Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Kapuslitbang Kehidupan Keagamaan, Islam Nusantara, Islam Rahmatan Lilalamin

Oleh Admin 15-10-2015 22:44:24

Jakarta (Pinmas) —- Konsep Islam nusantara itu adalah maslahat, dalam artian Islam yang rahmatan lilalamin, bisa diterima oleh semua kalangan untuk menciptakan kehidupan yang akur, aman dan damai, tidak menginginkan adanya bentrok satu sama lain. Islam diperkenalkan oleh ulama dan para pendahulu itu dengan kedamaian bukan peperangan, walau sekarang banyak masuk Islam garis keras.

“Islam nusantara yang didengung-dengungkan saat ini kiranya merupakan barometer penyatu bangsa agar tetap akur sehingga menjadi bangsa yang damai,” demikian paparan Kepala Puslitbang Kehidupan KeagamaanMuharram Marzuki dalam paparan pembuka acara Bedah Buku “Islam Nusantara” (Dari Usul Fiqih Hingga Faham Kebanggasaan) di Lantai 3 Kementerian Agama Jalan Thamrin, Jakarta, Selasa (13/10).

Muharam mengatakan, penyebaran ajaran Islam di Indonesia melalui dari berbagai jalur, salah satunya masuk dari jalur perangkat budaya, hal ini tidak dapat dipungkiri banyak menyisakan perpaduan budaya dan ajaran Islam itu sendiri, yang pada hakikatnya akan melahirkan faham-faham keagamaan. 

Ia mengilustrasikan, budaya wayang yang merupakan bagian dari ritual agama politeisme, namun kemudian diubah menjadi sarana dakwah dan pengenalan ajaran monoteisme, yang kemudian ini menjadi suatu kreativitas yang luar biasa, sehingga masyarakat diislamkan melalui jalur budaya wayang ini. Bahkan persoalan sholat yang pakai Qunut atau tidak terkadang menjadi permasalahan, selain itu, persoalan zakat yang dahulu dalam bentuk gandum, yang kemudian dengan ijtihad para ulama, gandung digantikan dengan beras. 

“Ini dapat dikatakan bahwa proses pengislaman budaya nusantara oleh para ulama terdahulu dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya melebur menjadi entitas baru yang kemudian kita kenal sebagai “Islam Nusantara,” kata Muharam. 

Akhmad Sahal yang menjadi editor buku “Islam Nusantara” (Dari Usul Fiqih Hingga Faham Kebanggasaan) menyampaikan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang kaffah, Islam yang berbasis maslahat bagi sesama. Dalam hal ini, kemaslahatan yang dimaksud adalah kemaslahatan dunia dan kemaslahatan akhirat yang terangkum dalam bingkat syariah. 

“Pada titik itulah, bisa dikatakan bahwa keterkaitan antara menjadikan kemaslahatan sebagai acuan utama syariat disatu sisi, dengan tuntutan untuk mempertimbangan kebutuhan lokal dalam perumusan maslahat tersebut disisi lain, dan kemudian menjadi salah satu landasan ushul fiqh yang mendasari konsepsi ‘Islam nusantara,” kata Sahal.

Sementara itu, Najib Burhani peneliti LIPI yang menjadi Narasumber kedua dalam bedah buku tersebut menyampaikan pandangannya terkait buku tersebut bahwa Islam nusantara sudah ada sejak dulu. Menurutnya, Islam Nusantara merupakan model ajaran Islam yang tepat diterapkan pada sebuah bangsa yang majemuk. 

“Islam Nusantara adalah ajaran Islam yang menekankan pada prinsip-prinsip ajaran yang moderat (wasatiyah), inklusif, toleran (saling menghormati), tidak mengklaim hanya agama senidiri yang benar, bersatu dalam keragaman (Bhineka Tunggal Ika/”Unity in Diversity”),  berdasarkan pada UUD 1945, dan ideologi Pancasila dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, ternyata berhasil mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia yang sangat majemuk,” ucap Najib. (rief/dm/dm).

sumber : kemenag.go.id