berbincang dengan siswa sebelum mereka bermasalah mungkin lebih berhasil memikat siswa untuk berhubungan dengan konselor. Berbincang-bincang dengan siswa tentang perubahan lingkungan yang sedang terjadi, bagaimana mensikapinya secara bijak dan bagaimana mengambil manfaat dari perubahan tersebut nampaknya akan lebih efektif daripada mencela dan melihat sisi negatip dari perubahan yang terjadi yang justru sedang digandnmgi siswa sesuai dengan perkembangan jiwa remaja mereka. Sesekali mengundang siswa yang berprestasi untuik datang menghadap konselor meskipun mereka bukan siswa yang bermasalah barangkali akan merubah persepsi siswa bahwa lembaga BK sekolah adalah tempat untuk menampung yang jelek-jelek.

 

D. KESIMPULAN

Profesi bimbingan konseling sekolah dan para konselor dihadapkan pada situasi dan tantangan barn sebagai dampak dari perubahan lingkungan ini, yang berbeda dengan apa yang terjadi pada tahun-tahun sebelum terjadi perubahan besar ini. Sebagai sebuah komunitas, profesi bimbingan dan konseling perlu mendefinisikan kembali identitasnya sendiri. la bukan lagi bimbingan dan konseling seperti dulu, apalagi yang muncul pada awal abad ke 20, melainkan bimbingan dan konseling dengan sosok yang "baru",.dengan sejumlah karakteristik yaitu: lebih terbuka, akomodatif terhadap segala perubahan, aktif menyerap perkembangan ilmu-ilmu lain, tidak membatasi diri dengan sekat-sekat "sakral" keilmuan, berkolaborasi lebih erat dengan bidang- bidang layanan sosial lainnya khususnya profesi bantuan. Karakteristik dan persyaratan untuk menjadi konselor pun berubah. Seorang konselor tidak cukup hanya menguasai aspek-aspek teknis konseling, melainkan harus memiliki kepekaan terhadap apa yang terjadi di lingkungan dan mempunyai wawasan yang tajam tentang perubahan lingkungan strategis. Konselor harus well-rounded dan untuk itu hams selalu mampu dan mau mengikuti perkembangan, memperbaharui dan mengembangkan diri, dan bergaul secara luas dengan anggota komunitas konseling serta profesi lainnya. Banyak mendengar daripada berbicara sesuai ciptaan Tuhan yang telah menciptakan dua telinga dengan satu mulut. Menurut teori psikoterapi Rogerian (Rogers,C.R., dalam Agus Cremers, 1987), kemampuan mendengar dengan aktif disertai empati yang tulus dan mendalam, kongruen serta unconditional positive regard mengandung unsur terapiutik bagi orarig lain. Dengan demikian tanpa mencoba juga untuk berubah dan mengikuti perubahan lingkungan maka kemampuan konselor akan segera menjadi usang dan seakan-akan makhluk di tengah lingkungan yang berubah setiap saat.

 

E. DAFTAR PUSTAKA

Armstrong, K. (2003). Perang Suci. Jakarta: Serambi Ilmu & Mizan

Belkin, G.S., (1975). Practical Counseling in the School. Dubuque, Iowa: W.C. Brown Company Publishers.

Blocher, Donald. H., (1987). The Profesional Counselor. New York:

            Macmillan Publishing Company.

Borders, L. D. Anne & Drury, Sandra, M. (1992). "Comprehensive School Counseling Programs: A Review for Policymakers and Practitioners" Journalof Counseling andDevelopment Vol.70'pages 487-495.

 

Brown, Steven, D., & Lent Robert, W., (1984). Handbook of Counseling Psychology, New York. John Wiley and Sons.

Cremers, A,. 1987. Antara Engkau dan Aku. Jakarta: PT. Gramedia.

Crow, L. D., & A. Crow., (1960). An Introduction to Guidance. New York:

American Book Company.

Goleman, D., (1996). Emotional Inteligence: Why It Can Matter More Than IQ. London: Bloombury.

Hoyt, Kenneth B. & Wickwire, Pat Nellor, (2001), "Knowledge-information-Service Era Change in Work and Education and the Changing Role of the School Counselor in Career Education". The Career Development Quarterly, Vol.49, Number 3, March 2001.

Huntington, S.P., (1993a) "The Clash of Civilizations'!" Foreign Affairs. Summer, 1993

Ishikuma Toshinori, 2003. Policy and Direction of Development of Counseling Profession in Japan.. Makalah disampaikan dalam acara" Pertemuan Ilmiah dan Konvensi Nasional ABKIN" Bandung 8-10 Desember 2003.

Mohamad Surya, (2003). Standardisasi Bimbingan dan Konseling. Makalah disampaikan dalam acara "Pertemuan Ilmiah dan Konferda ABKIN" Propinsi Jawa Tengah: Semarang 26 Febniari 2003.

Mortensen, D.G., & A.M. Schmuller, Guidance in To Day's School, New York:

John Wiley & Sons. Inc.

Mudjiran. Masrun dan Sri Mulyani Martaniah, (1989). The degree of acceptance of Guidance and Counseling Services and Its Relationship with the Perception toward Guidance and Counseling Services and High School Achievement, Yogyakarta; Tests S2 Fakultas Pasca Sarjana UGM. Tidak dipublikasikan.

Mungin Eddy Wibowo, (2002).   Konseling Perkembangan: Paradigma Baru dan dan Relevansinya di Indonesia. Pidato Pengukuhan untuk Jabatan GuruBesar Tetap dalam bidang Bimbingan dan Konseling pada FIP-UNNES, Semarang: 13 Juli 2002.

Pedersen. Paul, B.(l 991), Multiculturalism as a Generic Approach to

Counseling; Journal of Counseling and Development, Vol. 70, No. 1.

Republika, Harian. terbit Senen 17 mei 2004.

Soli Abimanyu, 2003. Perspektif bam dalam Riset dan Evaluasi Bimbingan Dan Konseling. Paper disampaikan pada Konvensi Nasional XIII Bimbingan dan Konseling di Bandung: 8-10 Desember 2003

Smith, John.K. (1983). Quantitative vs Qualitative Research: an Attempt to Clarify the issue. Journal of'Educational Researcher. Vol. 12 (3) pages 6-13.

Sofyan, S. Willis., (2003). Profesionalisasi Konseling. Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. VI. No. 11. hal. 16.

Strohmer, C.D., & Biggs, A. D., 1983. Effects of Counselor Disability Status on Disabled Subjects' perception of counselor attractiveness and Expertness. Journal of Counseling Psychology Vol. 30. No 2 pages. 202-208.

Strong, Tom, (2000). Six orienting ideas for collaborative counselors.

Journal of Psychotherapy, Counselling & Health. Vol. 3 No. 1 April 2000.

Schmuck, A. Richard & Patricia A. Schmuck, (1997). Group Processes in the Classroom. Seventh Edition. Madison, WI. Brown & Benchmark Publishers.

Tina Afiatin. (2003). Bimbingan Konseling di Sekolah. Ceramah di Bimbingan Belajar Primagama, Yogyakarta.

Prawitasari, J.E. ( 1999). Pendekatan Kelompok Interaksional. Kuliah

Psikoterapi A (PSK 430 A). Handout. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Untuk kalangan sendiri.

Wan Kader Wan Ahmad, (2003). Ke arah Profesionalisme Kaunseling di Malaysia. Makalah disampaikan dalam acara "Pertemuan Ilmiah dan Konvensi Nasional ABKIN" Bandung 8-10 Desember 2003.

Zohar, D., & Marshall, I. (2000) Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence. London; Bloombury