Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/specweb/public_html/sch-id/util/konek.php on line 9

Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 5

Notice: Undefined index: SESSTAMUGURU in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/judul.php on line 17

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Manasik Haji 2016 Dilakukan Berbasis Regu, Bukan Kloter

Oleh Admin 07-11-2015 08:31:57

 

Jakarta (Pinmas) —- Kementerian Agama mempercepat pelaksanaan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2015. Seminggu setelah berakhirnya operasional haji, Kemenag menggelar Rapat Seleksi Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 2015 dari tanggal 3 – 5 November mendatang.

Ada tiga hal mendasar yang menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin  harus dilakukan mendasar. Salah satunya adalah pola pembinaan manasik bagi jamaah haji Indonesia. “Saya ingin jamaah kita sistem pembinaan manasik haji nya harus berbasis regu, bukan kloter,” tegas Menagsaat memberikan sambutan pada pembukaan Rakernas, Jakarta, Selasa (03/11) lalu.

Menag memandang,  proses pembinaan yang berbasis kloter selama ini kurang efektif karena rentang kendali ketua kloter terhadap jamaahnya sangat jauh.   “Sehebat apapun, jika ketua kloter harus mengayomi 360 sampai 400 an jamaah itu tidak mungkin. Kalau mau ke jamarat misalnya, dia harus membariskan jamaahnya satu kloter itu sudah sangat tidak efektif dan rawan,” kata Menag. 

“Karenanya, basis pembinaan itu harus regu, yang terkecil. Lalu diampu oleh rombongan, baru kloter. Dengan demikian, setiap jamaah itu cukup merujuk kepada ketua regunya masing-masing,” tambahnya. 

Secara teknis, Menag meminta Direktur Pembinaan Haji dan Umrah untuk bisa melakukan langkah-langkah strategis sehingga  jamaah haji Indonesia benar-benar bisa menguasai dan memahami manasik haji. “Kita tidak boleh lagi menjumpai jamaah kita yang tidak mengerti apa-apa sesampainya di Tanah Suci. Kalaulah mereka dalam kondisi seperti itu, mungkin karna faktor usia dan lainnya, setidaknya ketua regu bisa tahu persis kondisi jamaahnya masing-masing,” jelasnya. 

Selain itu, demi keselamatan jiwa jamaah, Kementerian Agama bersama MUI akan membahas sejumlah aturan yang harus dipatuhi jamaah haji Indonesia. Aturan itu antara lain mencakup persoalan  Fiqhiyah tentang Tarwiyah jadwal menuju Jamarat. “Demi keselamatan jamaah haji, saya berharap nanti bersama MUI kita akan lebih tegas membuat garis-garis mana yang boleh dan mana yang tidak.  Kita juga akan  lebih intensif  berdialog dengan KBIH sehingga tercapai persepsi yang sama. ini semata-mata demi keselamatan jiwa jamaah haji kita,” ujar Menag. 

Hal mendasar lain yang perlu diperbaki dalam penyelenggaraan haji 2015 menyangkut tanda pengenal jamaah haji. Menag memandang  sudah waktunya jamaah haji memiliki tanda pengenal yang bisa dimonitor oleh petugas. Menurutnya, kejadian seperti peristiwa Mina itu bisa terjadi kapanpun, meski kita tidak menghendakinya. Sebab, ketika lebih dari dua juta orang berkumpul di tempat yang sama, banyak hal bisa terjadi, termasuk jamaah hilang, kesasar, atau lainnya. “Karenanya harus dipikirkan betul bagaimana tanda pengenal jamaah, tidak hanya sekedar sebagai identitas yang bersangkutan, tapi memudahkan petugas untuk memonitor keberadaan mereka,” jelasnya. 

Hal mendasar yang ketiga terkait dengan jamaah beresikok tinggi atau risti. Data 2015, jamaah yang wafat  cukup besar, mencapai  676 orang, terdiri dari 38  wafat di Tanah Air dan  638 wafat di Tanah Suci. Angka ini termasuk 12 orang yang wafat pada peristiwa jatuhnya crane di Masjidil Haram dan 125 orang yang wafat pada perisitwa Mina. “Di luar dua peristiwa itu, ada lebih 500 jamaah haji kita yang wafat. Artinya ini angka yang tertinggi dibanding tahun lalu,” ujarnya. 

Secara pribadi, Menag berpandangan bahwa jamaah lansia sejatinya tidak masalah selama dia sehat. Menurutnya, yang berpotensi menjadi masalah adalah jamaah yang beresiko tinggi (risti). “Pandangan saya pribadi, demi menjaga keselatan jiwa yang bersangkutan, sebaiknya jamaah risti  ditunda untuk berangkat haji. Mereka bisa diberikan kesempatan dua musim haji berikutnya dengan asumsi terjadi pemulihan kesehatannya,” ujarnya. 

“Tapi jika sejak di Tanah Air kita sudah tahu bahwa yang bersangkutan itu risti lalu juga harus ke Tanah Suci dalam kondisi Tanah Suci seperti itu,  udara sangat panas,  saya pikir mungkin kita bukan pada tempatnya mengambil kebijakan seperti itu (memberangkatkan mereka),” tambahnya. 

Menag mengaku sudah berbicara dengan beberapa tokoh di MUI dan  sebagian besar mereka bisa memahami. Tinggal bagaimana  Kemenkes nantinya memberikan tolak ukur dan kriteria jamaah yang masuk kategori risti itu seperti apa. (mkd/mkd)

 

http://kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=303430