Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Hubungan Antara Tingkat Stres dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua dengan Perilaku Merokok Pada Remaja

Oleh Admin 12-10-2015 21:55:00

Perilaku merokok dilihat dari berbagai sudut pandang sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang di sekelilingnya. Ancaman terhadap kesehatan yang ditimbulkan oleh perilaku merokok telah didokumentasikan secara meyakinkan oleh Surgeon General of the United States dalam serangkaian laporan sejak tahun 1964. Diperkirakan lebih dari 430.000 pengguna tembakau tewas di usia muda setiap tahunnya (Davison dkk., 2006). Hasil survei Roy Tjiong dari Hellen Keller International dan Yayasan Indonesia Sehat yang dilakukan di Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Padang terhadap 155 ribu rumah tangga menyebutkan, risiko kematian populasi balita dari keluarga perokok berkisar antara 14 persen untuk daerah perkotaan dan 24 persen untuk pedesaan. Jika dikalkulasi, konsumsi keluarga miskin menyumbang 32.400 kematian setiap tahun atau sekitar 90 kematian balita per hari (Jawa Pos, 10 Mei 2009). Rokok dalam beberapa cara bertanggung jawab atas satu dari setiap enam kematian di AS, menewaskan lebih dari 1.100 orang setiap hari. Rokok menjadi satu-satunya penyebab kematian dini yang paling dapat dicegah di AS serta di berbagai negara lain di dunia (Davison dkk., 2006).
Tidak ada yang memungkiri adanya dampak negatif dari perilaku merokok, namun para perokok tetap saja tidak peduli dan tersenyum apabila diingatkan terhadap ancaman yang setiap saat akan dapat menyiksanya dalam waktu lama dan bahkan dapat merenggut nyawanya. Tidak mengherankan jika saat ini merokok seakan telah menjadi gaya hidup. Ironisnya, gaya hidup ini telah merambah usia muda, yakni remaja tanggung usia belasan. Survei Sosial Ekonomi Badan Pusat Statistik tahun 2001 dan 2004 menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi anak-anak usia 15-19 tahun yang merokok. Tahun 2001 sebesar 12,7 persen, tahun 2004 meningkat menjadi 17,3 persen. Berdasar data Global Youth Tobacco Survey 2006 yang diselenggarakan oleh Badan Kesehatan Dunia terbukti jika 24,5 persen anak laki-laki dan 2,3 persen anak perempuan berusia 13-15 tahun di Indonesia adalah perokok, di mana 3,2 persen dari jumlah tersebut telah berada dalam kondisi ketagihan atau kecanduan (www.kompas.com).
Dalam membahas etiologi (penyebab) gangguan penyalahgunaan dan ketergantungan zat ï¾ termasuk perilaku merokok, harus dipahami bahwa seorang individu menjadi tergantung pada zat umumnya melalui suatu proses. Pertama, orang yang bersangkutan harus mempunyai sikap positif terhadap zat tersebut, kemudian mulai bereksperimen dengan menggunakannya, mulai menggunakannya secara teratur, menggunakannya secara berlebihan, dan terakhir menyalahgunakannya atau menjadi tergantung secara fisik padanya. Setelah menggunakannya secara berlebihan dalam waktu lama, orang yang bersangkutan akan terikat oleh proses-proses biologis toleransi dan putus zat (Davison dkk., 2006). Leventhal & Cleary (1980) menyatakan bahwa perilaku merokok terbentuk melalui empat tahap, yaitu: tahap persiapan (preparation), permulaan (initiation), menjadi perokok (becoming a smoker), dan menjadi perokok berat (maintenance of smoking).
Beragam alasan dikemukakan terkait dorongan untuk merokok. Di antara beberapa alasan tersebut, motif meringankan ketegangan dan stres menempati urutan tertinggi, yakni sekitar 54,59 persen (lifestyle.okezone.com). Konsep stres pertama kali diperkenalkan ke dalam ilmu pengetahuan pada 1936 oleh Hans Selye (Pestonjee, 1992), seorang dokter yang memperkenalkan sindrom adaptasi menyeluruh (general adaption syndrome - GAS), suatu gambaran respon biologis untuk bertahan dan mengatasi stres fisik (Davison dkk., 2006). Menurut Selye (dalam Riggio, 1990) stres adalah respon fisiologis, emosi dan psikologis yang dialami oleh seseorang terhadap peristiwa-peristiwa yang mengancam dan membahayakan. Reaksi-reaksi fisiologis yang dimaksudkan adalah seperti meningkatnya tekanan darah, detak jantung, frekuensi pernafasan, dan juga bertambah banyaknya sekresi adrenalin. Reaksi-reaksi emosional terhadap stres termasuk perasaan-perasaan cemas, takut, dan frustrasi.
