online

rank

pengunjung web site

Flag Counter

blogger unair

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

DIANETIK SEBAGAI TEKNIK TERAPI DALAM TRAUMA

Oleh Admin 21-10-2015 02:26:15

 

 DIANETIK  SEBAGAI  TEKNIK TERAPI DALAM  TRAUMA

 

Oleh : Sri Milfayetty *

 

Abstrak

Dianetik adalah satu teknik terapi dalam trauma. Tujuannya adalah membantu Praclear ( survivor)  menjadi “Clear”. Yaitu,  kondisi individu yang optimum. Tidak mengalami repressi , bertindak berdasarkan self deterministik, memiliki kemampuan untuk menanggapai, recall, return, berimajinasi, mencipta dan memperhitungkan sesuatu. Dianetik memiliki kesamaan dengan konseling traumatis terutama dalam tujuan,fokus dan waktu namun dari segi prosedur dan teknik memiliki perbedaan. Keunggulan Dianetik adalah metodenya dalam merecall kejadian masa lalu untuk memberi kesadaran pada preclear tentang kejadian tersebut, dan selanjutnya clear dari engram emosi-emosi negatif. Tantangan dalam penggunaan Dianetik adalah munculnya kebosanan dan lock dalam auditing sehingga seorang auditor perlu mengantisipasinya pada proses auditing. Kondisi praclear yang kurang sehat, lapar dan kondisi  penggunaan obat-obatan tidak direkomendasi untuk mengikuti auditing.

 

 

Kata Kunci : dianetik, terapi, trauma

 

Memilih teknik yang sederhana dan tepat untuk terapi dalam  trauma  tidak selalu mudah. Terutama apabila dapat dilatihkan pada orang yang bukan professional. Misalnya dalam kondisi darurat pasca bencana, jumlah  konselor sangat terbatas sedangkan yang memerlukan relatif banyak, maka tantangannya adalah memilih model sederhana yang dapat dilatihkan kepada lebih banyak orang secara berantai. Artinya, dengan training khusus seseorang dapat dilatih untuk menjadi trainer pada orang lain.

 

* Dra.Sri Milfayetty MS, dosen jurusan PPB UNIMED, Ketua PD ABKIN SUMUT 2004-2007

      

 

 

 

Di antara berbagai teknik yang  ada, dianetik merupakan salah satu alternatif. Teknik  ini didasarkan pada anggapan bahwa prinsip dinamika keberadaan manusia adalah pertahanan hidup (survival). Tujuannya adalah membantu Praclear ( survivor) menjadi “Clear”. Yaitu,  kondisi individu yang optimum. Tidak mengalami repressi , bertindak berdasarkan self deterministik , memiliki kemampuan untuk menanggapi, recall, return, berimajinasi, mencipta dan memperhitungkan sesuatu. (L.Ron Hubbard, 1999).

[i]  

Tulisan ini akan membahas secara umum beberapa bentuk stressor traumatis, konsep dasar dianetik, prosedur dianetik dan perbandingannya dengan konseling trauma.

 

I. Stressor Traumatis

Seseorang dalam perjalan kehidupannya tidak selamanya bebas dari stres. Berbagai peristiwa kehidupan dapat menjadi stressor psikososial yang berdampak pada trauma mental sehingga muncul gangguan kecemasan, depressi, psikosis hingga tindakan bunuh diri. Trauma mental yang diakibatkan stres ini dapat berlangsung seumur hidup bila tidak segera diobati.

 

