Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Saya Ingin Lebih Banyak Di Rumah

Oleh Admin 12-10-2015 09:57:25

Buat anda mana yang lebih penting: high profile low profit, atau low profile high profit? Maksudnya enakan mana, gaya keren tapi kanker alias kantong kering … atau nggak ada gaya sama sekali, tapi duit banyak, hidup pun lebih bebas?Ini memang soal pilihan. Saya bisa memaklumi, sah-sah saja apapun pilihan Anda. Anda ingin bekerja di lantai 27 gedung paling canggih di dunia, monggo. Anda bekerja pakai dasi lengkap dengan jas, silakan. Tetapi buat saya, itu tidak lagi terlalu penting. Saya lebih senang hidup bebas, pakai baju santai, jalan dengan istri dan anak-anak kapanpun saya mau, dan nggak usah pakai sepatu. Entah mengapa saya malas sekali pakai sepatu. Ya saya lebih senang memilih low profile deh. Tapi kalau bisa high profit dong. Biarlah orang bilang saya nggak keren. Biarlah….

Mengapa? Saya sudah janji pada diri saya sendiri bahwa saya akan sering berada di rumah. Saya juga janji pada diri sendiri saya akan ikut membesarkan anak-anak saya. Saya merasa bahagia sekali bila setiap hari, dari pagi sampai malam saya selalu bisa bersama anak-anak. Saya tahu betul anak-anak saya hanya menginginkan kehadiran papa dan mamanya. Saya punya impian. Saya ingin jadi full time parents. Selalu disamping anak-anak saya, lebih-lebih karena masih sangat kecil-kecil. Masih balita.

Kalau hidup saya kayak gitu, seharian di rumah aja, lalu bagaimana dengan urusan dapur? Ya, memang ini masalah serius buat saya. Apalagi saya tak punya banyak keahlian. Saya nggak bekerja di perusahaan manapun. Saya pun tidak lagi berbisnis (dalam arti bisnis dengan format yang dikenal pada umumnya). Tapi untuk mendapatkan impian itu saya memang harus berani membayar harganya.

Apa yang harus saya lakukan? Saya hanya punya impian. Tapi saya juga punya masalah finansial.

Saya pernah belajar, untuk bisa hidup seperti itu saya harus punya passive income. Itu pula yang diajarkan Robert Kiyosaki ketika saya sempat menghadiri salah satu seminarnya di Jakarta. Mungkin seharusnya bisnis network marketing yang saya pilih, sebab passive income nya memang luar biasa sehingga apapun impian manusia di dunia ini, pasti bisa diwujudkan. Memang enak sekali, jika uang dan waktu bukan lagi sebuah masalah.

Saya ingin sekali hidup bebas, tak punya masalah dengan uang dan waktu. Karena itu secara perlahan-perlahan saya mulai merintis usaha network marketing ini. Akan tetapi saya juga punya impian gimana caranya saya tetap bisa jadi fulltime parents sejak sekarang-sekarang ini. Saya tak ingin sibuk diluaran sana. Saya ingin sibuk mengembangkan potensi jenius anak-anak saya.

Yang jadi masalah saya adalah anak-anak saya justru butuh saya ya sekarang ini, saat usianya 2,5 tahun dan yang satunya 3,5 tahun. Kalau saya tunggu berhasil dulu di bisnis network marketing maka saya terpaksa mengorbankan waktu penting anak-anak saya. Justru saya ingin sebelum usia 5 tahun anak-anak saya sudah “berhasil” seperti yang saya impikan. Bukan nanti. Bukan 2 – 5 tahun lagi. Sebab kalau saya lakukan itu, maka saya sudah terlambat. Saya sadar betul, 50% pertumbuhan potensi dewasa anak-anak saya “dicetak” justru ketika ia masih berusia 2 sampai 4 tahun, dan masih berlanjut hingga 80% nya sampai usia 8 tahun. Buat saya ini soal impian saja.

Inilah masalah saya. Saya tahu resikonya, karena itu saya mungkin harus mengantongi ego saya. Saya harus siap dipandang “bodoh” oleh orang lain, termasuk keluarga dan teman-teman dekat saya. Saya harus mampu bertahan dan bersabar dalam berbagai kesulitan. Alhamdulillah saya tetap bahagia walau memang belum sejahtera banget. Demi sebuah impian… biarlah.

Mulailah saya mencari dan mempelajari bagaimana cara mewujudkannya. Saya menemukan keasyikan tersendiri. Bisa dikata, saya jadi kecanduan.

Saya lega sekali. Saya senang sekali. Saya mulai menemukan “sesuatu” yang berharga. Sesuatu yang dapat mewujudkan impian saya. Betapa tidak, pagi sampai malam saya bisa bekerja, berbisnis, belajar, sambil bercanda dan bermain dengan anak-anak saya.

Saya jadi paham betul betapa enaknya hidup tanpa hutang. Betapa indahnya hidup tak punya beban. Saya bisa mengatur berapa penghasilan yang saya mau dan waktu yang saya mau. Luar biasa!

*** Penulis: Nilna Iqbal

sumber : pustakanilna.com