Pengetahuan tentang keterhubungan antara stres dan perilaku merokok telah menarik minat para ilmuwan dan peneliti sejak tiga dekade yang lalu sebagai hasil dari penelitian-penelitian dalam bidang genetik, neurosains, dan klinis. Penelitian-penelitian tersebut menghasilkan temuan bahwa terdapat penjelasan yang bersifat klinis dan teoritis terkait hubungan antara perilaku merokok, stres, dan coping (Fink, 2007).
Finkelstein dkk. (2006) menduga bahwa para remaja merokok karena mereka merokok dapat membuat mereka merasa rileks dan tenang. Finkelstein dkk. menyatakan bahwa tingkat stres yang tinggi berakibat terhadap meningkatnya resiko untuk merokok, baik melalui analisa terhadap data cross-sectional maupun longitudinal. Para siswa yang tidak pernah merokok sama sekali menunjukkan tingkat stres yang paling rendah. Tingkat stres para siswa yang tidak pernah merokok sama sekali berbeda secara signifikan dengan para siswa yang pernah merokok atau menjadi perokok. Booker dkk. (2004) menemukan bahwa perilaku merokok pada remaja berhubungan dengan peristiwa penuh stres dalam kehidupan sehari-hari. Para remaja yang melaporkan tingkat stres tinggi juga melaporkan tingkat merokok yang tinggi, niat yang lebih besar untuk merokok pada tahun depan, dan keinginan yang lebih kuat untuk merokok di SMU dibandingkan mereka yang melaporkan tingkat stres rendah.
Individu yang sedang dalam keadaan tertekan mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar untuk merokok dibanding individu lainnya. Seorang mantan perokok seringkali memutuskan untuk mulai merokok lagi ketika mereka mengalami stres (Brandon, 2000) sehingga dapat dikatakan bahwa pengalaman penuh stres dan perasaan negatif merupakan pemicu bagi seseorang untuk kembali merokok (Cohen & Lichtenstein, 1990).
Individu-individu dengan problem psikiatrik dan trait kepribadian tertentu yang membuat mereka lebih sering mengalami distres personal lebih cenderung untuk merokok. Individu dengan masalah psikiatri seperti gangguan major depressive, berbagai macam gangguan kecemasan, schizophrenia, gangguan kepribadian antisosial, dan individu dengan trait kepribadian tertentu yang menyebabkan mereka lebih sering mengalami distres pribadi lebih mungkin untuk merokok. Contohnya, trait kepribadian neuroticism (kecenderungan umum untuk mengalami perasaan negatif dan stres) ternyata berhubungan dengan tingginya prevalensi perilaku merokok. Penelitian terhadap keluarga, saudara kembar, dan molekul genetik menunjukkan bahwa faktor genetik ikut memainkan peran yang cukup signifikan dalam perilaku merokok dan stres. Secara lebih spesifik dapat dijelaskan bahwa terdapat banyak gen yang berperan ganda, mempengaruhi seorang individu untuk merokok dan membuat seorang individu cenderung mengembangkan trait kepribadian dan gangguan psikiatri yang berhubungan dengan stres (Fink, 2007).
Selain stres, keadaan sosial ekonomi orang tua yang terdiri dari tingkat pendidikan, penghasilan, dan pekerjaan (Paavola dkk., 2004) juga memegang peranan penting dalam perilaku merokok. Pada banyak negara berkembang, prevalensi perilaku merokok menjadi lebih besar pada kelompok sosial ekonomi rendah. Perbedaan tingkat perilaku merokok ditinjau dari status sosial ekonomi ini menjadi lebih tinggi pada para remaja dibandingkan generasi-generasi lain yang lebih tua (Cavelaars dkk. dalam Paavola dkk., 2004).