Beberapa peristiwa kehidupan yang dapat menjadi stressor traumatis (Dadang Hawari, 2001) : 1)Kerusuhan bernuansa sara, seperti yang terjadi di Sambas Kalimantan Barat (1977), di Ambon/Maluku (1988), di Poso (1999), di Sampit/Palangkaraya (2001). 2) Pengungsian. Kerusuhan antara kelompok dapat mengakibatkan banyak warga yang harus meninggalkan tempat tinggalnya sebagai pengungsi. Hidup di pengungsian yang berkepanjangan dan tidak berketentuan masa depannya akan menimbulkan stres mental yang cukup berat dan trauma tersendiri menyusul trauma yang dialami sebelumnya pada waktu terjadinya kerusuhan. 3) Demo anarkis.  Demonstrasi damai yang disusupi provokator membuat sebagian massa lepas kendali dan melakukan tindakan anarkis seperti pengrusakan, penjarahan dan pembakaran. Anggota masyarakat yang menjadi sasaran atau korban tindakan anarkisme itu tercekam jiwanya dan hidup serba ketakutan karena ancaman ketentraman hidupnya. 4) Huru hara. Peristiwa Mei (1998) merupakan huru hara yang hampir merata di seluruh kota Jakarta, yang terjadi menjelang berakhirnya Orde Baru. Dalam peristiwa ini terjadi pengrusakan, penjarahan dan pembakaran milik warga etnis tertentu, bahkan sampai pada perkosaan. Bagi warga yang mengalami  dan menjadi korban peristiwa itu banyak yang menderita gangguan jiwa selain kehilangan harta benda. Bahkan cukup banyak yang berobat ke luar negeri dan tidak mau kembali ke Indonesia karena masih tercekam trauma. 5)Penculikan. Peristiwa penculikan baik yang bermotif politis, kriminal maupun alasan keamanan karena dianggap membahayakan pemerintah merupakan bentuk pelanggaran HAM. Banyak di antara mereka yang diculik mengalami siksaan fisik dan mental sampai pada kematian. Bagi korban penculikan yang hidup, peristiwa yang dialaminya itu lebih merupakan penderitaan psikologis daripada fisik atau dengan kata lain penculikan itu lebih merupakan trauma mental daripada trauma fisik. 6)Penyanderaan. Peristiwa penyanderaan baik yang bermotif politis maupun kriminal, akan menimbulkan stres mental berat manakala si pelaku melakukan teror atau ancaman terhadap korban bilamana tuntutannya tidak dipenuhi. Misalnya, pembajakan pesawat terbang komersial oleh kelompok teroris yang mengancam akan membunuh para sandera bila tuntutannya tidak dipenuhi.Ketegangan mental para sandera akan bertambah bila menyaksikan salah seorang di antara mereka di bunuh. Selama masa penyanderaan merupakan masa tercekam dan menegangkan sambil menunggu saat pembebasan. Meskipun mereka dapat diselamatkan dari penyanderaan namun peristiwa penyanderaan yang dialaminya itu akan terekam dalam ingatannya yang sukar dilupakan. 7)Kekerasan. Bagi mereka yang mengalami dan menjadi korban kekerasan, baik yang bersifat individu apalagi kelompok akan mengalami kecemasan dan ketakutan yang amat sangat dan sukar terlupakan. Peristiwa kekerasan itu menyebabkan obsesi dalam alam pikirannya yaitu keterpakuan (persistence) dan berulang kali muncul (recurrent) terhadap peristiwa yang dialaminya. 8)Peperangan, selalu disertai dengan tindak kekerasan, perkosaan bahkan sampai kepada pembunuhan terhadap mereka yang tidak berdosa. Kekerasan yang terjadi selama perang merupakan pelanggaran HAM berat. Diberlakukannya DOM (daerah Operasi Militer) di Aceh selama pemerintahan Orde Baru ternyata banyak warga Aceh yang bukan anggota tentara GAM menjadi korban karenanya, sehingga terdapat banyak janda, anak yatim dan anak-anak lahir dari hasil perkosaan. Mereka yang mengalami trauma mental karena menyaksikan ayah/suami dibunuh atau ibu/istri di perkosa di hadapan mereka. 9) Kriminalitas. Tindakan kriminalitas dewasa ini seringkali disertai dengan kekerasan yang banyak terjadi khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, surabaya dan lain-lain. Sebagai contoh, perampokan tidak hanya harta benda yang dijarah tetapi penghuninya seringkali dianiaya, diperkosa bahkan sampai dibunuh. Perampokan juga terjadi di jalan raya yang dilakukan oleh kelompok penjahat yang dikenal kampak merah atau orang lain yang bersenjata api. Mereka yang menjadi korban tindak kriminal sebagaimana contoh di muka dapat menderita stres mental karena pengalaman yang traumatis tadi. 10)Perkosaan. Kasus perkosaan akhir-akhir ini semakin meningkat dan yang menjadi korban pada umumnya kaum perempuan yang baik-baik dan berbusana tidak seronok. Dari pengamatan ternyata pemicu perkosaan adalah pornografi dan NAZA. Perkosaan setelah membaca atau melihat gambar/tayangan pornografi dan atau mengkonsumsi NAZA akan kehilangan kendali diri sehingga dorongan-dorongan agressivitas dan seksual yang ada pada dirinya tidak lagi mampu dihambat. Korban perkosaan akan mengalami trauma mental yang berlanjut pada gangguan jiwa bahkan ada yang melakukan bunuh diri. 11) Kecelakaan. Kecelakaan transportasi baik di darat, di laut maupun di udara banyak terjadi karena kesalahan manusia (human eror), kesalahan teknis atau alat transportasi yang tidak layak pakai. Korban akan mengalami ketegangan mental menjelang akan terjadinya kecelakaan itu bila mana yang bersangkutan sudah mengetahui apa yang akan terjadi, atau korban akan mengalami keterkejutan manakala tiba-tiba terjadi kecelakaan sementara yang bersangkutan tidak menyadari sebelumnya, kedua hal tersebut di atas akan menimbulkan shock mental bagi yang mengalaminya. 12)Bencana Alam. Seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin puyuh, gunung meletus dan lainnya tidak hanya memporak porandakan sarana dan prasarana tempat pemukiman, gedung-gedung, jalur hubungan darat dan telekomunikasi, tetapi juga korban jiwa. Bagi mereka yang selamat, peristiwa bencana alam itu bukan merupakan bencana yang sifatnya fisik dan harta benda saja, tetapi lebih pada trauma mental yang tidak mudah dilupakan.

