Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/specweb/public_html/sch-id/util/konek.php on line 9

Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 5

Notice: Undefined index: SESSTAMUGURU in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/judul.php on line 17

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Naif Bahri, Komunikator PPIH Dalam Identifikasi Jenazah di Muaishim

Oleh Admin 15-10-2015 22:50:01

Makkah (Pinmas) —- Peristiwa Mina yang terjadi pada Kamis (24/09) lalu telah menelan banyak korban, termasuk 127 jamaah haji Indonesia yang sudah dirilis Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pada Selasa (13/10) lalu. Seluruh korban Mina disemayamkan di tempat pemulasaraan jenazah di Mu’aishim. 

Oleh pihak Mu’aishim, tiga hal dilakukan kepada pra syuhada itu, yaitu: mengambil foto, sidik jari, dan sampel DNA. Beberapa property yang melekat pada jenazah juga disimpan secara khusus oleh pihak Mu’aishim sebagai data pendukung identifikasi. Sehari (baca 1 × 24 jam) setelah kejadian, PPIH bersama panitia dari berbagai negara lainnya baru diberi akses untuk melihat ribuan foto yang didisplay pada dua ruang gallery di Mu’aishim.

PPIH Arab Saudi mengirim 4 petugas yang tergabung dalam tim identifikasi. Mereka adalah Letkol Jaetul Muchlis selaku ketua (Kemenag dari unsur TNI), Naif Bahri (temus), dr. Taufik Tjahjadi (Kemenkes), dan Fadli Ahmad (KJRI). Dipimpin Muchlis, keempat anggota tim ini segera bergerak ke Mu’aishim bersamaan dengan mandat  yang diberikan langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Tugas pokok mereka adalah mengidentifikasi jenazah jamaah haji korban peristiwa Jalur 204 Mina.

Bekerja pada instansi negara orang, tentu berbeda dengan ketika berada di negeri sendiri. Apalagi masalahnya sensitif, terkait jamaah haji yang wafat. Tim identifikasi dituntut hati-hati untuk memastikan setiap hasil identifikasi mereka bersifat valid dan presisi. Namun, belum sampai pada persoalan hasil, mereka sudah dihadapkan pada tantangan keterbatasan akses yang diberikan.

Mengidentifikasi jenazah hanya dengan melihat foto tentu bukan pekerjaan mudah. Diperlukan data-data pendukung hingga hasil identifikasi lebih valid dan pasti. Sementara akses terhadap file (arsip) dokumen belum diberikan, tim memutar otak. Dalam konteks inilah, Naif Bahri (33) selaku tenaga musiman yang bahkan lahir dan besar di Arab Saudi memainkan peran pentingnya.

Nama lengkapnya Naif Bahri Basri Marjan, lahir di Makkah, 16 April 1982. Layaknya anak Arab yang dibesarkan di tanah kelahiran Nabi, Naif Bahri dianugerahi kemampuan berbahasa Arab yang baik. Meski wajah Indonesia karena Bapak dan Ibunya adalah orang Palembang, namun kemampuan bahasanya seperti seorang native speaker. Kemampuan ini pulalah yang digunakan Naif Bahri untuk menjadi komunikator tim PPIH Arab Saudi, khususnya dalam melakukan pendekatan-pendekatan yang sifatnya informal dan kultural.

Jaetul Muchlis selaku ketua tim identifikasi PPIH mengakui hal ini. Menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan tim PPIH untuk dapat memaksimalkan akses foto yang sudah diberikan dan mengakses dokumen yang saat itu belum juga diberikan, adalah melakukan proses pendekatan informal dan kultural.  

Naif Bahri (33) yang lahir dan besar di Saudi sehingga tahu bahasa dan kultur orang-orang Saudi, dikatakan Muchlis berada pada posisi terdepan untuk melakukan tugas negosiasi ini. “Pak Naif ini yang  tahu kultur, bahasa, dan habitnya orang Arab sini. Dia  tahu  hal-hal yang bisa menyentuh dan mempererat silaturahmi sehingga mereka bisa lebih terbuka. Itu kami lakukan,” ujarnya. 

“Kalau mungkin lazimnya orang sini harus peluk kiri-kanan, cipika-cipiki,  kita lakukan semua itu. Kita ekspose apa yang mereka senangi. Kita perkenalkan Indonesia sehingga ada komunikasi. Kalau ada komunikasi, terjalin harmoni di antara kami dengan mereka. Inilah jalan akses kami masuk ke situ,” tambahnya.

Senada dengan Muchlis, anggota tim dari unsur Kementerian Kesehatan, Taufik Tjahjadi, melihat pentingnya komunikasi awal dalam menjalin hubungan dengan para petugas di Mu’aishim.  Karenanya, keberadaan Naif memang cukup signifikan. Selain bisa berbahasa Arab, menurut Taufik, Naif juga tidak mudah menyerah. 

Naif (33) mengiyakan apa yang disampaikan ketua timnya, Jaetul Muchlis dan sejawatnya Taufik. Dia mengaku mudah bergaul akrab dengan orang Arab, meski dia adalah orang yang baru dikenal. Orang Arab katanya bahkan sering kaget ketika melihat wajahnya yang khas  Indonesia tapi  lancar berbahasa Arab. “Saya bisa gunakan bahasa Arab sehingga bisa ambil informasi. Saya bilang mau data ini langsung dikasih. Itu karena ada kemampuan bahasa, apalagi saya juga tahu sifat orang Arab,” terangnya.