Dalam sebuah penelitian yang melibatkan para pelajar dari enam sekolah di Finlandia Timur ditemukan bahwa anak-anak dari para pekerja kerah biru (buruh) lebih banyak yang merokok dibandingkan anak-anak dari para pekerja kerah putih (pegawai kantor) atau petani (Paavola dkk., 2004). Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa status sosial ekonomi khususnya tingkat pendidikan mempunyai keterhubungan yang kuat dengan perilaku merokok. Pada subjek kelompok usia 13 tahun, 10% anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merokok sementara pada anak-anak yang melanjutkan hanya 4% yang merokok. Pada subjek kelompok usia 28 tahun, 63% subjek yang hanya mengenyam pendidikan wajib merokok sementara yang mengenyam bangku kuliah hanya 12% yang merokok.
Rachiotis dkk. (2008) menemukan bahwa usia yang semakin tua, jenis kelamin pria, tingkat pendidikan orang tua yang semakin rendah, dan ketersediaan uang saku yang cukup banyak pada masa remaja berhubungan secara signifikan dengan perilaku merokok saat ini. Secara lebih spesifik dapat dijelaskan bahwa anak-anak dari ayah yang mengenyam pendidikan lebih tinggi lebih kecil kemungkinannya untuk merokok dibanding anak-anak dari ayah yang hanya mengenyam pendidikan dasar. Ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang ayah, semakin jarang anak mereka yang menjadi perokok.
Penelitian Scragg dkk. (2002) yang dilakukan terhadap para remaja di Selandia Baru menghasilkan temuan bahwa perilaku merokok berkorelasi positif dengan jumlah uang saku yang diterima, namun tergantung pada status sosial ekonomi. Kelompok remaja dengan status sosial ekonomi rendah yang menerima uang saku lebih dari 30 dolar dalam 30 hari terakhir merupakan kelompok yang paling besar kemungkinannya untuk merokok.
Kurt Lewin (dalam Komalasari & Helmi, 2000) berpendapat bahwa perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan oleh faktor lingkungan. Dalam konteks ini, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok selain disebabkan oleh stres juga disebabkan oleh status sosial ekonomi orang tua secara bersama-sama.

DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi, Abu. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Atkinson, Rita L; Atkinson, Richard C.; Smith, Edward E. dan Bem, Darly J. Tanpa tahun. Pengantar Psikologi. Batam: Interaksara.
Azwar, S. 2006. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2007. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya Edisi ke 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2007. Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Tes Prestasi Belajar Edisi ke 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Basri, Augustine Sukarlan. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UI Press.
Booker, Cara L.; Gallaher, Peggy; Unger, Jennifer B.; Ritt-Olson, Anamara; and Johnson, C. Anderson. 2004. Stressful Life Events, Smoking Behavior, and Intentions to Smoke among a Multiethnic Sample of Sixth Graders. Ethnicity & Health, 9(4): 369-397.
Brandon, Thomas. 2000. Smoking, Stress, and Mood. H. Lee Moffit Cancer Center and Research Institute at the University of South Florida.
Brentley, Phillip J.; Waggoner, Craig D.; Jones, Glenn N.; and Rappaport, Neil B. 1987. A Daily Stress Inventory: Development, Reliability, and Validity. Journal of Behavioral Medicine, 10(1): 61-74.
Chaplin, J.P. 2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta. Rajawali Pers.
Christanto, A. 2005. Merokok: Antara Ya dan Tidak (Suatu Kajian Praktis Filsafat Ilmu), (online), (http://www.mailarchive.com/dokter@yahoo- groups.com/msg0035.html, diakses 1 Maret 2009).
Cohen, Sheldon & Lichtenstein, Edward. 1990. Perceived Stress, Quitting Smoking, and Smoking Relaps. Health Psychology, 9(4): 466-478.
Davison, Gerald C.; Neale, John M. and Kring, Ann M. 2006. Psikologi Abnormal (Edisi ke-9). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Dewi, Rohmah Sativa. 2006. Hubungan Antara Status Sosial Ekonomi Orang Tua Dengan Konsep Diri Siswa Kelas XI SMA Negeri I Babat Kabupaten Lamongan. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Ellickson, Phyllis L.; Orlando, Maria; Tucker, Joan S. and Klein MS, David J. 2004. From Adolescence to Young Adulthood: Racial/ Ethnic Disparities in Smoking. American Journal of Public Health, 94(2): 293-299.