 

Reaksi umum psikologis terhadap stressor dimunculkan dalam beberapa gejala seperti yang dituliskan oleh Kelompok Pelayanan Kesehatan Mental Terkait Bencana Alam dan Trauma, Bandung 2005, antara lain : 1) Dampak emosional. Ditandai dengan perilaku : terkejut, marah, sedih, mati rasa, merasa dihantui, bersalah, duka yang mendalam, terlalu perasa, merasa tidak berdaya, bebal dan tidak lagi mampu merasa senang serta bahagia dengan aktivitas sehari-harinya. Disosiasi, berupa keberulangan dalam pikiran tentang bencana yang telah terjadi, merasa terpaku dan dikendalikan oleh kejadian-kejadian atau keterpakuan bencana. 2) Dampak fisik : kondisi fisik sangat lelah, sulit bahkan tidak bisa tidur, gangguan tidur, sangat mudah tersentuh perasaan dan ingatan, keluhan-keluhan yang mengarah pada gangguan syaraf, sakit kepala, reaksi-reaksi yang menggambarkan kegagalan dalam sistem kekebalan tubuh, buang air kecil, libido meningkat atau justru menurun drastis.3) Dampak kognitif : sulit atau tak bisa lagi berkonsentrasi, tidak mampu membuat keputusan-keputusan, gangguan dalam mengingat, sulit mempercayai informasi-informasi, kebingungan, menyalahkan diri sendiri, khawatir atau cemas, perhatian mudah teralihkan.4) Dampak relasi dengan orang lain : membatasi dan menarik diri dari pergaulan, menghindar dari relasi-relasi sosial yang ada, meningkatnya konflik dalam hubungan dengan orang lain, keikut sertaan dalam suatu pekerjaan/sekolah dan prestasi menurun.

 

Secara khusus, bentuk-bentuk  reaksi umum pada anak-anak dapat dikenali dengan beberapa gejala sebagai berikut. 1) Usia 1-6 tahun : tidak berdaya dan pasisf, kurang tanggap, ketakutan dalam banyak hal, mudah bingung, sulit/lambat berpikir, sulit mencari kata-kata untuk mengungkapkan kejadian, sulit merumuskan perasaan, mimpi buruk, sulit tidur, takut tidur sendiri, gejala regressi ( ngompol,hilangnya kemampuan berbicara, tidak terampil menggunakan motorik, ketidak mampuan memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, kecemasan akan kematian, dukacita, gejala somatik (sakit perut, sakit kepala), reaksi bengong pada suara-suara keras, ketidak mampuan bergerak tiba-tiba, menangis tanpa sebab, menolak melihat atau mendengar hal-hal yang berkaitan dengan trauma. 2) Usia 6-11 tahun : menceritakan berulang-ulang kejadian yang menakutkan/menyedihkan, mimpi buruk, takut tidur sendiri, mudah khawatir/gelisah dan selalu berpikir tentang bahaya yang mengancam, takut untuk menghayati perasaan atau reaksi yang berkaitan dengan kejadian, sangat terpengaruh dengan kecemasan orang tua, penolakan terhadap sekolah, khawatir akan keselamatan orang lain, menunjukkan beberapa perubahan tingkah laku, suasana hati dan kepribadian/sifat, gejala somatik ( sakit perut, sakit kepala , sakit badan lainnya, ketakutan dan kecemasan pada hal-hal di sekitarnya, menarik diri, regressi, cemas karena terpisah dari pengasuh, tidak mau ikut kegiatan, bingung dan sulit mengerti tentang kejadian yang dialami, tidak bisa paham tentang kematian bencana/musibah, menghayal dan mencoba memahami kejadian yang menimpanya, hilangnya kemampuan untuk berkonsentrasi di sekolah dan prestasi cenderung menurun, tingkah laku yang kacau, terganggu atau membingungkan.

