Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Kakanwil: Rohis, Ajang Praktekkan PAI

Oleh Admin 09-11-2015 09:13:56

 

[Kota Jantho | Yakub]  “Kepada peserta dapat mengambil bahan-bahan rumah tangga,” arahan panitia lokal, yang berkostum Kwarda Aceh 2014, di Bumi Perkemahan Kota Jantho, usai acara Perkampungan Kerohaniaan Islam (Rohis) dibuka secara resmi oleh Panglima Komando Daerah Iskandar Muda (Pangdam IM), Mayjen TNI Agus Kriswanto, Ahad (8/11).

Lantas perwakilan peserta, dari SMA/SMA dari 23 daerah Aceh pun terpencar, bergegas ke sekretariat, sebagian ke kemah, dan sebagian tetap di teratak pembukaan, rapatkan agenda pagi dan siang. Puluhan tenda dan kemah sudah dipasang siang dan malam sebelumnya, ada yang bertuliskan ‘kabupaten’, ‘kecamatan’, dan ‘gampong’. Ada buat putra dan juga untuk putri, makanya tidak bercampur. 

“Perkampungan yang dimulai sejak Sabtu-Kamis (7-12/11), diikuti 400 siswa. Terdiri dari 168 siswa SMK, dan 332 siswa SMA, serta 47 pendamping. SMK mengirimkan 2 putra dan putri, dan SMA 5 putra dan putri, per kabupaten/kota,” sambung Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Aceh Drs H M Daud Pakeh, dalam laporan acara pembukaan, yang diawali dengan pembacaan Kalam Ilahi oleh Ustadzah Syarifah Rahmah SAg, dan diakhiri dengan doa oleh H Sayed Khawaled MA, yang baru pulang dari Madinah (petuga kloter).

 

“Usai pembukaan, anak kami, peserta perkampungan, silakan buat rapat, cukup lima menit, rancang langkah pertama untuk ‘membina rumah tangga’, dan ‘memilih geuchik’,” sambung MC dari panitia lagi. Sedangkan saat pembukan, MC memang dari kru TVRI Aceh, ‘Kak Cut’ didampingi kameramen ‘Bang Very’.

Peserta yang duduk di kursi plastik, berbusana putih-hitam, memang pilihan yang dipilih oleh Seksi PAIS/PAKIS/PENDIS di Kankemenagnya, dan duduk tertib sambut sesi pembukaan. Di bawahnya lumpur lapangan itu, ikut ‘warnai’ sepatu dan bawahan celana peserta. Sementara kamar mandi telah dirampungkan panitia, dan arah ke sungai pun dekat dari arena.

“Ini tantangan tersendiri, jika tidak becek, tentu tidak ada tantangannya,” sisip Kakanwil dalam laporan, selaku Pengarah acara perdana di Aceh itu. Ke lokasi ‘perkampungan’, kita harus lewati perkampungan Meusara Jantho, setelah turun jalan, dari komplek perkantoran, dan jalan di depan DPRK itu.

Acara Kerohanian Islam (Rohis) merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di luar jam pelajaran. Tujuannya untuk menunjang dan membantu mewujudkan keberhasilan pembinaan moral siswa. Rohis sangat penting sebagai wadah untuk melakukan pengembangan dan pembinaan keagamaan siswa di sekolah.

“Ini ajang mengimplementasikan materi Pendidikan Agama Islam (PAI) di/dari sekolah,” jelas Kakanwil pada kru media, sebelum bertolak ke Kota Subulussalam, jelang peringatan Hari Aksara Internasional atau HAI (8 November).

Menurut Kakanwil, dengan membentuk Rohis, sekolah terbantu dalam pengajaran bimbingan keislaman. Karena materi yang tidak diajarkan di sekolah bisa diajarkan di Rohis. Seperti baca tulis Al-Quran, hapalan Quran, pemahaman lebih mendalam materi di sekolah, hingga belajar berorganisasi.