Fink, George. 2007. Encyclopedia of Stress. 2nd ed. San Diego: Academic Press.
Finkelstein, Daniel M; Kubzansky, Laura D.; and Goodman, Elizabeth. 2006. Social Status, Stress, and Adolescent Smoking. Journal of Adolescent Health, 39:678-685.
Gibson, J.L., Ivancevich, J. M & Donnelly, J. H. 1996. Organisasi. Alih Bahasa: Djakarsih. Jakarta: PT. Gema Aksara.
Goliszek, Andrew. 2005. 60 Second Manajemen Stres. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.
Gullotta, Thomas P. & Adams, Gerald R. 2005. Handbook of Adolescent Behavioral Problems: Evidence-Based Approaches to Prevention and Treatment. New York: Springer Science.
Hawari, Dadang. 2001. Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Surabaya: Airlangga University Press.
Hurlock, B.Elizabeth. 1999. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Terjemahan oleh Istidawanti & Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.
Karch, Steven B. 1998. Drug Abuse Handbook. New York: CRC Press.
Kerlinger, Fred N. 2006. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Komalasari, Dian & Helmi, Avin Fadilla. 2000. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok Pada Remaja. Jurnal Psikologi, 28: 37-47.
Leventhal, Howard & Cleary, Paul D. 1980. The Smoking Problem: A Review of the Research and Theory in Behavioral Risk Modification. Psychological Bulletin, 80(2): 370-405.
López, M. Luisa; Herrero, Pablo; Comas, Angel; Leijs, Ingrid; Cueto, Antonio; Charlton, Anne; Markham, Wolf and Vries, Hein de. 2004. Impact of Cigarette Advertising on Smoking Behaviour in Spanish Adolescents as Measured Using Recognition of Billboard Advertising. European Journal of Public Health, 14(4): 428 432.
Mappiare, Andi. 1992. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Maramis, W.F. 1998. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta: Erlangga.
Miller, Patricia H. 1993. Theories of Developmental Psychology. 3rd ed. New York: W. H. Freeman and Company.
Monks, F.J. dkk. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. 2002. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.
Mu’tadin, Zainul. 2002. Remaja dan Rokok, (online), (http://herbalstoprokok. wordpress.com/2009/02/04/remaja-dan-rokok, diakses 28 Februari 2009).
Paavola, Meri; Vartiainen, Erkki and Haukkala, Ari. 2004. Smoking From Adolescence to Adulthood, the Effects of Parental and Own Socioeconomic Status. European Journal of Public Health, 14(4): 417-420.
Pestonjee, D.M. 1992. Stress and Coping. New Delhi: Sage Publication India.
Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 1999. (Online), (http://hukum.unsrat.ac.id/pp/ pp_81_1999.htm, diakses 25 Februari 2009).
Prevalensi Merokok pada Anak Terus Meningkat. (Online), (http://www.kompas. com/read/xml/2009/01/21/20145028/prevalensi.merokok.pada.anak.terus.meningkat, diakses 25 Februari 2009).
Psikologi Indonesia Forum. 2006. Pengaruh terapi Hipnosa Terhadap intensitas Perilaku Merokok di Kalangan Pria Dewasa Dini, (online), (http://groups. google.co.id/group/psikologi-indonesia-forum/browse_thread/thread/6c3a8-daf8702f1f7/935da65c0ebf1f93%23935da65c0ebf, diakses 3 Maret 2009)
Rachiotis, George; Muula, Adamson S; Rudatsikira, Emmanuel; Siziya, Seter; Kyrlesi, Athina; Gourgouliani, Konstantinos and Hadjichristodoulou, Christos. 2008. Factors Associated With Adolescent Cigarette Smoking in Greece: Results From A Cross Sectional Study (GYTS Study). BMC Public Health, 8: 313.
Remaja Merokok, Salah Lingkungan?, (Online), (http://lifestyle.okezone.com/ index.php/ReadStory/2008/09/12/27/145232/remaja-merokok-salah-lingku-ngan, diakses 25 Februari 2009).