 

Bentuk bentuk reaksi stres spesifik  terhadap stressor dapat dibagi atas tahapan-tahapan. 1) Tahap Emergency . Sejak 1-4 hari. Reaksi stres ekstrim sekitar trauma. Ciri umum : gejala-gejala yang meuncul selama atau segera setelah pengalaman bencana.2) Early post impact. Sejak 2hari – 1 bulan. Gangguan stress akut. Ciri umum : berkembangnya kecemasan, dissosiasi dan symptom lain yang muncul dalam masa sebulan (2 hari hingga 4 minggu setelah kejadian bencana).3) Restoration. Mulai bulan ke dua. Gangguan stres pasca trauma. Respon stres traumatik yang bertahan lama.

 

II. Dianetik

Dianetik berarti melalui pikiran atau ingatan. Dikemukakan oleh L.Ron Hubbard pada tahun 1950. Seorang yang berjiwa sosial, ahli filsafat dan ilmuwan yang menemukan dan mengembangkan beberapa teknologi mengenai alam pikiran. Menurut Hubbard, pikiran  merekam dan menyimpan setiap peristiwa di dalam kehidupan. Rekaman ini ada dalam bentuk gambar-gambar mental. Setiap pengalaman yang dialami terekam di alam pikiran  dan tersimpan dalam bentuk gambar-gambar mental . Setiap gambar memiliki data yang ada pada saat itu.

 

Dianetik didasarkan pada tiga konsep dasar yaitu  tujuan hidup manusia, alam pikiran sebagai sumber penyakit mental dan terapi.

a.     Tujuan hidup manusia

Alam semesta mengandung waktu, ruang, energi dan kehidupan. Bermula dari satu titik asal  dan diperintahkan untuk berjalan ke suatu tujuan yang hampir tidak terbatas. Keempatnya hanya memperoleh perintah mengenai apa yang harus dilakukan yaitu “ Bertahanlah untuk hidup!”.Tujuan hidup dapat dianggap sebagai suatu perjuangan yang tidak terbatas untuk bertahan hidup. Manusia sebagai satu bagian hidup dalam semua tindakan dan tujuannya akan mematuhi satu perintah   “ Bertahanlah untuk hidup”. Bertahan hidup adalah menjauhi kematian dan memperoleh keabadian. Kebutuhan menuju kesenangan adalah suatu dinamika. Kesenangan adalah hadiahnya. Usaha pencarian hadiah tersebut yaitu bertahan hidup adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Penurunan potensi untuk bertahan hidup akan mengakibatkan penderitaan. Penderitaan dibuat agar individu menjauhi kematian. Kesenangan dibuat untuk menarik individu ke arah kehidupan yang optimal. Kesenangan adalah gratifikasi : emosi yang diinginkan, secara mental maupun fisik; kenikmatan sementara; lawan dari penderitaan. Penderitaan adalah adalah kesengsaraan fisik dan kesengsaran mental.

 

Tujuan “bertahanlah hidup” memiliki dinamika tunggal yang terdiri terdiri empat bagian kekuatan : 1) Dinamika satu : dorongan untuk bertahan hidup bagi individu sendiri.2) Dinamika dua : dorongan untuk menuju keabadian melalui anak-anak dan keturunan termasuk di dalamnya bertahan hidup melalui kegiatan seksual. 3) Dinamika tiga : dorongan bagi individu ditinjau dari sudut pandang kepentingan kelompok di dalamnya termasuk  sebuah club, kesatuan militer, kota, negara.4) Dinamika empat mencakup dorongan bagi individu menuju keabadian ras manusia secara keseluruhan. Keempat dinamika ini sama kuatnya. Semua tujuan hidup manusia dianggap berada dalam spektrum ini .