“Perkemahan Rohis se Aceh, yang kita laksanakan Sabtu kemarin hingga Kamis (7-12 November 2015), di Bumi Perkemahan Kota Jantho, yang diikuti oleh siswa sekolah, kita lahirkan marwah manfaatnya lebih besar. Dan yang penting output kerohisan yang kita gapai nanti. Siswa mampu bagikan aplikasi perkampungan ini di lingkungan dan sekolahnya,” jelas Kakanwil di hadapan para unsur Forkompimda Aceh dan Aceh Besar, para Kakankemenag (yang mewakili), dan undangan.

Dalam sambutannya, Kadisdik yang diwakili Kabidmennya (Kadisdik di Subulussalam dalam rangka HAI), sampaikan persoalan PAI masa kini, dan tantangan guru sekarang. “Nilai PAI jadi persyaratan kelulusan dan naik kelas, berbeda dengan 15 dan 20-an tahun lalu,” sindir Hamdizar SPd.

Selama perkampungan, sejumlah agenda acara siswa SMA/SMK se Aceh, bukan seperti acara pramuka, meski berpola pramuka. Di sini anak-anak akan disajikan aktivitas yang sarat dengan lomba, dan latihan ‘membina rumah tangga’, ‘gampong’, ‘mukim’, ‘kecamatan’, dan ‘kabupaten’.

“Di sini telah hadir 23 kabupaten/kota yang ikut, plus satu kabupaten, namanya ‘Kabupaten SMA Modal Bangsa’ (Mosa). Sebab SMA itu selamanya tidak ikut, jika tidak kita undang, karena SMA Mosa itu, ke Banda Aceh pun tidak bisa ikut, dan ke Aceh Besar pun tidak bisa ikut. Kita tahu di sana ada potensi besar, maka kita undang mereka bergabung ke sini,” jelasnya.

Acara di sini, di antaranya aneka musabaqah yaitu: khutbah, hifdzil quran, CC islami, sajak, dan penampilan bakat lainnya. Ada juga seminar Rohis, khusus bagi pendamping. Juga ada pembinaan pengkaderan. Ada juga di dalamnya nanti zikir bersama, shalat, bahkan manasik. Semua di lapangan.

“Dari acara yang perdana di Aceh, dengan harapan terbentuk gampong islami. Harapan lain dari acara ini, pengamalan ajaran Islam meningkat. Harapan kita nanti, lewat pembinaan kampung, dan pemilihan geuchik, camat, dan bupati, sambung Kakanwil yang sampaikan laporan sebelum Pangdam Iskandar Muda (IM) Mayjen TNI Agus Kriswanto yang diwakili Dandim 0101/AB Letnan Kolonel Inf Riswanto membuka acara secara resmi.

Kodam IM ajak siswa bendung diri dari pengaruh negatif globalisasi dan kembangkan diri dalam kreatifitas, di samping berintelektualitas juga berkontribusi bagi sesama di sekolah dan dalam lingkungan, pascaacara Rohis. “Paling tidak nilai silaturrahmi bawa pulang dari sini,” kata Dandim, usai membaca sambutan Panglima.

Penyematan tanda peserta, akhiri sesi pembukaan, yang juga hadir para Kabid di Kanwil (yang mewakili) itu, sebelum foto bersama, antara Kakanwil/Kakankemenag dengan peserta. Hadir lebih awal, misalnya Kakankemenag Aceh Utara, Bireuen,  Nagan, dan Kepala UPT Asrama Haji Aceh.

Sebelum laporan Kakanwil dan sambutan Kadisdik yang diwakili Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdik Aceh Hamdizar SPd, Syarifah Rahmah SAg (dewan juri tahfizh dalam acara ini bersama Drs H Mukzi Abdullah dkk) yang juga lantunkan Kalam Ilahi, lanjutkan dengan lantunan Shalawat Badar.

Dan disambung dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lapangan becek (usai diguyur hujan semalaman) pun, terasa tidak jadi masalah, bagi peserta, panitia, dan undangan, serta juru kamera tentunya…. []

 

http://aceh.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=304267