Richardson, Elizabeth E. Lloyd; Papandonatos, George; Kazura, Alessandra; Stanton, Cassandra and Niaura, Raymond. 2002. Differentiating Stages of Smoking Intensity Among Adolescents: Stage-Specific Psychological and Social Influences. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 70(4): 998-1009.
Riggio, Ronald E. 1990. Introduction to Industrial/Organizational Psychology. Washington: Harper Collins Publisher, Inc.
Rini, Jacinta F. 2002. Stres Kerja, (online), (http://www.republika.co.id), diakses tanggal 3 Maret 2009).
Sadiyo. 1994. Struktur Masyarakat. Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. Malang: OPF. IKIP.
Sangaji, E, Manang. 1988. Hubungan Antara Sosial Ekonomi Dengan Pertisipasinya Di Bidang Usaha Pada Koperasi Pegawai Negeri IKIP Malang. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: PDU FPIPS IKIP MALANG.
Santrock, John W. 2002. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Penerbit Erlanga.
Sari, Ari Tris Ochtia; Ramdhani, Neila dan Eliza, Mira. 2003. Empati dan Perilaku Merokok di Tempat Umum. Jurnal Psikologi, 30: 81-90.
Schwarzer, Ralf. 2008. Stress and Coping Resources: Theory and Review, (online), (http://www.fu-berlin.de/gesund/publicat/ehps_cd/health/stress.htm diakses 3 Maret 2009)
Scragg, Robert; Laugesen, Murray and Robinson, Elizabeth. 2002. Cigarette Smoking, Pocket Money and Socioeconomic Status: Results From A National Survey of 4th Form Students in 2000. The New Zealand Medical Journal, 115.
Siziya, Seter; Rudatsikira, Emmanuel; and Muula, Adamson S. 2007. Cigarette Smoking Among School-Going Adolescents in Kafue, Zambia. Malawi Medical Journal, 19(2): 75-78.
Siziya, Seter; Rudatsikira, Emmanuel; and Muula, Adamson S. 2008. Prevalence and Correlates of Current Cigarette Smoking Among Adolescents in East Timor-Leste. Indian Pediatric, 45 : 963-968.
Soekanto, Soerjono. 2004. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
SSDC. 2000. Understanding Smoking Behavior, (online), (http://ssdc.ucsd.edu/ tobacco/reports/Chap3.pdf, diakses 3 Maret 2009).
Su’udiyah, Windawati. 2002. Hubungan Antara Sosial Ekonomi Orang Tua dan Penyesuaian Sosial Siswa Kelas II SLTPN I Pajarakan. Probolinggo. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Sukardi, Dewa Ketut. 1984. Bimbingan Karir Di Sekolah. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sunarto, K. 2000. Pengantar Sosiologi. Edisi Kedua. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Suroto. 2001. Stres. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Tan, G. Melly. 1977. Masalah Perencanaan Penelitian. Jakarta: Gramedia.
Taylor, Shelley E. 1991. Health Psychology, 2nd ed. Tokyo: Mc Graw-Hill.
Triyanti. 2006. Kebiasaan Merokok, (Online), (http://triyanti.blogspot.com/2007/ 07/kebiasaan-merokok.html, diakses 27 Februari 2009).
Umar, H. 2002. Metode Riset Komunikasi Organisasi (sebuah pendekatan kuantitatif, dilengkapi dengan contoh proposal dan hasil riset komunikasi organisasi). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Widiyarso, Joko. 2008. Iklan Rokok Merajalela, Remaja Perokok Meningkat, (online), (http://gudeg.net/news/2008/05/3595/Iklan-Rokok-Merajalela, Re-maja-Perokok-Meningkat.html, diakses 3 Maret 2009).
Winkel, W. S. 1995. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.
Winarsunu. 2002. Statistik Teori dan Aplikasinya dalam Penelitian. Jilid 1. Malang: UMM Press.
Woolfolk, A.E. 1993. Education Psychology. Boston: Allyn and Bacon.

*)Ditulis oleh Abdur Rohman, S.Psi.
Mahasiswa Alumni Universitas Negeri Malang
Dalam Skripsinya yang berjudul :
Hubungan Antara Tingkat Stres dan Status Sosial
Ekonomi Orang Tua dengan Perilaku Merokok
Pada Remaja -Juli 2009.

sumber : psikologi.or.id