Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Kisah Tim Identifikasi Jenazah, Taufik Tjahjadi: Pantang Pulang Meski Diusir

Oleh Admin 15-10-2015 22:57:05

Makkah (Pinmas) —- Sebagai seorang dokter, mengidentifikasi jenazah mungkin menjadi hal biasa bagi Taufik Tjahjadi, salah satu anggota tim identifikasi jenazah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Hal itu setidaknya dalam pantauan tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah, nampak pada ekspresi wajahnya yang datar, meski melihat ratusan bahkan ribuan jenazah berjajar.

Namun, mendapat tugas dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin untuk mengidentifikasi jenazah jamaah haji Indonesia yang wafat pada peristiwa Mina di Tempat Pemulasaraan Jenazah Mu’aishim memberi kesan tersendiri baginya. Menurutnya, untuk melaksanakan tugas negara ini, dibutuhkan kesabaran ekstra.

Kepada Tim MCH Daker Makkah, Kamis (08/10), pria kelahiran Makassar tahun 1955 ini sempat berbagi kisah tentang kesabaran tim identifikasi jenazah di Muaishim. Tim ini terdiri dari 4 orang, yaitu: Jaetul Muchlis (ketua), Taufik Tjahjadi, Naif Bahri, dan Fadli Ahmad. Kesabaran itu penting karena menjadi modal dasar semangat, “pantang pulang meski diusir”.

Menurutnya, kerja identifikasi jenazah di Muaishim membutuhkan kesabaran karena alasan ketidakpastian. “Jadi memang dibutuhkan kesabaran karena tidak ada yang pasti. Saya selalu mengatakan bahwa yang pasti di sini itu cuma satu, yaitu ketidakpastian,” kenang Taufik.

Ketidakpastian itu, lanjut Taufik, salah satunya karena “tidak ada” peraturan yang baku di Muaishim. Akibatnya, proses identifikasi kadang berjalan lancar karena dipermudah aksesnya, namun tidak jarang mentok pada tembok besar. “Kadangkala kita bisa melihat file jenazah, kadangkala tidak bisa. Padahal untuk mengidentifikasi, selain foto kita juga perlu melihat data pendukung dalam arsip jenazah,” tutur Taufik.

Seluruh korban Mina disemayamkan di tempat pemulasaraan jenazah di Mu’aishim.  Oleh pihak Mu’aishim, tiga hal dilakukan kepada pra syuhada itu, yaitu: mengambil foto, sidik jari, dan sampel DNA. Beberapa property yang melekat pada jenazah juga disimpan secara khusus oleh pihak Mu’aishim sebagai data pendukung identifikasi. 

Sehari (baca 1 × 24 jam) setelah kejadian, PPIH bersama panitia dari berbagai negara lainnya baru diberi akses untuk melihat ribuan foto yang didisplay pada dua ruang gallery di Muaishim. Setelah beberapa hari melakukan pendekatan informal dan kultural, akses terhadap file atau arsip jenazah dibuka, tapi juga terbatas dan tergantung nasib karena tidak semua petugas di Muaishim mengizinkannya.

“Kalau kita sudah dikatakan tidak bisa,  kita tidak pulang. Kita tetap di situ melihat siapa lagi yang bisa diajak komunikasi. Jika dalam proses  komunikasi itu, ada petugas lain yang mengajak  masuk,  kita masuk lagi. Walaupun pada akhirnya kita diusir lagi, itu tidak masalah,” tuturnya.

“Diusir itu hal biasa. Kita sudah tahu bahwa kayak begini kerja mereka jadi kita harus sabar. Paling geser aja dulu, nanti sebentar yang lain lagi ajak kita masuk,” tambahnya.

Bahkan, menurut sosok yang pertama kali menjadi petugas haji sebagai Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHIH) pada tahun 1998 ini, terkadang ada juga petugas yang pada satu hari sangat baik, esok harinya tidak tahu karena alasan apa bisa menjadi pribadi yang mudah marah. “Kalau ketemu “malaikat”, ada petugas yang kita baru mau  mencari informasi tentang file jamaah haji Indonesia yang menjadi korban,  dia malah sudah memegang dokumennya dan langsung dikasihkan. Itu juga pernah terjadi sekali,” tuturny. 

Meski demikian, Taufik mengaku menikmati tugas yang diberikan oleh negara ini. Baginya, jika tugas itu dinikmati, maka tidak ada yang berat. “Semua pekerjaan dinikmati dan ikhlas, intinya di situ, tidak akan menjadi berat,” pesannya. 

