Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Menag Resmikan Tiga Fakultas Baru UIN Walisongo Semarang

Oleh Admin 07-11-2015 08:33:22

 

Semarang (Pinmas) – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kini resmi memiliki tiga fakultas baru, yaitu Fakultas Psikologi dan Kesehatan, Fakultas Sains dan Teknologi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Peresmian dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kampus UIN Walisongo, Rabu (4/11) sekaligus penandatanganan prasasti peresmian gedung perkulian baru.  Hadir dalam acar tersebut Rektor UNDIP Semarang Yos Johan, Kakanwil Kemenag Jateng Ahmadi, sejumlah pendiri UIN Walisongo, dan civitas akademika UIN Semarang.

Berkaitan dengan penambahan dan perubahan nama fakultas ini, Menag mengajak civitas akademika UIN Walisongo ke depan melakukan beberapa hal berikut: Pertama, jadikan UIN Walisongo ini sebagai lembaga pendidikan tinggi keagamaan Islam nasional dan dunia yang berkarakter keindonesiaan. Ciri khas budaya dan tradisi keislaman Jawa, lebih-lebih tradisi dan ajaran Walisongo, perlu direvitalisasi dengan tetap terbuka atas wacana pembaharuan dan pemikiran yang kontributif bagi pengembangan pendidikan nasional dan global. 

“Kita harus mampu menjadikan kampus UIN Walisongo ini sebagai kampus pembaharu pemikiran, keilmuan, riset dan teknologi secara nasional dan dunia dengan tetap teguh atas kekhasan lokalitasnya. Oleh karenanya, revitalisasi atas budaya dan kearifan lokal patut untuk dijunjung tinggi,” kata Menag. 

Kedua, Menag minta agar menjadikan UIN Walisongo ini sebagai kampus yang mampu membentengi dari pemikiran dan gerakan radikalisasi agama. Ancaman radikalisasi agama sangat kuat dan nyata, dan itu tidak bisa kita biarkan. 

“Kita harus hadapi mereka dengan mengembangkan pemikiran dan gerakan keislaman yang rahmatan lil’alamin, pemikiran dan gerakan keislaman yang damai, yang menjunjung tinggi demokrasi, hak asasi manusia, multikultural, dan semangat kemanusiaan, dengan tanpa meninggalkan identitas dirinya sebagai makhluk Tuhan yang harus selalu beribadah kepada-Nya,” ucap Menag. 

Dikatakan Menag, cara dan metode dakwah dan keagamaan yang dikembangkan oleh Walisongo patut diberikan ruang yang cukup. Dakwah yang dimaksud adalah dakwah yang menenteramkan dan menyejukkan umat, bukan dakwah yang mencaci maki atau menghegemoni pemahaman keagamaan. 

“Umat Islam Indonesia sungguh membutuhkan dan mendambakan lulusan pendidikan Islam yang mampu menyatukan dan meneguhkan kebersamaan, bukan menyalahkan dan menyudutkan,” imbuhnya.

Ketiga, Menag kembali mengingatkan kepada civitas akademika UIN Walisongo, bahwa dengan bertambahnya sejumlah fakultas baru ini, bukan berarti kita lalai atau meninggalkan sejumlah fakultas yang justeru menjadi identitas lembaga pendidikan keagamaan tinggi kita. 

“Fakultas-fakultas yang menjadi ciri “keagamaan” pada UIN Walisongo harus diperkuat,” tandas Menag. 

Bagi Menag, ini patut disikapi, mengingat belakangan mulai terjadi fenomena dengan transformasinya lembaga dari IAIN menjadi UIN, misalnya, itu menjadikan fakultas atau program studi agama yang awalnya menjadi ciri dari IAIN dan sekaligus keagamaannya malah justeru semakin tertinggal dan “sepi peminat”. 

“Untuk itu, ke depan perlu dilakukan antisipasi secara serius,” kata Menag.

Keempat, Menag mendorong agar menjadikan UIN Walisongo memiliki jaringan kerjasama (networking) yang luas, baik dalam pengembangan akademik, perpustakaan, sarana prasarana, maupun akses pemanfaatan lulusan. 

“Kerjasama tidak hanya bersifat nasional, tetapi juga terhadap sejumlah lembaga dan kampus berskala dunia. Kreativitas dan pemikiran out of the box juga diperlukan demi pengembangan kampus yang lebih baik,” ucapnya. (dm/dm).

 

http://kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=303367