 

Prestasi tertinggi manusia adalah ketika dapat menyelesaikan sebuah persoalan dengan menguntungkan keempat dinamika tersebut. Meskipun mengorbankan satu orang untuk eksperimen medis masih dapat diterima bila hasilnya dapat membawa kebaikan kepada kehidupan seluruh ummat manusia.

 

Tujuan mutlak pertahanan hidup adalah keabadian atau pertahanan hidup yang tidak terbatas. Imbalannya adalah kesenangan. Hukuman atas kegiatan yang merusak adalah kematian yaitu keadaan dimana ia sepenuhnya tidak dapat bertahan hidup. Hukuman itu adalah penderitaan/nyeri.

 

 

 

       2. Alam pikiran analitik dan reaktif

Alam pikiran terdiri dari  alam pikiran  analitik dan alam pikiran pikiran reaktif.

 

a. Alam pikiran analitik

Pikiran analitik memiliki monitor yang berfungsi sebagai pusat kesadaran (awareness) dan mengendalikan alam pikiran. Alam pikiran analitik merekam dan menyimpan ribuan gambar setiap jam dalam kehidupan dengan cara yang sama seperti komputer merekam dan menyimpan data. Gambar-gambar ini direkam dalam urutan waktu dari saat pertama kehidupan sampai akhir hayat. Alam pikiran analitik memiliki bank memori standar. Agar bisa beroperasi, alam pikiran harus memiliki data tanggapan (percepts) yaitu sensasi atau kesan yang dapat dikenali yang diterima oleh pikiran  melalui panca indra. Setiap tanggapan tunggal akan disimpan sebagai sebuah konsep yang diibaratkan seperti arsip yang  disimpan dalam bank-bank standar . Arsip-arsip ini dimulai sejak di dalam kandungan dan terus bertambah terus secara berurutan selama hidup  termasuk pada saat tidur kecuali pada momen ketidak sadaran (unconsciousness) yaitu pada saat pengurangkenalan, penurunan daya kerja alam pikiran analitik. Jumlah materi yang tersimpan dalam bank memori standar ini ibaratnya disimpan di dalam beberapa perpustakaan dengan metode penyimpanan yang sama, sehingga potensi recallnya (pengingatan kembali) adalah seratus persen. Sumber error dalam kumputasi “rasional” muncul akibat data yang tak cukup atau data yang salah. Alam pikiran analitik akan memeriksa dan membandingkan pengalaman baru dengan pengalaman lama, membentuk kesimpulan baru berdasarkan kesimpulan lama, mengganti kesimpulan lama dan selalu sibuk berupaya agar tetap benar.

 

b. Alam pikiran reaktif

Alam pikiran reaktif bereaksi atas individu dan menyebabkan individu bereaksi dan bukan menghadapi permasalahan secara rasional. L.Ron Hubbard menemukan bahwa pikiran reaktif beroperasi di bawah kesadaran seseorang dan memiliki kekuatan untuk menggeser pikiran analitik (pikiran rasional). Pikiran reaktif beroperasi atas dasar responsif akan stimulasi. Pikiran reaktif tidak berpikir tetapi hanya bertindak. Bekerja hanya berdasarkan responsif atas stimulasi. Alam pikiran reaktif memiliki bank engram yaitu penampungan data yang bertugas melayani alam pikiran reaktif.  Pada saat terjadi ketidak sadaran maka terjadi kekosongan pada alam pikiran analitik, misalnya, akibat anestesi, obat-obatan, cedera atau kejutan. Semua data yang tidak terekam pada bank standar akan tersimpan di dalam bank engram. Emosi yang menyakitkan, nyeri (rasa sakit) fisik tersimpan dalam bank engram. Alam pikiran reaktif adalah sumber semua aberasi (pemikiran irrasional). Alam pikiran ini  menghalangi recall pendengaran, membuat orang tuli nada, mengakibatkan gagap, alergi, sinusitis, masalah jantung, darah tinggi, penyakit somatik termasuk pilek. Alam pikiran  yang membuat perang sebagai sesuatu yang menakutkan, mengakibatkan anak-anak kecil menangis, menjadikan manusia ragu dalam bertindak.