“Coba bayangkan kalau misalnya  kita dikatakan, keluar..keluar…tidak boleh di sini, itu kalau yang lain pada pulang. Kalau kami tidak. Duduk saja dulu. Nanti ada yang lewat tegur-tegur kami, mulai bertanya-tanya, oh ya sini (disuruh masuk ke ruang arsip, red).  Jadi ada saja. Nah di situ seninya. Kalau itu dinikmati, jadi indah,” katanya lagi.

Kepada tim MCH, Taufik juga berbagi kisah tentang proses yang dilakukan tim dalam mengidentifikasi jenazah. Proses itu menurutnya diawali dengan melihat foto-foto jenazah yang dipamerkan. Foto-foto itu kemudian dikomparasikan dengan  foto jamaah yang dilaporkan belum kembali ke kloternya, juga dengan data-data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama. 

Untuk menguatkan identifikasi, tim juga mengakses file atau arsip property yang menempel pada tubuh korban yang disimpan oleh pihak Muaishim. Proses inilah yang menurut Taufik dibutuhkan kesabaran karena aksesnya tidak dibuka secara luas. “Dari  foto yang kita duga jamaah haji Indonesia,  kita cocokan dengan berkasnya. Berkas yang  ada di situ kadangkala berupa gelang, atau lainnya,” jelasnya. 

Selain gelang, ada juga arsip jenazah itu dalam bentuk tas paspor, ktp, atau id card yang menyebut kloter dan nama. Arsip-arsip ini penting, terlebih yang memuat nama jenazah, karena  PPIH juga membentuk  tim yang mengidentifikasi jamaah haji Indonesia  yang dilaporkan belum kembali. “Nama itulah yang kita cocokkan kloter dan embarkasinya,” katanya.

Kalau identitas tidak ditemukan dalam file, padahal yakin bahwa temuan itu adalah jenazah orang Indonesia, tim lalu mencoba meminta izin untuk melihat jenazah langsung. Karena menurutnya,  di jenazah terkadang masih ada identitas, misalnya gelang, yang belum dilepas. “Nah, dari gelang itulah kita nyatakan bahwa ternyata orang yang difile nya tidak ada, itu ada gelangnya,” ujarnya. 

Hal semacam ini, lanjut Taufik, pernah ditemuinya. Dicek pada file tidak ada isinya, tapi  ternyata ada gelang yang menempel di tangannya sehingga bisa dibuktikan  bahwa itu jenazah orang Indonesia. Selain itu,  untuk lebih meyakinkan, hasil identifikasi  ini kemudian dipersaksikan, minimal keluarga (kalau ada), ketua regu, atau anggota regu dan tentu petugas kloter yang ada. “Itu yang menguatkan sehingga bisa dinyatakan bahwa orang tersebut adalah sesuai dengan temuan tersebut,” katanya.

Sebagai seorang dokter, Taufik mengakui bahwa cara seperti ini adalah konvensional. Namun demikian, hal itu bukan berarti hasilnya tidak akurat. Sebab,  wajah jenazah juga masih bisa dikenali sehingga bisa dibuktikan. 

Belajar dari peristiwa ini, Taufik berharap ke depan proses identifikasi jamaah haji Indonesia lebih diperhatikan. Menurutnya, perlu dipikirkan agar  gelang yang menjadi identitas jamaah tidak mudah dilepas. Selain itu, karena penulisan di Arab Saudi umumnya menggunakan huruf Arab, Taufik menyarankan agar nama yang tertera pada gelang jamaah juga ditulis dalam huruf Arab, selain huruf latin. Sebab, tulisan nama Indonesia yang disadur dalam huruf Arab oleh pihak Muaishim terkadang  jauh sekali bedanya. “Jadi alangkah indahnya kalau nama kita sudah ditulis Arab. Jadi nama itu  ada tulisan arabnya. Ketika mereka melihat gelang itu, tinggal disalin saja sesuai dengan tulisan itu,” harapnya. 

Pelan tapi pasti, jenazah demi jenazah berhasil diidentifikasi. Sampai dengan hari ini, Kamis (15/10), 126 jenazah dipastikan orang Indonesia, terdiri dari 121 jenazah jamaah haji dan 5 jenazah yang mukim di Arab Saudi. Selain itu, ada satu jamaah haji Indonesia korban Mina yang wafat di rumah sakit setelah sebelumnya dirawat di ICU RS King Fahd Jeddah. Proses identifikasi tetap berlanjut karena masih ada 2 jamaah haji Indonesia yang dilaporkan belum kembali.

Terima kasih kami untuk kesabaran Tim Identifikasi!!!

sumber : kemenag.go.id