Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Makna Sebuah Persaudaraan

Oleh Admin 12-10-2015 10:32:32

Orang bilang, dunia ini panggung sandiwara. Di sana berlangsung drama besar hidup manusia. Dengan tiap diri selaku pemain utama. Dengan peran masing-masing yang saling berbeda. Dengan penampilan yang bukan jati diri sebenarnya. Dengan bersembunyi di balik polah aneka rupa. Sebagai wujud pelarian diri yang terlunta-lunta. Akibat jalan hidup gelap-gulita. Sebab menghindari sinar terang ilahi sebagai penuntun hidupnya …!

Hingga, jangan heran kalau hubungan antara sesama … hubungan antar manusia, antar pribadi … antara kau dan aku … jarang bisa bersua. Malah, bukan suatu yang mustahil, kita tak ‘kan pernah saling saudara. Dalam sebuah persaudaraan yang sejati.

Yaitu persaudaraan dimana “engkau” bukan lagi seorang “asing”, seorang “dia”. Persaudaraan dimana “engkau” bukan lagi orang “antah-barantah” yang kebetulan bertatap muka. Bukan lagi persaudaraan karena engkau berguna buat saya. Bukan lagi persaudaraan karena kau dan aku sering jumpa. Bukan lagi persaudaraan lantaran kita saling menyapa. Bukan pula persaudaraan lantaran kita pintar menjawab salam. Bukan pula persaudaraan lantaran kita satu tempat teduh, satu organisasi ataupun satu bangsa. Apalagi lantaran mahir bersandiwara!

Tapi, lebih dari segala itu. Lebih dari sekedar saling sapa. Lebih dari sekedar saling jabat. Pun lebih pula dari sekedar diskusi, tarik suara. Sebab bukan suatu kemustahilan segala itu hanya pura-pura. Sekedar tenggang rasa. Sekedar ingin menunjukkan kita pun masih bisa sopan di tengah galauan massa …!

Ya, itulah persaudaraan dimana ‘kau’ dan ‘aku’ melebur jadi ‘kita’. Menyatu dalam suka dan duka. Bersatu dalam suatu kebersamaan yang dalam tapi nyata. Dengan silaturrahmi jembatan emasnya. Ia ‘kan jauh melebihi cinta. Bertahta dalam kemaujudan dan tetesan syorga. Bersemayam dalam hati insan penuh iman yang yang saling bersaudara. Di sana baru menjelma satu cita-cita. Duhai … siapa takkan iri melihatnya???!

Jenjang-Jenjang Persaudaraan
Manusia … siapa pun dia, senantiasa saling berhubungan sesamanya. Antara orang tua dengan anak. Antara suami dengan istri. Antara kakek dengan nenek. Antara buruh dengan majikan. Antara anggota dengan pimpinan. Antara kau-aku-mereka-kita … pendek kata, semua!

Namun, bila kita amati baik-baik, ternyata interrelasi tersebut seolah tersusun atas 3 tangga (tingkat). Mulai dari tangga paling bawah, yang lebar hingga di atasnya banyak manusia. Sampai tangga tertinggi, yang kecil dengan sedikit manusia di sana. Sebab memang tak seberapa yang sanggup menggapainya. Pertanyaan pun muncul. Posisi kita di mana?

Tangga Pertama: Basa-Basi
Inilah tingkat/tangga persaudaraan yang paling rendah. Paling lemah. Bahkan boleh dibilang, inilah persaudaraan pura-pura! Pada tangga ini, biasanya ucapan yang keluar cuma sekedar basa-basi. Misalnya: “Hei, apa kabar? … Mau ke mana? … Bagaimana keadaanmu sekarang? Wah, kau tambah cantik aja! … Mampir sebentar, yaa?”

Padahal itu hanya basa-basi. Ia terlontar sekedar “mengisi kekosongan”, membuyarkan kecanggungan dan kekikukan. Masing-masing berada dalam sikap “pura-pura”. Kita waktu itu tak bermaksud apa-apa dengan kata-kata itu. Ingin tahu pun, tidak!

Inilah persaudaraan yang biasa terjadi dalam bus, pesta-pesta atau “ngomong-ngomong” dengan tetangga. Tiada terjadi pertemuan, apalagi persaudaraan. Dalam arti yang sebenarnya. Masing-masing cuma berpura-pua, bersandiwara atau hanya omong-kosong sekedar sopan-santun. Ya, hakekatnya mereka tetap ‘sendiri’, sekalipun duduk berdua, berada bersama.

Memang bukan hal yang aneh kalau itu terjadi lantaran baru berkenalan, baru saling jumpa. Tetapi, kenyataan sering menunjukkan lain. Kendati hampir setiap hari jumpa, yang terjadi tak lebih dari sekedar saling angguk, saling sapa (kadang salam seenaknya), saling menaikkan pipi lalu … tersenyum. Biarpun cuma pura-pura!

Lebih mengkhawatirkan lagi … mereka sering bertemu-muka. Tiap kali bertemu, masing-masing berucap salam, “Assalamu’alaikum”. Tapi hanya basa-basi! Tak tergerak sedikit pun di hatinya persembahan salam keselamatan pada saudaranya sesama seiman. Inilah persaudaraan yang amat tak berarti apa-apa!