 

Bank reaktif tidak menyimpan memori tetapi yang disimpan adalah engram yaitu rekaman lengkap, sampai rinci sekecil-kecilnya atas tanggapan  penglihatan, suara, bau, pengecapan dan penginderaan organik dan lain-lain dalam satu momen ketidak sadaran. Hubbard menggunakan kata engram sebagai sebuah jejak yang pasti dan permanen yang ditinggalkan suatu stimulus pada protoplasma tissue. Engram dan memori memiliki perbedaan yang jauh. Memori adalah semua konsep yang tersimpan dalam memori yang dapat direcall kembali. Contohnya: suatu pemandangan yang ditangkap oleh mata dan ditanggapi oleh indra lainnya, direkam dalam bank memori dan kelak dapat direcall sebagai satu acuan. Pengalaman akan tersimpan dalam memori. Engram bukanlah pengalaman. Engram adalah tindakan yang diperintahkan. Engram adalah satu bentuk pertahanan hidup. Engram dapat melekat ke setiap dan semua sirkuit tubuh secara permanen dan akan berperilaku sebagai satu kesatuan. Engram memiliki sumber tenaga yang tidak ada habisnya untuk mengendalikan tubuh dan bertambah kuat bila diaktifkan.

 

Terdapat tiga jenis engram yang kesemuanya bersifat aberatif (irrasional). Pertama adalah engram kontra-pertahanan hidup. Mengandung nyeri fisik, emosi yang menyakitkan serta semua tanggapan dan tantangan lain terhadap organisma yang bersangkutan. Seorang anak yang dilumpuhkan dan dianiaya oleh pemerkosa akan memiliki engram jenis ini. Engram kontra pertahanan hidup mengandung antagonisme yang nyata (actual) terhadap organisma tersebut. Kedua adalah engram pro-pertahanan hidup ( mendukung pertahanan hidup). Seorang anak yang teraniaya, jatuh sakit. Kemudian diberitahu pada saat “tidak sadar” bahwa ia akan dirawat baik , bahwa ia sangat dicintai. Engram ini bukanlah engram pertahanan hidup melainkan engram pro-pertahanan hidup. Ketiga, engram emosi yang menyakitkan. Engram ini diakibatkan kejutan akibat kehilangan yang tiba-tiba, misalnya kematian orang yang dicintai.

 

Bank alam pikiran reaktif hanya berisi engram. Alam pikiran ini berpikir dari sudut pandang identik atau identitas-identitas, di mana semua hal identik dengan hal lainnya. Contoh, jika alam pikiran analitik melakukan komputasi terhadap apel dan ulat, maka yang dihasilkannya adalah sebagian apel ada yang mengandung ulat, sebagian lain tidak, saat menggigit sebuah apel, kadang-kadang kita menemukan ulat di dalamnya, kecuali apel sebelumnya sudah disemprot dengan baik, ulat akan meninggalkan lubang dalam apel. Sedang alam pikiran reaktif akan melakukan komputasi atas apel dan ulat sebagaimana isi bank engram sebagai berikut : apel adalah ulat adalah gigitan adalah lubang dalam apel adalah lubang dalam semua benda adalah apel dan selalu ada ulat adalah gigitan . Hasil komputasi alam pikiran analitik mencakup komputasi kalkulus yang paling rumit, pergantian logika simbolik yang selalu berubah, komputasi yang diperlukan untuk membangun gedung atau membuat baju. Setiap persamaan matematik yang pernah dilihat manusia berasal dari alam pikiran analitik dan dapat digunakan oleh alam pikiran analitik untuk memecahkan masalah paling rutin sekalipun. Tetapi tidak halnya dengan alam pikiran reaktif. Alat mini amat sangat sederhana sehingga bisa dikatakan bahwa dalam operasinya ia hanya memiliki persamaan A=A=A=A.

 

 

          c. Terapi Dianetik

Dianetik adalah satu model terapi yang dapat digunakan untuk membuat seseorang yang memerlukan dianetik (pre clear) menjadi clear dengan bantuan auditor ( pendengar) dalam auditing (proses pemberian bantuan). Caranya adalah dengan membantu pre clear merecall dalam proses menghadapi langsung emosi-emosi negatif yang terekam dalam engram pada alam pikiran reaktif. Sehingga individu tersebut dapat merasakan kebahagiaan dan kesuksesan. Seseorang yang clear (jiwa yang bersih) adalah seseorang yang tidak mengalami repressi, bertindak berdasarkan self determinism dan memiliki kemampuan untuk menanggapi, recal, return, berimajinasi, mencipta dan memperhitungkan sesuatu. Tujuan dianetik adalah membantu individu menjadi  clear. Tujuan ini dapat dicapai dengan sedikit kesabaran, belajar  dan bekerja.