Naif sadar betul kalau kemampuan  bahasa Arabnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan awal. Langkah selanjutnya adalah membantu pekerjaan orang Arab karena mereka senang kalau dibantu. “Saya tahu orang Arab, kalau kita mau bantuin, dia suka. Orang Arab di sini senang kalau kita bantu. Misalnya, kita bantu pekerjaan mereka mengarsip dokuman, dia suka. Ya sudah kita bisa sekalian ambil data yang kita mau,” tuturnya. 

Meski demikian, Naif mengaku kendala tetap saja ada. Kalau ada masalah, dia pun mencoba mencari jalan lain. Kalau bertemu dengan satu petugas yang sulit untuk dimintai tolong, maka dia akan beralih ke petugas lainnya, begitu dan seterusnya. “Ini gak bisa jalan, saya cari yang lain yang bisa,” katanya.

Walhasil, akses terhadap arsip (file) jenazah diperoleh. Berbeda dengan gedung galeri foto, tempat penyimpanan file ini berada pada gedung yang sama dengan tempat pemulasaraan jenazah. Persisnya pada ruang yang bersebelahan. Terbayang, perjuangan akan semakin berat mengingat jarak yang semakin dekat dengan posisi jenazah yang usianya terus bertambah. Bau yang dirasa pun semakin menyengat.

Tidak masalah bagi Naif dan tim, terpenting adalah akses terhadap file bisa didapat. Sebagai Ketua Tim, Muchlis mengaku kalau proses pendekatan yang dilakukan Naif dan tim tidak segampang yang dibayangkan. Maklum, di Mu’aishim ada banyak polisi yang ide dan pikirannya tidak sama semua. Tidak jarang kebijakan  berubah karena antara satu dan lainnya memang berbeda. Akibatnya, akses pun tidak selalu mudah untuk diperolehnya.

“Setiap saat bisa berubah. Nah yang saya lihat di sini bahwa ketentuan penanganan emergency yang seperti kejadian ini belum ada protap yang jelas. Atau mungkin kita tidak tahu tentang protap itu,” jelas Muchlis.

“Mungkin satu orang mempersilakan kita mengakses buka file di gudang arsip mereka, tapi satu orang lagi melarangnya. Nah inilah terjadi friksi-friksi yang kami hadapi. Tapi dengan berbagai upaya bagaimana tim ini bisa mencari titik-titik atau celah sekecil apapun untuk bisa masuk dan mendapatkan akses orang yang ada di sini,” imbunya.

Tidak adanya peraturan yang baku dalam penanganan jenazah di Mu’aishim juga diakui Taufik sebagai salah satu kendala. Taufik mengaku merasakan sendiri bagaimana dirinya terkadang bisa mendapat akses untuk melihat file dan terkadang sama sekali  tidak bisa. Menurutnya, diusir petugas saat akan mengidentifikasi menjadi hal biasa. Karenanya, ketika akses itu tidak diberikan, Taufik dan tim bukannya  pulang, tapi menunggu kesempatan berikutnya.

“Kita tidak pulang. Kita sudah tahu bahwa kayak begini kerja mereka. Jadi kita harus sabar. Paling geser aja dulu, nanti sebentar yang lain lagi ajak kita masuk. Walaupun pada akhirnya kita diusir lagi, itu tidak masalah,” tegasnya.

“Jadi memang dibutuhkan kesabaran, karena tidak ada yang pasti. Saya selalu mengatakan bahwa yang pasti di sini itu cuma satu, yaitu ketidakpastian,” tambahnya. 

Apapun dan bagaimanapun keadaannya, Naif dan tim bersyukur. Sebab, sebatas yang diketahuinya, tim identifikasi Indonesia menjadi satu-satunya atau yang pertama yang berhasil mengakses gudang arsip jenazah di Mu’aishim.

Diakui atau tidak, Naif Bahri dengan kemampuan bahasa dan pengetahuan kultur Arabnya sukses memainkan perannya sebagai komunikator tim PPIH dengan Pihak Mu’aishim. Pencarian pun dilakukan pada tahapan berikutnya. Bermodalkan hasil identifikasi foto, tim ini kemudian mencocokkannya  dengan arsip milik polisi Mu’aishim sesuai dengan nomor register yang tercatat di foto. 

naifnaifnaifnaifnaifnaif

Naif mengaku, dalam menjalankan tugasnya, kadang dia juga suka memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bisa memperoleh (baca: “mencuri-curi”) data. Memanfaatkan aplikasi di handphone, Naif terkadang memotret objek, meski secara tersembunyi namun gambar yang diperoleh tetap presisi.  Kalau ada petugas yang lagi memfotocopy data, Naif juga suka meminta agar dilebihkan dan itu untuk dirinya. Itu semua dilakukan untuk mempercepat proses identifikasi jenazah jamaah haji Indonesia.

Pelan tapi pasti, jenazah demi jenazah berhasil diidentifikasi. Sampai dengan hari ini, Rabu (14/10), 126 jenazah dipastikan orang Indonesia, terdiri dari 121 jenazah jamaah haji dan 5 jenazah yang mukim di Arab Saudi. Selain itu, ada satu jamaah haji Indonesia korban Mina yang wafat di rumah sakit setelah sebelumnya  dirawat di ICU RS King Fahd Jeddah. Proses identifikasi tetap berlanjut karena masih ada 2 jamaah haji Indonesia yang dilaporkan belum kembali.

Terima kasih kami buat Naif Al-Falimbani!!!

sumber : kemenag.go.id