Maka jangan heran, kalau persaudaraan umat Islam cuma sebatas tangga ini … ia takkan membuahkan hasil apa-apa. Persatuan umat Islam akan sulit terwujud dan rahmatan lil ‘alamin pun sukar dibangkitkan! Suatu yang sangat menyedihkan, bukan?

Tangga Kedua: Dialog DuaTempurung Kepala
Yang ini, mulai sedikit meningkat tinggi. Mereka tidak lagi bertegur-sapa dalam artian sekedar basa-basi. Mereka mengucap salam bukan lagi bersandiwara. Bukan lagi melepas “sesak nafas”. Atau takut dibilang tak sopan, dan sebagainya.

Dalam tangga kedua ini … boleh dikata, sudah mulai berlangsung dialog. Sudah mulai terjalin hubungan. Kendati masih sebatas ‘isi kepala’. Tapi yang jelas, mereka mulai sudah punya ‘nyali’ untuk mengambil resiko mengatakan pada orang lain beberapa gagasan, pendapat, putusan, dan sebagainya.

Memang, barangkali mulanya baru sampai pada tahap membicarakan orang lain. Ini timbul karena masih ada perasaan segan, perasaan malu, perasaan takut “menelanjangi” pribadi sendiri. Dalam dialog yang terjadi, kita biasanya sudah cukup puas sebatas membicarakan pikiran, gagasan dan tingkah laku orang lain. Kita masih belum berani bicara ‘kau’ dan ‘aku’.

Demikianlah, pada taraf ini, perasaan masih terselimuti kikuk, kaku, segan. Pembicaraan pun tampak seakan formil. Kalau ‘terpaksa’ ketawa, paling hanya buat “menyenangi” hati orang lain. Atau kalau tidak, ya agar ia dikatakan “tahu sopan-santun!”

Biasanya, yang demikian terjadi pada orang yang baru mulai lebih jauh berkenalan. Tapi juga sering terjadi pada orang yang sudah lama “seatap” namun selalu hidup dalam suasana formil-formilan.

Dalam suatu kelompok diskusi pun hal ini sering terjadi. Ketika sesama anggota bertemu memang ada pembicaraan, tapi kikuk sekali. Banyak ucapan dan tingkah seolah dibuat-buat. Terkadang keduanya malah salah tingkah. Bahkan tak jarang mereka merasa tersiksa sendiri dengan pertemuan tersebut …! Hingga waktu keduanya berpisah … lega sekali rasanya. Seakan baru saja melepaskan beban berat satu juta ton! Ketakutan yang paling memalukan, bukan?

Akan tetapi, setelah melalui proses sekian lama, akhirnya terjalin juga dialog yang lebih dalam. “kau”dan “aku” bukan lagi bicara ”dia”, bukan lagi bicara orang lain. Kini, ‘kita’ telah mulai berani bicara “diri kita”. Tapi, memang masih sebatas ‘isi kepala’ saja. Dialog yang terjadi baru berupa dialog antar gagasan, antar pendapat. Belum lagi “dari hati ke hati”.

Tangga Ketiga: Dialog Emosional
Inilah hubungan antar manusia dalam sebuah pertautan emosional. Dan ini pulalah yang membuat arti sebuah persaudaraan menjadi suatu pengalaman yang sangat menyenangkan.

Ya, ‘kau’ dan ‘aku’ mulai bicara isi hatinya. “Kau” mulai bersedia menyingkap sebagian dari dirimu. “Aku” pun mulai sedia hendak terjun mendekati pintu hatimu. Kita sudah mulai saling membuka diri, dalam arti sebenarnya.

Dalam taraf ini, kita tidak saja bercerita tentang isi kepala kita. Tapi lebih dari itu, isi hati kita. Apalah artinya buah-pikiranku. Isi yang memenuhi kepalaku tidak lah sesuatu yang terlalu istimewa. Orang boleh-boleh saja setuju atau tidak setuju dengan gagasanku. Kalau kulempar satu gagasan ke tengah masyarakat … mungkin banyak yang lalu mendukung pikiranku. Lalu kemudian menyebar … dan kemudian menjadi milik kita bersama. Tapi … perasaan, luapan emosional yang berada di balik gagasan itu … bahkan yang sebetulnya membangun gagasan itu … itu resmi milik kepunyaanku. Dialah khas yang membentuk diriku.

Jelas tak seorang pun akan persis sama hatinya dengan hatiku. Tak seorang pun mengalami gairah agama yang persis sama dengan perasaanku. Tak seorang pun mengalami frustasi, menderita kesakitan atau merasakan gejolak nafsu persis seperti yang aku alami. Pun tak kan persis sama perasaan kebencianku pada korupsi dengan perasaan yang juga tentu kau alami …!

Pendek kata … hatiku dan hatimu beda! Ia bergetar pada frekuensi yang pasti berbeda. Percayalah …!

*** penulis: nilna iqbal

sumber : pustakanilna.com