 

Dianetik dapat dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut :

1.     Yakinkan praclear bahwa ia akan mengetahui semua yang terjadi. Sesi ini dilakukan dengan duduk berhadapan dengan praclear. Pada praclear dikatakan bahwa ia akan tetap menyadari semua yang terjadi dalam sesi ini.

2.     Perintah praclear untuk menutup mata

3.     Memasang pembatal, dengan mengatakan pada praclear bahwa semua yang terjadi pada saat auditing tidak berpengaruh di luar auditing tersebut.

4.     Kembalikan praclear ke masa lalu, dengan meminta preclear mencari sebuah kejadian di masa lalu dengan memintanya kembali ke awal kejadian tersebut.

5.     Bekerjasama dengan penata arsip untuk mendapatkan datanya, dengan mengatakan telusuri kejadiannya dan katakan apa yang terjadi sewaktu praclear menelusurinya.

6.     Ulangi kejadian, dengan mengatakan kembali ke awal kejadian dan telusuri lagi dan cari data-data yang lain yang bisa ditemuinya. Kemudian dilanjutkan dengan menelusuri kejadian lain hingga clear merasa gembira saat menelusuri kejadian tersebut.

7.     Membawa praclear ke masa sekarang.

8.     Memberikan praclear perkataan “batal”.

9.     Memulihkan seluruh kesadaran praclear akan sekelilingnya.

III. Perbandingan Dianetik dengan Konseling Traumatik

 

Penggunaan dianetik sebagai terapi dalam trauma dapat dijelaskan dengan membandingkan beberapa aspek yang terkait dengan pelaksanaan konseling traumatis sebagai berikut :

a)     Tujuan : tujuan dianetik yaitu kondisi clear. Hal ini  sejalan dengan tujuan konseling traumatis pada umumnya yaitu pemulihan individu pada keadaan sebelum trauma. Dianetik  dapat melakukan clear terhadap engram yang berisi trauma sehingga dapat menghadapi kejadian trauma tersebut secara rasional. Tetapi juga sekaligus membantu individu untuk menjadi clear terhadap emosi negatif lain yang tersimpan dalam engram yang membuatnya teraberasi           ( penyimpangan pemikiran rasional) yang ikut direcall di luar kejadian trauma tersebut.

b)    Fokus : konseling trauma fokus kepada masalah yang terjadi dan dialami sekarang. Tetapi dianetik fokus kepada masa lalu , saat kejadian tersebut berlangsung. Dengan mengalami kembali kejadian yang membuat trauma di alam pikiran, individu diharapkan dapat menemukan faktor penyebab masalah yang dialami saat ini. Sehingga ia bisa menghadapi masalahnya sekarang dengan clear.

c)     Proses : konseling trauma dilakukan dengan tatap muka (face to face). Dianetik juga dilakukan dengan tatap muka dengan kursi berhadapan langsung dan dengan mata tertutup. Hal ini dilakukan agar individu dapat lebih mudah kembali menelusuri kejadian di alam pikirannya tanpa terganggu dengan situasi pada saat auditing berlangsung.

d)    Pelaksana : konseling dilakukan oleh konselor atau orang yang sudah dilatih untuk melakukan prosedur konseling. Dianetik dilakukan oleh auditor, seseorang yang sudah mendapat pelatihan auditing.

e)     Prosedur : konseling dilakukan atas beberapa tahapan (UPI, 2004).  Pada tahap pembuka : membangun hubungan, memperjelas dan mendefinisikan masalah trauma, membuat penjajakan alternatif bantuan, menegosiasikan kontrak. Tahap pertengahan : menjelajahi dan mengeksplorasi trauma, menjajaki agar hubungan konseling selalu terpelihara, melaksanakan konseling sesuai kontrak. Tahap akhir konseling :menurunnya kecemasan traumatik, munculnya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, adanya tujuan hidup yang jelas, terjadinya perubahan sikap. Dianetik dilakukan dengan sepuluh langkah yaitu meyakinkan praclear terhadap  prosedur, perintah menutup mata, memasang pembatal, mengembalikan preclear ke masa lalu, bekerjasama menata arsip, mengulangi kejadian, menemukan kejadian selanjutnya, membawa praclear ke masa sekarang, memastikan praclear ada di masa sekarang, berikan kata pembatal dan pulihkan kesadaran preclear.

Prosedur dianetik dan konseling trauma dilakukan melalui tahapan. Pada konseling dilakukan dengan mata terbuka tetapi pada dianetik mata terbuka. Auditor menggiring praclear dengan kata-kata standar. Konseling dilakukan dengan pembicaraan yang sepadan dengan arah yang dituju.

f)      Waktu : Konseling dapat dilakukan pada waktu yang disepakati. Dianetik juga dilakukan dalam waktu yang disepakati, tetapi waktu persesi auditing tidak lebih dari dua jam dan jarak antara auditing pertama ke auditing berikutnya sekitar 2- 4 hari.

g)     Model : konseling trauma dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yang relevan termasuk dengan melibatkan significant person. Dianetik langsung berhubungan dengan pra clear.

h)    Pelatihan : keterampilan konseling sederhana dapat dilakukan kepada individu dengan karakteristik tertentu dan akan bekerja sesuai dengan kemampuannya. Refral akan dilakukan kepada konselor ahli bila menghadapi situasi yang di luar kemampuannya. Dianetik dapat dilatihkan kepada orang dewasa yang berminat dengan melewati tahapan workshop dan sertifikasi. Waktu yang diperlukan berkisar 24 sesi.

i)       Alat : konseling tidak memerlukan alat khusus. Dianetik memerlukan kartu prosedur standar.

 

Berdasarkan hasil analisa terhadap perbandingan dianetik dengan konseling trauma dapat disimpulkan bahwa dianetik dapat digunakan sebagai satu teknik terapi dalam trauma dengan ciri systematic desentisization ( penghapusan secara sistematis) emosi-emosi negatif pada engram yang terdapat pada alam pikiran reaktif dan menghadapinya secara rasional sehingga kejadian tersebut dapat di simpan pada bank standar yang terdapat pada alam pikiran analitik.

 

Pengalaman dalam menerapkan dianetik pada preclear korban gempa dan gelombang Tsunami di Aceh Nanggro Darussalam menunjukkan bahwa dianetik dapat dilakukan pada anak-anak usia remaja dan dewasa. Ada kemungkinan preclear mengalami kejadian somatis pada saat auditing sehingga diperlukan keterampilan dalam menggiring praclear kepada pikiran yang menyenangkan dan mencegah terjadinya lock (suatu momen analitis dimana perspektif dari engram telah didekati, sehinga merestimulasi engram tersebut atau membuatnya aktif dan perspektif saat ini akan diinterpretasikan secara keliru oleh alam pikiran reaktif agar kondisi yang sama yang dulu pernah menghasilkan rasa sakit fisik sekarang terulang lagi). Tantangannya adalah muncul rasa kebosanan dan kelelahan pada praclear. Auditor dapat mencermati keadaan ini karena kebutuhan individual sangat bervariasi. Dianetik tidak bisa dilakukan dalam keadaan lapar,  sedang dalam pengaruh obat-obatan dan minuman keras. Untuk individu yang sedang  dalam perawatan medis yang memerlukan obat diperlukan waktu seminggu setelah usai perawatan untuk menetraliser pengaruh obat terhadap alam pikiran.

 

    IV.          Penutup

Menggunakan dianetik sebagai terapi  traumatis sangat memungkinkan. Apalagi dianetik tidak hanya memulihkan kondisi trauma tetapi juga membantu preclear menjadi clear. Sehingga individu akan merasakan peningkatan semangat, kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidupnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Bacaan

L.Ron.Hubbard. 1999. Dianetic. Denmark : New Era

……………….. 2005. Dianetics. A Visual Guidebook to The Mind. USA :

Golden Era.

Scientology International. 2005. Panduan dianetik..

UPI dan DEPDIKNAS. 2004. Modul Pendampingan Konseling Traumatis dan

 Pengajaran Remedial. 

UPI dan DEPDIKNAS. 2004. Modul Intervensi Psikopaedagogis bagi Siswa dan

Guru Yang Mengalami Trauma. 

Dadang Hawari. 2004. Stres, Cemas dan Depressi. Jakarta : FK UI

Kelompok Pelayanan Kesehatan Mental Terkait Bencana Alam dan Trauma.

2005. Penanganan Darurat Kesehatan Mentak Pasca Bencana Khusus Untuk Anak-Anak Yang Jadi Korban (Survivor